Jacob Ereste : Ulang Tahun Aktivis yang Dimaknai Iwan Sumule sebagai Konsolidasi Demokrasi dan Persemaian Gagasan Kerakyatan

0
6 views
Bagikan :

Jacob Ereste :

Ulang Tahun Aktivis yang Dimaknai Iwan Sumule sebagai Konsolidasi Demokrasi dan Persemaian Gagasan Kerakyatan

TelusuR.ID – Rumah Konsolidasi Demokrasi ProDem di Jalan Veteran I No. 27, Jakarta Pusat, malam itu tampak hidup. Bukan sekadar ramai oleh tawa dan lagu-lagu nostalgia, tetapi juga dipenuhi energi pergerakan yang terasa kental. Para aktivis muda dari berbagai elemen hadir merayakan ulang tahun Rianda Bermawi yang ke-34. Namun, seperti lazimnya tradisi kaum pergerakan, sebuah pertemuan tidak pernah berhenti hanya sebagai seremoni sosial.

Di tempat itu, gagasan dirawat. Sikap politik dipertemukan. Dan demokrasi dibicarakan bukan sebagai slogan, melainkan sebagai ikhtiar yang harus terus dijaga denyutnya.

Rumah Konsolidasi Demokrasi yang dibangun Iwan Sumule — Wakil Kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan sekaligus Komisaris PT Pupuk Indonesia — sejak awal memang tidak diniatkan sekadar menjadi markas pertemuan aktivis. Motto yang terpampang di dindingnya memberi penegasan arah perjuangan:

“Perwujudan demokrasi harus hadir dalam setiap kehidupan dan sampai ke piring-piring rakyat.”

Kalimat itu penting. Sebab demokrasi yang gagal menyentuh kebutuhan rakyat pada akhirnya hanya akan menjadi prosedur politik tanpa jiwa. Demokrasi tidak cukup hidup di ruang seminar, panggung debat, atau kontestasi elektoral. Demokrasi harus terasa dalam kesejahteraan rakyat, harga kebutuhan pokok, akses pendidikan, hingga kepastian hidup masyarakat kecil.

Karena itu, momentum ulang tahun Rianda Bermawi dimaknai Iwan Sumule lebih jauh sebagai ruang konsolidasi moral dan politik generasi muda. Sebuah ruang untuk menjaga kesinambungan idealisme aktivisme di tengah arus pragmatisme kekuasaan yang sering kali melumpuhkan daya kritis.

Naluri aktivis dalam diri Iwan Sumule tampak belum berubah. Jabatan publik yang kini diembannya tidak menjauhkan dirinya dari habitat perjuangan. Justru sebaliknya, ia tampak ingin memastikan bahwa kekuasaan tetap memiliki hubungan batin dengan aspirasi rakyat dan denyut gerakan sosial.

Seperti burung bangau yang terbang tinggi melintasi banyak musim, tetapi tetap mengenali rawa tempat asalnya.

Acara yang berlangsung pada 11 Mei 2026 itu berlangsung sederhana, namun penuh makna. Lagu-lagu karaoke era 1980–1990-an mengalun akrab, membangun suasana cair di antara para aktivis lintas generasi. Tetapi di balik canda dan nostalgia itu, ada kesadaran bersama tentang pentingnya menjaga ruang demokrasi agar tidak kehilangan ruh kerakyatannya.

Rianda Bermawi sendiri merupakan bagian dari generasi kader HMI yang tumbuh dalam tradisi intelektual dan pergerakan mahasiswa. Kehadiran sejumlah aktivis dari kelompok Cipayung memperlihatkan bahwa jejaring pergerakan generasi muda Indonesia masih memiliki kesadaran kolektif untuk menjaga arah perjalanan bangsa menuju Indonesia Emas 2045.

Dalam konteks itu, acara ulang tahun ini memperoleh makna simbolik yang lebih dalam. Ia menjadi penanda bahwa aktivisme tidak boleh mati ketika seseorang memasuki lingkar kekuasaan. Justru di sanalah konsistensi diuji: apakah jabatan membuat seseorang lupa pada cita-cita awal perjuangan, atau tetap menjadikan kekuasaan sebagai alat pengabdian kepada rakyat.

Jejak itu tampak pada fokus perhatian Iwan Sumule terhadap agenda pengentasan kemiskinan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Sebuah sikap yang memperlihatkan bahwa keberpihakan sosial tidak berhenti sebagai retorika, tetapi harus diterjemahkan dalam kerja nyata.

Dalam pengantar singkatnya, Iwan Sumule menyampaikan pesan tentang pentingnya “kesabaran revolusioner”. Sebuah istilah yang mengandung makna mendalam: perubahan besar tidak selalu lahir dari ledakan sesaat, tetapi dari ketekunan panjang menjaga idealisme, merawat kesadaran, dan konsisten memperjuangkan nilai.

Pesan itu kemudian diperdalam melalui pembacaan tiga puisi oleh Bambang Isti Nugroho — aktivis 1978 berhaluan sosialis yang pernah merasakan penjara Orde Baru di LP Wirogunan. Kehadirannya menghadirkan memori sejarah tentang panjangnya perjalanan demokrasi Indonesia yang dibangun melalui pengorbanan, keteguhan, dan keberanian melawan otoritarianisme.

Salah satu puisinya yang berjudul “Anjing-Anjing Satir sebagai Penjaga Sosialisme di Indonesia” dipersembahkan kepada Iwan Sumule dan Rachman Tolleng. Sebuah penghormatan simbolik kepada tokoh-tokoh yang tetap menjaga idealisme sosial dalam senyap, jauh dari hiruk-pikuk pencitraan politik.

Suasana kemudian kembali cair melalui testimoni dan canda dari sahabat-sahabat Rianda Bermawi. Bahkan asal-usul Bacan, kampung halaman Rianda, ikut menjadi metafora optimisme politik. Seperti batu akik Bacan yang pernah mendunia, para sahabatnya meyakini Rianda juga memiliki masa depan yang terang dalam perjalanan politik dan pergerakan nasional.

Sebagai penutup, tausiah disampaikan Sri Eko Sriyanto Galgendu, tokoh spiritual yang dikenal mendampingi perjalanan politik Joko Widodo sejak sebelum menjadi Wali Kota Solo hingga Presiden Republik Indonesia. Kehadirannya memberi dimensi reflektif bahwa perjuangan politik tidak hanya membutuhkan kecerdasan dan strategi, tetapi juga kejernihan batin serta keteguhan moral.

Pada akhirnya, acara ulang tahun ini bukan semata perayaan usia.

Ia adalah perayaan atas konsistensi sikap.

Perayaan atas persahabatan dalam perjuangan.

Dan yang lebih penting, pengingat bahwa demokrasi hanya akan tetap hidup apabila terus dirawat oleh orang-orang yang bersedia menjaga idealisme, meski berada dekat dengan kekuasaan.

Di rumah sederhana itu, demokrasi tampak belum kehilangan penjaganya.

Lingkaran I Istana, 11 Mei 2026

Tinggalkan Balasan