M.Djali : Bulan Bung Karno: Merawat Api, Bukan Mengabadikan Abu

Bagikan :

Bulan Bung Karno: Merawat Api, Bukan Mengabadikan Abu

Oleh: M.Djali

Juni selalu datang dengan cara yang sama.

Nama Bung Karno kembali disebut. Foto-fotonya kembali dipasang. Pidato-pidatonya kembali diputar. Seminar digelar. Diskusi diadakan. Lomba pidato bermunculan.

Tidak ada yang salah dengan itu.

Tetapi setiap kali Bulan Bung Karno tiba, saya selalu teringat satu pertanyaan sederhana: apakah kita sedang merawat api perjuangannya, atau sekadar mengelilingi abunya?

Sebab Bung Karno bukanlah patung. Ia bukan sekadar nama jalan, nama stadion, atau nama yang diulang dalam seremoni.

Ia adalah gagasan.

Dan gagasan yang besar selalu menolak untuk dimuseumkan.

Bung Karno pernah berkata, “Perjuanganku lebih mudah karena melawan penjajah. Perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri.”

Kalimat itu sering dikutip. Namun sering kali hanya berhenti sebagai kutipan.

Padahal yang dimaksud Bung Karno bukanlah mengajak kita saling mencurigai sesama anak bangsa. Yang ia ingatkan adalah bahwa setelah kemerdekaan, musuh tidak selalu datang dari luar negeri. Musuh bisa hadir dalam bentuk yang lebih halus: keserakahan, ketidakadilan, ketergantungan, hilangnya idealisme, dan kemalasan berpikir.

Hari ini Indonesia memang sudah merdeka.

Bendera merah putih berkibar di seluruh pelosok negeri. Jalan tol membentang. Bandara berdiri megah. Gedung-gedung pencakar langit tumbuh di berbagai kota.

Tetapi Bung Karno mungkin akan tetap bertanya:

“Untuk siapa semua itu?”

Pertanyaan itu terasa sederhana. Namun justru di situlah letak keberaniannya.

Karena ukuran kemajuan sebuah bangsa bukan hanya berapa banyak beton yang dicor atau berapa tinggi gedung yang dibangun. Ukurannya adalah seberapa jauh rakyat merasakan keadilan.

Ketika sebagian masyarakat masih kesulitan memperoleh pendidikan berkualitas, ketika petani dan nelayan masih berjuang menghadapi ketidakpastian, ketika kesenjangan ekonomi terus melebar, maka pertanyaan Bung Karno tetap relevan.

Apakah kemerdekaan sudah benar-benar sampai kepada semua orang?

Tokoh revolusi Amerika Latin, Che Guevara, pernah mengatakan:

“The true revolutionary is guided by great feelings of love.”

Revolusi yang sejati lahir dari cinta yang besar kepada rakyat.

Bukan dari kebencian.

Bukan dari ambisi kekuasaan.

Bukan dari hasrat untuk menguasai.

Dalam banyak hal, semangat itu juga kita temukan dalam pemikiran Bung Karno. Politik baginya bukan sekadar perebutan kursi. Politik adalah alat untuk memuliakan manusia.

Karena itu ia selalu menempatkan rakyat sebagai pusat dari seluruh cita-cita kebangsaan.

Hari ini tantangan yang kita hadapi memang berbeda.

Kita tidak lagi berhadapan dengan kolonialisme klasik. Kita hidup di tengah disrupsi teknologi, krisis iklim, kecerdasan buatan, perang dagang, dan kompetisi global yang semakin keras.

Namun bentuk penjajahan juga ikut berubah.

Ia bisa hadir dalam ketergantungan ekonomi.

Ia bisa hadir dalam penguasaan sumber daya oleh segelintir kelompok.

Ia bisa hadir ketika bangsa kehilangan keberanian untuk menentukan jalan hidupnya sendiri.

Presiden pertama Ghana, Kwame Nkrumah, pernah mengingatkan:

“Seek ye first the political kingdom and all else shall be added unto you.”

Namun pengalaman banyak negara membuktikan bahwa kemerdekaan politik saja tidak cukup.

Kemerdekaan harus dilanjutkan dengan kedaulatan ekonomi.

Dan di sinilah pekerjaan rumah Indonesia masih sangat besar.

Indonesia tidak boleh selamanya menjadi penjual bahan mentah.

Kita tidak boleh puas hanya menjadi pasar.

Kita harus menjadi pencipta.

Menjadi penghasil teknologi.

Menjadi pusat inovasi.

Menjadi bangsa yang mampu memberi nilai tambah bagi kekayaannya sendiri.

Pemimpin revolusi Vietnam, Ho Chi Minh, pernah berkata:

“Nothing is more precious than independence and freedom.”

Kemerdekaan memang tidak ternilai.

Tetapi kemerdekaan hanya akan bermakna apabila rakyat dapat merasakan manfaatnya dalam kehidupan sehari-hari.

Karena itu demokrasi juga tidak boleh berhenti pada pemilu lima tahunan.

Demokrasi harus menghadirkan keadilan.

Demokrasi harus memberi ruang partisipasi.

Demokrasi harus memastikan negara bekerja untuk rakyat, bukan hanya untuk mereka yang dekat dengan kekuasaan.

Bagi generasi muda, Bulan Bung Karno semestinya menjadi momentum untuk berpikir lebih jauh.

Tidak cukup hanya mengagumi sejarah.

Tidak cukup hanya menghafal pidato.

Tidak cukup hanya mengunggah kutipan di media sosial.

Nelson Mandela pernah mengatakan:

“It always seems impossible until it’s done.”

Semua perubahan besar memang selalu tampak mustahil pada awalnya.

Kemerdekaan Indonesia dulu juga dianggap mustahil.

Persatuan bangsa yang begitu beragam juga pernah dianggap mustahil.

Tetapi sejarah selalu bergerak karena ada orang-orang yang berani bermimpi lebih besar daripada zamannya.

Dan Bung Karno adalah salah satu di antaranya.

Karena itu tugas generasi sekarang bukan sekadar menjaga kenangan tentang Bung Karno.

Tugas kita adalah menjaga keberanian berpikir yang diwariskannya.

Menjaga keberanian untuk membela kepentingan rakyat.

Menjaga keberanian untuk mengoreksi arah ketika bangsa mulai menjauh dari cita-cita kemerdekaan.

Mahatma Gandhi pernah mengingatkan:

“The future depends on what you do today.”

Masa depan tidak ditentukan oleh siapa yang paling banyak bernostalgia tentang masa lalu.

Masa depan ditentukan oleh siapa yang bekerja hari ini.

Siapa yang berani mengambil tanggung jawab hari ini.

Siapa yang tetap menjaga idealisme di tengah pragmatisme yang semakin kuat.

Maka Bulan Bung Karno tidak boleh menjadi museum kenangan.

Ia harus menjadi ruang perenungan.

Tempat kita bertanya dengan jujur: apakah Indonesia yang sedang kita bangun masih setia pada amanat kemerdekaan?

Sebab menghormati Bung Karno bukanlah menghafal seluruh pidatonya.

Menghormati Bung Karno adalah melanjutkan keberaniannya untuk membayangkan Indonesia yang lebih adil, lebih berdaulat, dan lebih manusiawi.

Pada akhirnya, bangsa yang besar bukanlah bangsa yang sibuk mengabadikan abu para pendirinya.

Bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu menjaga api yang mereka nyalakan.

Dan api itu, sampai hari ini, masih bernama cita-cita Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Exit mobile version