125 Kader PDIP Jombang Tancap Gas ke Blitar, Tinggalkan Zona Nyaman demi Menjaga Api Perjuangan Bung Karno
JOMBANG,TelusuR.ID — Bulan Bung Karno kembali menjadi ruang konsolidasi ideologis bagi kader PDI Perjuangan. Bagi DPC PDI Perjuangan Kabupaten Jombang, ziarah ke Makam Bung Karno di Blitar bukan sekadar agenda tahunan yang bersifat seremonial. Kegiatan itu dimaknai sebagai ikhtiar merawat sanad perjuangan sekaligus meneguhkan keberpihakan politik kepada rakyat.
Sabtu, 20 Juni 2026, sekitar 125 kader bergerak dalam konvoi touring menuju Kota Blitar. Mereka berasal dari unsur pengurus DPC, anggota Fraksi PDI Perjuangan DPRD Kabupaten Jombang, hingga pengurus PAC se-Kabupaten Jombang. Satu pesan yang mereka bawa sama: api perjuangan Sang Proklamator tidak boleh padam di tengah perubahan zaman dan dinamika politik yang terus bergerak.
Sebelum menuju kompleks Makam Bung Karno, rombongan DPC PDI Perjuangan Jombang terlebih dahulu singgah di kediaman Ketua DPC PDI Perjuangan Kabupaten Blitar, Guntur Wahono. Pertemuan dua keluarga besar partai itu berlangsung hangat. Tak sekadar temu persaudaraan, perjumpaan tersebut menjadi penegasan bahwa soliditas kader merupakan modal utama menjaga kesinambungan perjuangan partai.

Di hadapan para kader, Guntur Wahono mengingatkan bahwa politik tidak boleh tercerabut dari nilai-nilai yang diwariskan Bung Karno.
“Dengan semangat api perjuangan, gotong royong dan persaudaraan, PDI Perjuangan bukan sekadar melanjutkan perjuangan Bung Karno, tetapi juga menjadi penyambung lidah rakyat. Bung Karno boleh tiada, tetapi api perjuangannya harus terus menyala di hati setiap kader. Merdeka!” kata Guntur.
Pesan itu menjadi pengingat bahwa perjuangan politik tidak berhenti pada perebutan kekuasaan semata. Politik, sebagaimana diajarkan Bung Karno, adalah alat perjuangan untuk menghadirkan keadilan sosial, membela wong cilik, dan menjaga kedaulatan bangsa.
Usai pertemuan tersebut, rombongan DPC PDI Perjuangan Jombang bersama kader Kabupaten Blitar bergerak menuju kompleks Makam Bung Karno. Dengan khidmat mereka mengikuti doa bersama dan tabur bunga di pusara Presiden pertama Republik Indonesia itu.

Sekretaris DPC PDI Perjuangan Kabupaten Jombang, Doni Anggun, mengatakan ziarah tersebut merupakan bagian dari rangkaian Bulan Bung Karno yang secara konsisten diperingati setiap tahun oleh seluruh jajaran partai. Bagi kader banteng, bulan kelahiran Sang Proklamator bukan hanya momentum mengenang sejarah, melainkan juga ruang untuk meneguhkan kembali arah perjuangan yang berpihak kepada rakyat.
“Kami datang ke Makam Bung Karno untuk berdoa sekaligus memperingati haul Bung Karno. Ini bagian dari rangkaian Bulan Bung Karno yang kami laksanakan sejak awal Juni,” kata Doni.
Menurut dia, perjalanan menuju Blitar dengan menggunakan sepeda motor bukan sekadar pilihan teknis. Ada pesan yang ingin ditanamkan kepada kader agar tidak terlena dalam kenyamanan dan tetap memelihara semangat juang.
“Awalnya ada beberapa usulan menggunakan bus atau kendaraan lain. Tetapi arahan pimpinan jelas, kami harus berani keluar dari zona nyaman. Semangat itu yang ingin terus ditanamkan kepada kader,” ujarnya.

Doni juga menyampaikan apresiasi atas sambutan hangat yang diberikan keluarga besar DPC PDI Perjuangan Kabupaten Blitar. Menurut dia, persaudaraan antarkader menjadi energi penting untuk memperkuat soliditas partai di tengah masyarakat.
“Terima kasih kepada Bapak Guntur Wahono beserta seluruh jajaran dan kader PDI Perjuangan Kabupaten Blitar. Sambutan penuh persaudaraan ini menjadi energi positif bagi kami untuk terus memperkuat soliditas dan menghidupkan semangat perjuangan di tengah masyarakat,” katanya.
Bagi DPC PDI Perjuangan Jombang, Bulan Bung Karno bukan sekadar mengenang sejarah. Momentum itu dimaknai sebagai panggilan untuk memastikan politik tetap berpijak pada kepentingan rakyat. Di tengah tantangan ekonomi dan sosial yang terus berubah, kader partai dituntut hadir di tengah masyarakat, mendengar suara rakyat, sekaligus memperjuangkan kebijakan yang berpihak kepada kepentingan rakyat banyak.
Karena itulah, perjalanan dari Jombang menuju Blitar tidak berhenti sebagai catatan perjalanan biasa. Dari pusara Sang Penyambung Lidah Rakyat, kader-kader banteng membawa pulang pesan yang terus relevan: perjuangan sejati tidak diukur dari seberapa besar kekuasaan diraih, melainkan dari seberapa besar pengabdian diberikan kepada rakyat, bangsa, dan negara.
Bagi DPC PDI Perjuangan Kabupaten Jombang, api perjuangan Bung Karno bukan warisan yang disimpan dalam museum sejarah. Api itu harus terus hidup, menyala, dan diwujudkan dalam kerja politik yang membumi serta tetap berpihak kepada rakyat.



