JAKARTA, TELUSUR.ID – Bursa calon Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mulai memanas menjelang Muktamar ke-35 yang dijadwalkan berlangsung pada Agustus tahun ini. KH. Abdussalam Sohib, atau yang akrab disapa Gus Salam, secara resmi menyatakan kesiapannya untuk maju sebagai calon orang nomor satu di organisasi Islam terbesar di dunia tersebut.
Kesiapan tersebut disampaikan langsung oleh Gus Salam dalam acara Halal Bihalal IKA PMII Jombang belum lama ini. Pernyataan cucu dari pendiri NU, KH. Bisri Syansuri ini, sontak menjadi sorotan publik dan mendapatkan respons positif dari berbagai elemen muda Nahdliyin yang menginginkan regenerasi kepemimpinan.
Koordinator Nasional Poros Muda NU, Ramadhan Isa, menyambut hangat keberanian Gus Salam. Menurutnya, langkah terbuka yang diambil pengasuh Pondok Pesantren Mambaul Ma’arif Denanyar tersebut merupakan preseden positif bagi tradisi demokrasi di internal Nahdlatul Ulama.
“Kami apresiasi setinggi-tingginya sikap Gus Salam yang secara terbuka menyatakan kesiapan menjadi calon ketua umum PBNU. Ini contoh positif kader berani ambil peran dan mengemban amanah. Sudah bukan saatnya lagi bersikap malu-malu tapi mau,” ujar pria yang akrab disapa Dhani tersebut, Jumat (17/4/2026) dikutip Telusur.id.
Dhani, yang merupakan alumni santri Daarul Rahman Jakarta, menilai Gus Salam sebagai sosok kiai muda yang progresif. Karakteristik ini dinilai sangat krusial dan relevan bagi NU yang saat ini mulai menapaki perjalanan di abad keduanya.
Kemampuan manajerial Gus Salam juga menjadi catatan penting bagi Poros Muda NU. Saat menjabat sebagai Wakil Ketua PWNU Jawa Timur, Gus Salam dikenal sebagai motor penggerak organisasi yang sangat efektif dalam menunjang kepemimpinan KH. Marzuki Mustamar.
Pilihan tempat deklarasi di forum alumni pergerakan mahasiswa juga dianggap memiliki makna mendalam. Dhani melihat ada simbolisme kuat bahwa Gus Salam ingin merangkul seluruh elemen penggerak untuk membawa perubahan nyata di tubuh PBNU.
“Ikhtiar Gus Salam maju disampaikan di forum Halal Bihalal IKA PMII Jombang. Saya kira ini sebuah simbolik bahwa beliau adalah sosok penggerak yang mampu menyatukan berbagai lini,” lanjut alumni PMII Ciputat tersebut.
Lebih lanjut, Dhani menjabarkan bahwa sosok Gus Salam merupakan “paket lengkap” bagi calon pemimpin masa depan. Beliau tidak hanya menguasai khazanah keilmuan pesantren dengan mengasuh ribuan santri, tetapi juga memiliki pengaruh kuat di salah satu pesantren tertua di Jombang.
Selain kapasitas intelektual dan keagamaan, Gus Salam dinilai sebagai figur yang melek terhadap dinamika media. Hal ini dibuktikan dengan profilnya yang populer dan keterbukaannya dalam berkomunikasi dengan insan pers di berbagai kesempatan.
Rekam jejak digitalnya pun mencatat prestasi yang impresif. Pada tahun 2021, Gus Salam dinobatkan sebagai Tokoh Muda Nahdliyin Inspiratif oleh Forum Komunikasi Jurnalis Nahdliyin (FKJN), sebuah pengakuan atas pengaruh positifnya di ruang publik.
Dhani menekankan bahwa di era digitalisasi seperti sekarang, pemimpin PBNU harus memahami pentingnya keterbukaan informasi. Sosok yang mampu menjembatani nilai tradisional pesantren dengan kebutuhan publikasi modern menjadi nilai tawar yang tinggi.
“Gus Salam nasab dan sanadnya jelas. Ia juga sosok yang populer dan dekat dengan media. Di era digitalisasi ini, keterbukaan informasi sangat penting untuk menjaga marwah organisasi,” tegas Dhani dalam keterangannya.
Secara organisasi, Poros Muda NU menyatakan memberikan dukungan moral penuh terhadap langkah yang diambil oleh Gus Salam. Mereka berharap Muktamar ke-35 nanti menjadi ajang adu gagasan yang sehat demi kemajuan jemaah dan jam’iyyah.
“Poros Muda NU secara moral mendukung ikhtiar Gus Salam menjadi calon Ketua Umum PBNU. Kami yakin semangat pengabdiannya akan membawa energi baru bagi kemaslahatan umat,” pungkas Dhani menutup keterangannya.



