Jombang Ber-Qurban 2026: Saatnya Daging Qurban Menjangkau Pelosok Dusun
Oleh: Didin A. Sholahudin
(Ketua Dewan Masjid Indonesia Kabupaten Jombang)
Idul Adha 1447 Hijriah kembali tiba. Takbir berkumandang, masjid dan mushala dipenuhi semangat ibadah qurban. Namun di tengah suasana sakral itu, ada satu pertanyaan penting yang layak kita renungkan bersama: apakah distribusi daging qurban selama ini sudah benar-benar menghadirkan keadilan sosial?
Realitas di lapangan menunjukkan ironi yang terus berulang dari tahun ke tahun. Di kawasan perkotaan Jombang, tidak sedikit warga menerima daging qurban dalam jumlah berlebih. Satu keluarga bisa memperoleh beberapa kantong sekaligus dari masjid, mushala, maupun lingkungan sekitar.
Sebaliknya, di sejumlah pelosok dusun, kawasan pinggiran hutan, hingga wilayah yang akses ekonominya terbatas, masih banyak warga yang justru nyaris tidak tersentuh distribusi qurban. Bagi sebagian dari mereka, menikmati hidangan daging saat Idul Adha masih menjadi kemewahan yang hanya datang setahun sekali.
Di sinilah esensi qurban perlu kita maknai ulang. Qurban tidak semata-mata ritual penyembelihan hewan. Lebih dari itu, qurban adalah simbol pengorbanan, solidaritas sosial, dan pemerataan kebahagiaan. Semangat yang diwariskan Nabi Ibrahim AS sejatinya mengajarkan kepedulian terhadap mereka yang paling membutuhkan.
Karena itu, sudah saatnya pola distribusi qurban di Jombang diperbaiki. Masjid-masjid besar yang memiliki surplus hewan qurban perlu mulai membangun koordinasi lintas wilayah. Distribusi tidak boleh berhenti hanya di lingkungan sekitar masjid, tetapi harus diperluas hingga menjangkau dusun-dusun yang selama ini minim hewan qurban.
Momentum Idul Adha semestinya menjadi kesempatan memperkuat solidaritas sosial antarwilayah. Jangan sampai ada warga di pelosok Jombang yang hanya mendengar gema takbir tanpa pernah merasakan kebahagiaan menikmati daging qurban.
Keberkahan qurban bukan diukur dari banyaknya hewan yang disembelih atau ramainya halaman masjid, melainkan dari sejauh mana manfaatnya dapat dirasakan oleh masyarakat yang paling membutuhkan.
Karena itu, Tahun 2026 harus menjadi titik balik gerakan qurban yang lebih berkeadilan di Jombang. Diperlukan pemetaan wilayah penerima, sinergi antar-panitia qurban, hingga distribusi terintegrasi agar surplus daging di kota dapat mengalir ke desa-desa yang selama ini kurang tersentuh.
Namun tanggung jawab kita tidak berhenti pada distribusi semata. Ada persoalan lain yang juga perlu mendapat perhatian serius, yakni dampak lingkungan dari pelaksanaan qurban.
Setiap Idul Adha, ribuan kantong plastik sekali pakai digunakan untuk membagikan daging qurban. Niat baik berbagi kepada sesama sering kali justru meninggalkan persoalan baru berupa tumpukan sampah plastik yang mencemari lingkungan.
Ironisnya, ibadah yang seharusnya membawa keberkahan justru menyisakan beban ekologis bagi bumi yang juga merupakan amanah Tuhan.
Karena itu, gerakan Green Qurban yang dikampanyekan Dewan Masjid Indonesia (DMI) Kabupaten Jombang perlu menjadi gerakan nyata, bukan sekadar slogan seremonial. Pelaksanaan qurban harus mulai diarahkan pada praktik-praktik yang lebih ramah lingkungan.
Penggunaan besek bambu, daun pisang, daun jati, atau kemasan biodegradable berbahan alami perlu didorong sebagai alternatif pengganti plastik sekali pakai. Selain lebih ramah lingkungan, langkah ini juga dapat menghidupkan kembali kearifan lokal masyarakat.
Demikian pula dalam pengelolaan limbah qurban. Darah dan kotoran hewan tidak boleh dibuang sembarangan ke sungai atau saluran air. Panitia qurban perlu menyiapkan lubang pembuangan khusus agar limbah dapat dikelola secara higienis, aman, dan tidak menimbulkan pencemaran maupun gangguan kesehatan warga.
Masjid harus menjadi pelopor peradaban, termasuk dalam membangun kesadaran sosial dan ekologis masyarakat. Jika dua gerakan besar ini—qurban berkeadilan dan Green Qurban—dapat berjalan bersamaan, maka Idul Adha di Jombang tidak hanya menjadi perayaan ibadah, tetapi juga momentum membangun solidaritas sosial dan kepedulian lingkungan.
Sudah waktunya qurban tidak hanya menghadirkan kebahagiaan di pusat kota, tetapi juga mengetuk pintu-pintu rumah sederhana di pelosok dusun yang selama ini jarang tersentuh.
Idul Adha adalah tentang berbagi. Dan berbagi sejati selalu dimulai dari keberanian melihat siapa yang selama ini belum mendapat bagian.



