Refleksi Hari Kartini: Menilik Lima Jiwa Revolusi Pemikiran untuk Perempuan Era Modern

0
10 views
Bagikan :

JOMBANG, TELUSUR.ID – Peringatan Hari Kartini setiap tanggal 21 April bukan sekadar seremoni kebaya dan perlombaan semata. Momentum ini merupakan tonggak sejarah kepeloporan revolusi yang lahir dari pemikiran seorang perempuan ningrat bernama Raden Ajeng Kartini.

Ketua PAC Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (PERGUNU) Tembelang, Faizuddin FM atau yang akrab disapa Gus Faiz, menyebut Kartini sebagai sosok teladan yang jiwanya harus terus diamalkan. Menurutnya, perempuan di era modern harus mampu menjadi “Kartini Masa Kini” yang progresif.

Gus Faiz menekankan bahwa jiwa revolusi dalam diri Kartini tidaklah diwujudkan melalui angkat senjata di medan perang. Revolusi Kartini jauh lebih fundamental, yakni sebuah revolusi pemikiran untuk merombak tatanan sosial yang mengekang perempuan Jawa pada zamannya.

Semangat perjuangannya berpusat pada tiga pilar utama: emansipasi, pendidikan, dan kesetaraan gender. Dari pemikiran tersebut, terdapat lima jiwa revolusioner yang dapat diteladani oleh masyarakat, khususnya kaum perempuan dalam menghadapi tantangan zaman.

Jiwa revolusi yang pertama adalah keberanian melawan tradisi atau semangat emansipasi. Kartini secara berani menggugat tradisi pingitan dan pernikahan dini yang saat itu merenggut kebebasan perempuan untuk menentukan jalan hidupnya sendiri.

Ia memperjuangkan hak perempuan agar bisa mandiri, berpendidikan tinggi, dan tidak sekadar terjebak pada peran domestik di dapur. Keberanian ini menjadi fondasi awal bagi perempuan Indonesia untuk keluar dari keterbatasan akses sosial.

Kedua, Kartini memandang pendidikan sebagai senjata perubahan. Revolusi Kartini berwujud pemikiran bahwa perempuan harus berilmu demi membangun peradaban. Hal ini dibuktikan dengan pendirian sekolah untuk anak-anak perempuan di Jepara sebagai wadah kemandirian.

Selanjutnya, jiwa revolusi ketiga adalah memiliki wawasan luas melalui literasi. Kartini dikenal sebagai sosok yang sangat gemar membaca buku dan surat kabar Eropa, meskipun akses informasi kala itu masih sangat terbatas bagi pribumi.

Aktivitas literasi ini berhasil membuka cakrawala berpikirnya hingga melampaui tembok tinggi bangsawan Jawa. Ia menyadari adanya ketimpangan sosial yang nyata dan mulai menyuarakan perlunya perubahan besar melalui surat-suratnya yang mendunia.

Pilar keempat yang ditekankan adalah pemikiran progresif dan modern. Kartini merupakan sosok yang berpikir melampaui zamannya, di mana ia memimpikan kesetaraan gender yang kini mulai terimplementasi dalam dunia karier, politik, hingga kehidupan sosial.

Terakhir, jiwa kelima adalah sifat peduli dan humanis. Seluruh perjuangan Kartini didasari atas rasa empati terhadap nasib sesama perempuan dan rakyat kecil. Baginya, kesetaraan haruslah berlandaskan pada nilai kemanusiaan dan keadilan yang utuh.

Gus Faiz menegaskan bahwa Raden Ajeng Kartini adalah sang revolusioner perempuan yang memastikan hak-hak dasar perempuan diakui. Tanpa perjuangannya, sulit dibayangkan bagaimana nasib perempuan jika dilarang mengenyam bangku sekolah hingga saat ini.

“Tentu akan sangat menyedihkan jika perempuan tidak diperbolehkan menuntut ilmu. Namun, perjuangan RA Kartini telah membuahkan hasil nyata,” ujar Gus Faiz dalam sebuah catatan reflektifnya di Jombang, diterima Telusur.id, Sabtu (25/4/2026).

Kini, buah dari perjuangan tersebut telah memberikan kesempatan yang sangat luas bagi perempuan Indonesia untuk meraih mimpi setinggi mungkin. Lapangan pekerjaan dan panggung kepemimpinan kini terbuka lebar bagi siapa saja yang memiliki kompetensi.

Semangat Kartini mengajarkan bahwa sebuah revolusi besar dapat dilakukan melalui pemikiran kritis dan tulisan. Keberanian untuk mendobrak batasan adalah kunci utama untuk membawa kemajuan bagi bangsa Indonesia di masa depan.

Peringatan Hari Kartini di tahun 2026 ini diharapkan menjadi momentum bagi seluruh elemen masyarakat untuk kembali menghidupkan nilai-nilai tersebut. Menjadi Kartini masa kini berarti berani berkarya, berani berilmu, dan tetap peduli pada kemanusiaan.

Tinggalkan Balasan