Waspada Burnout Digital: RSUD Jombang Edukasi Masyarakat Kenali Gejala Kelelahan Mental

0
2 views
Bagikan :

JOMBANG, TELUSUR.ID – Di tengah derasnya arus informasi digital yang nyaris tanpa henti, RSUD Jombang mengambil langkah proaktif dengan mengedukasi masyarakat mengenai pentingnya menjaga kesehatan mental. Isu ini menjadi bahasan utama dalam program inovatif “Humas RSUD Jombang Menyapa” yang mengulas dampak psikologis di tengah era digitalisasi.

Narasumber dalam program tersebut, CH. Widayanti, S.Psi., M.Si., M.Psi., seorang Psikolog klinis, mengungkapkan bahwa gangguan kesehatan mental sering kali bermula dari gejala sederhana yang kerap diabaikan. Salah satu tanda awal yang paling umum ditemukan adalah rasa mudah lelah dan menurunnya daya konsentrasi dalam aktivitas sehari-hari.

Widayanti menjelaskan, fenomena kelelahan ini jamak dialami oleh berbagai kalangan usia karena pola hidup masyarakat modern yang terpapar informasi secara simultan. Otak manusia, menurutnya, memiliki batasan tertentu dalam memproses stimulasi yang datang secara bersamaan dan terus-menerus.

“Otak manusia pada dasarnya tidak didesain untuk menerima stimulasi informasi secara terus-menerus dalam waktu bersamaan. Ketika dipaksa, otak akan mengalami kelelahan. Ini bukan berarti kita lemah, tetapi lingkungan digital kita yang berubah sangat cepat,” jelas Widayanti pada Selasa (12/5/2026) dikutip Telusur.id

Faktor utama pemicu kelelahan mental ini adalah paparan media sosial yang masif, konsumsi berita negatif, hingga tuntutan sosial untuk selalu memperbarui informasi. Jika otak terus dipaksa berpikir tanpa jeda, dampaknya akan sangat terasa pada stabilitas emosional dan kondisi psikologis seseorang.

Lebih jauh, psikolog RSUD Jombang ini memaparkan lima faktor utama pemicu kecemasan di era digital. Faktor pertama adalah overload informasi, yakni kondisi di mana derasnya notifikasi dan konten masuk ke ruang privat seseorang tanpa mengenal waktu.

Faktor kedua adalah perbandingan sosial, yakni kecenderungan seseorang untuk membandingkan realitas hidupnya dengan “wajah sempurna” yang ditampilkan orang lain di media sosial. Hal ini sering kali memicu rasa tidak puas dan rendah diri yang mendalam.

Selanjutnya, faktor ketiga berkaitan dengan kebutuhan validasi yang berlebihan. Banyak orang kini sangat bergantung pada jumlah angka like, komentar, hingga jumlah penonton di setiap unggahan mereka. Jika respons yang diterima tidak sesuai harapan, maka akan muncul perasaan stres, cemas, hingga amarah.

Faktor keempat adalah fenomena FOMO (Fear of Missing Out) atau rasa takut tertinggal tren yang sedang viral. Sementara faktor kelima adalah batas hidup yang semakin kabur, di mana waktu istirahat dan bekerja menjadi tidak jelas akibat keterikatan yang sangat kuat pada gawai.

Masyarakat juga diminta mewaspadai tanda-tanda kecemasan digital, mulai dari sulit lepas dari ponsel, pola pikir berlebih (overthinking), hingga insomnia. Jika dibiarkan, kondisi ini dapat berkembang menjadi gangguan kesehatan yang serius seperti burnout kronis hingga depresi.

Gejala lanjutan dari gangguan mental ini bahkan bisa bermanifestasi secara fisik, seperti jantung berdebar, pusing, hingga ketakutan yang tidak beralasan. Pada tahap tertentu, penderita akan mulai menarik diri dari lingkungan sosial dan kehilangan minat pada hal-hal yang sebelumnya disukai.

Sebagai langkah pencegahan, Widayanti menyarankan masyarakat untuk mulai membatasi durasi paparan layar (screen time). Bagi anak di bawah dua tahun, ia sangat tidak menganjurkan penggunaan ponsel, sementara untuk usia 2 hingga 5 tahun dibatasi maksimal satu jam per hari.

Bagi orang dewasa, ia merekomendasikan penggunaan gawai tidak lebih dari 30 menit tanpa jeda. Memberikan waktu relaksasi bagi otak dengan melakukan aktivitas fisik seperti olahraga atau berbincang langsung tanpa layar menjadi kunci pemulihan energi mental.

Edukasi mengenai kesehatan mental ini dinilai perlu diperkuat agar masyarakat mampu mengenali gejala sejak dini. Kesadaran untuk mencari bantuan profesional menjadi langkah krusial agar gangguan psikologis tidak berlarut-larut dan merusak kualitas hidup.

RSUD Jombang menyatakan komitmennya dalam memberikan pelayanan kesehatan mental melalui layanan psikologi yang tersedia setiap Senin hingga Jumat. Masyarakat dapat berkonsultasi secara tatap muka untuk mendapatkan diagnosis dan penanganan yang tepat dari para ahli.

Selain layanan konvensional, RSUD Jombang juga menyediakan solusi digital melalui aplikasi SIKONDE (Sistem Informasi, Konseling, Deteksi Dini, dan Edukasi Psikologi). Aplikasi ini memudahkan masyarakat mengakses layanan konsultasi secara daring tanpa harus terkendala jarak dan waktu.

Tinggalkan Balasan