Jacob Ereste: Idealisme Mahasiswa Harus Kita Jaga Bersama Sebagai Ahli Waris Negeri Ini

0
4 views
Bagikan :

Idealisme Mahasiswa Harus Kita Jaga Bersama Sebagai Ahli Waris Negeri Ini

Oleh : Jacob Ereste

JAKARTA,TelusuR.ID – Gelombang aksi dan unjuk rasa mahasiswa yang muncul sejak Agustus 2025 hingga hari ini tampaknya sedang dihadapkan pada sebuah operasi pembentukan opini yang sistematis. Aksi mahasiswa tidak lagi dilihat sebagai ekspresi kegelisahan intelektual terhadap persoalan bangsa, melainkan dicurigai sebagai gerakan pesanan yang ditunggangi kepentingan tertentu. Akibatnya, substansi kritik yang mereka suarakan tenggelam oleh narasi yang berusaha mendeligitimasi gerakan itu sendiri.

Yang mengherankan, tudingan semacam itu sering kali lebih ramai dibicarakan ketimbang persoalan yang sesungguhnya sedang dikeluhkan rakyat. Seolah yang menjadi masalah bukan kemiskinan, bukan sulitnya lapangan pekerjaan, bukan melemahnya daya beli masyarakat, bukan pula ketidakpastian ekonomi yang terus menghantui kehidupan rakyat kecil. Yang dipersoalkan justru mereka yang berani menyuarakan kegelisahan tersebut.

Padahal dalam negara demokrasi, aksi dan unjuk rasa merupakan bagian dari mekanisme koreksi sosial yang sah. Bahkan kehadirannya menjadi penanda bahwa masih ada warga negara yang peduli terhadap perjalanan bangsa. Ketika mahasiswa turun ke jalan, yang patut didengar pertama kali adalah isi tuntutannya, bukan buru-buru mencari siapa yang berada di belakangnya.

Lebih ironis lagi, tugas menyampaikan aspirasi rakyat sesungguhnya berada di pundak para anggota parlemen yang telah disumpah untuk memperjuangkan kepentingan masyarakat. Namun ketika saluran formal politik kehilangan kepekaan terhadap suara rakyat, jalanan sering kali menjadi ruang terakhir bagi publik untuk menyampaikan kegelisahannya.

Karena itu, anggapan bahwa setiap aksi mahasiswa selalu ditunggangi kepentingan asing atau kekuatan politik tertentu perlu disikapi dengan akal sehat dan kebijaksanaan. Tidak semua kritik adalah makar. Tidak semua demonstrasi adalah konspirasi. Dan tidak semua mahasiswa yang turun ke jalan kehilangan independensinya sebagai kaum intelektual.

Fakta menarik justru terlihat pada aksi mahasiswa terakhir pada Juni 2026. Sasaran aksi diarahkan bukan ke Istana Negara, melainkan ke DPR di tingkat pusat maupun daerah. Pilihan ini mengandung pesan yang sangat jelas: mahasiswa sedang mengingatkan lembaga legislatif agar kembali menjalankan mandat rakyat yang selama ini dipercayakan kepadanya.

Peringatan Presiden Prabowo Subianto mengenai adanya pihak yang membiayai aksi mahasiswa tentu tidak boleh dianggap enteng. Jika memang ada aktor yang membeli gerakan mahasiswa dengan uang, maka persoalannya bukan lagi sekadar pelanggaran hukum, melainkan kejahatan moral terhadap masa depan bangsa. Sebab yang dirusak bukan hanya sebuah aksi demonstrasi, melainkan idealisme generasi muda yang selama ini menjadi benteng terakhir nurani publik.

Di tengah kondisi ekonomi yang masih menghadapi berbagai tekanan, ketika nilai tukar rupiah terus berhadapan dengan kuatnya dolar dan kehidupan rakyat semakin berat, mahasiswa dituntut memiliki ketajaman berpikir yang lebih kuat daripada godaan materi. Sebab sejarah telah mengajarkan bahwa perubahan besar tidak pernah lahir dari amplop, melainkan dari keberanian moral untuk mengatakan benar terhadap yang benar dan salah terhadap yang salah.

Mahasiswa tidak boleh kehilangan posisi sebagai kekuatan kritis bangsa. Mereka harus tetap menjadi penjaga akal sehat publik ketika banyak pihak mulai kehilangan keberanian untuk berbicara jujur. Sebab begitu idealisme mahasiswa berhasil dibeli, saat itulah masa depan bangsa mulai digadaikan sedikit demi sedikit.

Karena itu, siapa pun yang terbukti meracuni idealisme mahasiswa harus diusut secara tuntas. Bukan semata demi penegakan hukum, melainkan demi menjaga warisan moral bangsa yang kelak akan berpindah ke tangan generasi penerus. Sebab kerusakan terbesar dalam sebuah negara bukan hanya korupsi uang negara, tetapi korupsi nilai yang membuat generasi mudanya kehilangan integritas.

Menjaga mahasiswa berarti menjaga masa depan Indonesia. Menjaga idealisme mereka berarti menjaga harapan bangsa agar tidak tersesat dalam labirin kepentingan politik, ekonomi, maupun kekuasaan yang sering kali mengorbankan kepentingan rakyat.

Sebab pada akhirnya, negeri ini akan diwariskan kepada mereka. Dan kualitas masa depan Indonesia sangat ditentukan oleh kualitas karakter, integritas, kecerdasan intelektual, serta kedalaman spiritual mahasiswa hari ini.

Tangerang, 25 Juni 2026

Tinggalkan Balasan