Bulan Bung Karno: Merawat Api, Bukan Mengabadikan Abu
Oleh: M Djali Aktivis Pergerakan
Setiap Juni, bangsa Indonesia kembali mengenang Bung Karno. Nama itu hadir dalam berbagai seminar, diskusi, lomba pidato, hingga upacara seremonial yang mengulang kisah-kisah heroik tentang proklamasi, Pancasila, dan perjuangan kemerdekaan. Namun pertanyaan yang lebih penting sesungguhnya bukanlah seberapa sering kita menyebut nama Bung Karno, melainkan sejauh mana kita masih berani memikirkan Indonesia sebagaimana Bung Karno pernah memikirkannya.
Sebab Bung Karno bukan sekadar tokoh sejarah. Ia adalah gagasan yang terus menguji zaman.
Dalam pandangan Bung Karno, kemerdekaan bukanlah tujuan akhir, melainkan jembatan menuju masyarakat yang adil dan makmur. Kemerdekaan politik harus melahirkan kemerdekaan ekonomi. Kedaulatan negara harus berujung pada kemerdekaan manusia dari kemiskinan, kebodohan, ketimpangan, dan segala bentuk penindasan.
Di titik inilah relevansi Bulan Bung Karno menemukan maknanya bagi generasi sekarang.
Indonesia hari ini memang telah merdeka secara formal. Bendera berkibar di seluruh pelosok negeri. Pemilu berlangsung secara rutin. Pembangunan fisik tumbuh di berbagai daerah. Namun di balik semua capaian itu, pertanyaan mendasar Bung Karno masih menggema: untuk siapa pembangunan itu dilakukan?
Pertanyaan tersebut menjadi penting ketika kesenjangan sosial masih menganga, ketika akses terhadap pendidikan berkualitas belum sepenuhnya merata, ketika kekayaan alam yang melimpah belum sepenuhnya menghadirkan kesejahteraan bagi rakyat banyak, dan ketika politik semakin sering dipersempit menjadi sekadar perebutan kekuasaan lima tahunan.
Bung Karno pernah mengingatkan bahwa bahaya terbesar bagi bangsa yang telah merdeka bukan hanya datang dari luar, tetapi juga dari dalam dirinya sendiri. Penjajahan dapat berganti bentuk. Ia tidak selalu hadir dengan senjata dan serdadu. Ia bisa menjelma menjadi ketergantungan ekonomi, oligarki politik, monopoli sumber daya, hingga hilangnya keberanian bangsa untuk menentukan nasibnya sendiri.
Karena itu, memperingati Bulan Bung Karno seharusnya tidak berhenti pada romantisme sejarah. Yang dibutuhkan adalah keberanian melakukan pembacaan ulang terhadap arah perjalanan bangsa.
Kita hidup di era yang sangat berbeda dengan zaman Bung Karno. Tantangan kita bukan lagi kolonialisme klasik, melainkan disrupsi teknologi, krisis iklim, ketimpangan digital, perebutan sumber daya strategis, dan kompetisi global yang semakin kompleks. Namun semangat dasarnya tetap sama: bagaimana memastikan Indonesia berdiri tegak sebagai bangsa yang berdaulat dan bermartabat.
Dalam konteks ini, pembangunan bangsa ke depan membutuhkan tiga keberanian besar.
Pertama, keberanian membangun kemandirian ekonomi nasional. Indonesia tidak boleh selamanya menjadi pemasok bahan mentah bagi dunia. Hilirisasi tidak boleh berhenti pada pembangunan pabrik, tetapi harus menjadi jalan lahirnya penguasaan teknologi, inovasi, dan peningkatan kualitas sumber daya manusia. Kemerdekaan ekonomi hanya mungkin lahir jika bangsa ini menguasai ilmu pengetahuan dan nilai tambah dari kekayaannya sendiri.
Kedua, keberanian memperkuat demokrasi substantif. Demokrasi tidak cukup diukur dari banyaknya pemilu atau tingginya partisipasi politik. Demokrasi harus mampu menghadirkan keadilan sosial, memperluas partisipasi warga, dan memastikan negara bekerja untuk kepentingan publik, bukan kelompok-kelompok yang memiliki akses terhadap kekuasaan dan modal.
Ketiga, keberanian membangun manusia Indonesia. Bung Karno memahami bahwa inti pembangunan bukanlah beton, jalan raya, atau gedung pencakar langit. Inti pembangunan adalah manusia. Bangsa yang besar tidak hanya dibangun oleh infrastruktur yang megah, tetapi oleh warga negara yang berkarakter, berilmu, berbudaya, dan memiliki rasa tanggung jawab terhadap masa depan bersama.
Di sinilah tugas generasi muda dan aktivis pergerakan menemukan relevansinya. Pergerakan tidak boleh berhenti sebagai oposisi yang sekadar mengkritik. Ia harus tumbuh menjadi kekuatan moral yang menawarkan gagasan, mengorganisasi harapan, dan menjaga agar cita-cita kemerdekaan tidak dibajak oleh kepentingan jangka pendek.
Bung Karno pernah mengatakan bahwa perjuangannya lebih mudah karena melawan penjajah, sedangkan perjuangan generasi berikutnya akan lebih sulit karena melawan bangsanya sendiri. Kalimat itu bukan ajakan untuk saling mencurigai, melainkan peringatan bahwa musuh terbesar bangsa sering kali adalah kemalasan berpikir, hilangnya idealisme, dan sikap puas terhadap keadaan yang tidak adil.
Karena itu, Bulan Bung Karno tidak boleh berubah menjadi museum kenangan. Ia harus menjadi ruang kontemplasi nasional untuk menilai apakah pembangunan yang sedang kita jalankan masih setia pada amanat kemerdekaan atau justru menjauh darinya.
Menghormati Bung Karno bukanlah menghafal pidatonya. Menghormati Bung Karno adalah melanjutkan keberaniannya untuk bermimpi besar tentang Indonesia. Sebuah Indonesia yang tidak hanya tumbuh secara ekonomi, tetapi juga adil secara sosial; tidak hanya kuat secara politik, tetapi juga bermartabat secara kemanusiaan.
Pada akhirnya, bangsa yang besar bukanlah bangsa yang sibuk mengabadikan abu para pendirinya. Bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu menjaga api yang mereka nyalakan.
Dan api itu, hingga hari ini, masih bernama cita-cita Indonesia.


