SURABAYA, TELUSUR.ID – Fakultas Desain Institut Sains dan Teknologi Terpadu Surabaya (ISTTS) kembali menegaskan komitmennya dalam mendukung industri kreatif melalui gelaran Pekan Desain 2026. Ajang bergengsi ini melibatkan puluhan siswa SMA/SMK sederajat untuk berkompetisi sekaligus mengasah kemampuan teknis di bidang desain.
Pekan Desain tahun ini dirancang bukan sekadar kompetisi biasa, melainkan sebuah ekosistem belajar bagi para pelajar. Melalui rangkaian workshop intensif, peserta diajak untuk mengeksplorasi ide-ide segar dan merasakan langsung atmosfer belajar di lingkungan kampus desain yang modern.
Kepala Humas ISTTS, Rara Dwi Yanti Handayani, menjelaskan bahwa acara tahun ini mengusung tema besar “Kreativitas Generatif & Tradisi Visual”. Tema ini sengaja dipilih untuk menjembatani kearifan lokal dengan teknologi masa depan yang tengah berkembang pesat.
Menurut Yanti, konsep Pekan Desain memiliki keunikan tersendiri karena menggabungkan sesi pembekalan dan perlombaan dalam satu rangkaian terpadu. Hal ini memastikan setiap peserta pulang dengan membawa ilmu baru, terlepas dari hasil kompetisi yang mereka ikuti.

“Seluruh perlengkapan lomba telah disediakan oleh panitia, sehingga peserta dapat fokus sepenuhnya pada proses kreatif tanpa perlu terbebani persiapan alat tambahan,” ujar Yanti dikutip Telusur.id, Rabu (8/4/2026).
Dalam pelaksanaannya, terdapat dua kategori utama yang menjadi panggung adu bakat para siswa. Kategori pertama adalah Batik Jumputan atau teknik ikat celup (tie-dye), yang berfokus pada eksplorasi pola tradisional dan perpaduan warna yang berani.
Melalui kategori batik ini, ISTTS ingin memperkenalkan tradisi visual Indonesia kepada generasi muda dengan cara yang menyenangkan. Peserta ditantang menciptakan motif kain yang unik melalui teknik ikat celup sebagai representasi kekayaan budaya nusantara.

Kategori kedua yang tak kalah menarik adalah Sketch to 3D Product. Pada bidang ini, peserta dituntut untuk merancang sebuah ide produk melalui sketsa tangan yang kemudian ditransformasikan menjadi konsep desain tiga dimensi yang lebih nyata.
Menariknya, dalam kategori produk ini, ISTTS mulai memperkenalkan pemanfaatan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI). Teknologi tersebut digunakan sebagai alat bantu bagi peserta untuk mempercepat pengembangan sketsa menjadi visualisasi produk yang detail.
Melalui dua kategori tersebut, para siswa tidak hanya unjuk gigi soal hasil akhir karya. Mereka diperkenalkan pada proses berpikir desain (design thinking) yang menjadi kompetensi inti di kurikulum Fakultas Desain ISTTS.

Setelah melalui proses kurasi yang ketat, dewan juri akhirnya menetapkan para pemenang. Pada kategori Despro, Angeline Abigail dari SMA Kr Petra Acitya Surabaya sukses menyabet gelar Juara 1, disusul oleh Catharina Melody dari SMAK Kolese Santo Yusuf Malang di posisi kedua.
Sementara itu, persaingan sengit juga terjadi di kategori Batik Tie Dye. Angeline Karamoy dari SMAK St Agnes Surabaya berhasil keluar sebagai pemenang utama, mengungguli perwakilan dari SMAK Frateran dan SMKK St Louis Surabaya.
Sebagai bentuk apresiasi atas kreativitas mereka, para pemenang berhak membawa pulang total hadiah bernilai belasan juta rupiah. Selain materi, seluruh peserta juga mendapatkan sertifikat resmi serta fasilitas lengkap selama kegiatan berlangsung di kampus.
“Pekan Desain diharapkan menjadi jembatan bagi siswa sekolah menengah untuk mengenal dunia desain lebih dekat. Kami ingin terus mendorong minat mereka agar kelak dapat berkontribusi di industri kreatif nasional,” pungkas Yanti.



