Urgensi Regenerasi PBNU: Mengapa Gus Awis Layak Jadi Nahkoda Baru?

0
4 views
Bagikan :

JAKARTA, TELUSUR.ID – Riuh rendah menjelang Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) yang akan digelar beberapa bulan ke depan mulai menghangat. Salah satu isu paling sentral yang menjadi sorotan publik dan warga nahdliyin adalah dinamika bursa pencalonan Rais Aam dan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) masa bakti mendatang. Di tengah situasi tersebut, muncul dorongan kuat agar organisasi Islam terbesar di dunia ini melakukan langkah penyegaran kepemimpinan secara total.

Saat ini, santer dikabarkan bahwa figur inkumben terindikasi kuat akan kembali maju dalam kontestasi pemilihan Rais Aam dan Ketua Umum PBNU. Langkah ini memicu gelombang diskusi, mengingat arus penolakan dari berbagai lini—termasuk dari kalangan tokoh senior dan intelektual internal NU sendiri—sudah mulai bermunculan ke permukaan. Keinginan bertahan dari figur lama dinilai sebagian pihak berpotensi melahirkan evaluasi kritis terhadap masa depan organisasi.

Memaksakan figur lama dinilai bisa menjadi preseden kurang baik bagi iklim demokrasi di internal organisasi berlambang jagat tersebut. Publik menginginkan PBNU bersih dari riak polemik struktural maupun isu miring, mulai dari tudingan pelanggaran AD/ART hingga isu sensitif lainnya yang sempat menerpa pengurus saat ini. Kondisi inilah yang dinilai mendesak dibutuhkannya figur alternatif yang bersih, berintegritas, dan murni berkhidmat untuk umat.

Merespons dinamika tersebut, Dr. Muhammad Saeful Kurniawan, M.A., seorang pengamat manajemen organisasi sekaligus warga NU kultural, menawarkan solusi taktis dari perspektif keilmuannya. Menurut peraih gelar doktor ini, tubuh PBNU saat ini sangat membutuhkan restrukturisasi yang sehat dan berorientasi pada masa depan demi menjaga marwah organisasi.

Langkah konkret yang ditawarkan adalah melakukan regenerasi kepemimpinan secara menyeluruh, mendalam, dan transformatif. PBNU dinilai perlu memberikan porsi yang luas bagi kehadiran ulama muda yang progresif, inovatif, dan produktif. Karakter kepemimpinan seperti ini menjadi krusial untuk menjawab tantangan zaman modern yang belum sepenuhnya terakomodasi secara optimal oleh kepengurusan periode sebelumnya.

Di tengah kebutuhan akan sosok segar tersebut, radar pengamat dan warga kultural NU tertuju pada seorang ulama muda berbakat asal Jombang, Jawa Timur. Sosok tersebut adalah Dr. KH. M. Afifuddin Dimyathi, Lc., M.A., atau yang akrab disapa Gus Awis. Ia dipandang memenuhi seluruh kriteria ideal yang dibutuhkan untuk membawa PBNU keluar dari jebakan stagnasi kepemimpinan.

Momentum kemunculan nama Gus Awis di panggung nasional kian diperkuat dengan kabar peluncuran kitab terbarunya yang berjudul Kunūz al-Rahmān fī Durūs al-Qūr’ān. Karya tebal setebal dua jilid yang diterbitkan oleh Dar al-Nibras ini menjadi angin segar bagi khazanah literasi Islam dunia, khususnya di bidang tadabbur dan tafsir kontekstual. Kitab ini dijadwalkan rilis resmi pada 24 Mei 2026 di Pondok Pesantren Darul Ulum, Jombang.

Sebagai profil mendalam, Gus Awis dikenal luas di dunia akademis internasional sebagai pakar tafsir terkemuka. Kemampuan istimewanya terletak pada produktivitas menulis kitab bermutu tinggi dalam bahasa Arab baku (fusha). Pencapaian literasi yang langka ini membuat reputasi keilmuan pria asal Jombang tersebut diakui, tidak hanya di tingkat nasional, melainkan juga merambah institusi global.

Secara silsilah dan latar belakang, Gus Awis lahir dari rahim tradisi pesantren yang sangat kuat. Beliau merupakan putra dari KH. Dimyathi Romly sekaligus cucu dari ulama kharismatik legendaris, KH. Romly Tamim. Sang kakek dikenal sejarah sebagai salah satu mursyid besar Thariqah Qodiriyah wan Naqsabandiyah sekaligus penyusun selawat istighosah NU yang berpusat di Pondok Pesantren Darul Ulum, Rejoso, Peterongan, Jombang.

Nasab spiritual dan intelektual yang kokoh itu berbanding lurus dengan rekam jejak pendidikan formal Gus Awis yang mengagumkan. Memulai pendidikan dasar di PP Darul Ulum Jombang, ia dikenal memiliki daya ingat luar biasa yang terbukti saat menghafalkan Al-Qur’an 30 juz di bawah bimbingan maestro tahfiz KH. Mufid Mas’ud di PP Sunan Pandanaran, Yogyakarta. Proses menghafal kitab suci tersebut sukses ia selesaikan hanya dalam waktu empat bulan.

Petualangan ilmiahnya kemudian berlanjut ke Timur Tengah, di mana ia merampungkan gelar sarjana (S1) di Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir. Tidak berhenti di sana, tingkat magister (S2) dan doktor (S3) berhasil diraihnya dari Khartoum International Institute untuk Bahasa Arab di Sudan. Fokus studi tertingginya bertumpu secara mendalam pada bidang linguistik dan studi Al-Qur’an.

Selain sibuk mengasuh santri di pesantren asalnya, kiprah Gus Awis di ruang publik tergolong sangat aktif, baik di jalur akademis struktural maupun organisasi keagamaan. Saat ini, ia tercatat aktif sebagai dosen dan Dewan Senat Akademik di beberapa perguruan tinggi Islam terkemuka. Di struktur kepengurusan sendiri, ia telah dipercaya mengemban amanah penting sebagai salah satu Katib Syuriyah PBNU.

Kelebihan utama yang melekat pada seluruh karya tulis Gus Awis terletak pada ketajaman analisis, penggunaan bahasa Arab modern yang mengalir, serta kepiawaian mengontekstualisasikan teks klasik. Di bidang tafsir, selain kitab Kunūz al-Rahmān, ia telah menelurkan masterpiace berjudul Hidāyat al-Qur’ān fī Tafsīr al-Qur’ān bi al-Qur’ān sebanyak 4 jilid yang ia dedikasikan sebagai tabarruk kepada gurunya, KH. Mufid Mas’ud.

Karya monumental lainnya yang diadopsi kampus-kampus dunia adalah Jam’u al-Abīr fī Kutub al-Tafsīr. Kitab ensiklopedis dua jilid ini sukses memetakan dan meresensi ratusan kitab tafsir dunia dari berbagai era dan bahasa, mulai dari Arab, Inggris, Melayu, Jawa, hingga Turki. Di samping itu, ia menulis buku daras komprehensif ‘Ilm al-Tafsīr: Uṣūluhu wa Manāhijuhu yang turut diterbitkan secara resmi oleh penerbit Dar as-Salih di Kairo, Mesir.

Kemampuan linguistik Gus Awis juga dituangkan dalam bidang balaghah dan sastra Arab melalui karya Al-Syāmil fī Balāghat al-Qur’ān serta Muhāḍarāt fī ‘Ilm al-Uslūb. Deretan karya berbahasa Arab ini menjadi bukti sahih bahwa pesantren di Indonesia terus melahirkan ulama berskala internasional yang tidak hanya piawai berorasi di mimbar dakwah lisan, tetapi juga kokoh memahat peradaban lewat goresan pena.

Melihat potensi besar kepemimpinan berbasis keilmuan tersebut, jalannya Muktamar NU mendatang diharapkan bisa steril dari kepentingan politik praktis. Desakan ini muncul menyusul adanya isu yang dilontarkan oleh pihak panitia muktamar, Gus Ipul, yang memberi sinyal hijau mengenai peluang masuknya Menteri Agama saat ini, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, M.A., ke dalam bursa calon ketua PBNU.

Langkah melibatkan pejabat politik aktif dinilai justru berpotensi memicu gejolak baru yang tidak perlu di internal organisasi. Upaya pencegahan dini dinilai penting agar warga nahdliyin tidak salah dalam menentukan pilihan kepemimpinan strategis ke depan. Belajar dari dinamika kepengurusan sebelumnya, keputusan yang terlanjur diambil lewat mekanisme muktamar cenderung sulit untuk dievaluasi di kemudian hari.

Melalui restrukturisasi manajemen organisasi yang matang, momentum muktamar kali ini menjadi waktu yang paling tepat bagi NU untuk kembali ke khittah. Mengangkat ulama muda sekiber Gus Awis dinilai sebagai langkah konkret menyelamatkan masa depan PBNU dari polarisasi politik. Perubahan arah kepemimpinan menuju basis literasi dan keulamaan murni diharapkan mampu membawa kedamaian bagi umat.

Tinggalkan Balasan