Mencari Kebenaran Titik Nol Sang Putra Fajar: DPRD Jombang dan TACB Bahas Klaim Kelahiran Bung Karno di Ploso

0
1 views
Bagikan :

JOMBANG, TELUSUR.ID – Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Jombang akhirnya mengambil langkah serius untuk membedah misteri sejarah kelahiran Presiden Pertama RI, Ir. Soekarno. Sebuah pertemuan penting digelar guna membahas potensi fakta baru mengenai tempat lahir Sang Proklamator tersebut.

Pertemuan yang berlangsung di ruang khusus DPRD Kabupaten Jombang pada Kamis (23/04/2026) ini mempertemukan unsur legislatif dengan Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Kabupaten Jombang serta para penelusur sejarah yang selama ini mendalami jejak Bung Karno di Kota Santri.

Hadir dalam forum tersebut Ketua TACB Kabupaten Jombang, Nasrul iLah atau yang akrab disapa Cak Nas, serta anggota TACB Arif Yulianto. Kehadiran mereka membawa misi penting untuk meluruskan narasi sejarah yang selama ini berkembang di masyarakat luas.

Tak hanya pakar cagar budaya, audiensi ini juga diikuti oleh Inisiator Titik Nol Soekarno, Binhad Nurrohmat, serta Pembina Situs Persada Soekarno Kediri, R.M Kuswartono. Sosok penelusur sejarah kawakan, Moch. Faisol, turut hadir membawa tumpukan data yang telah dikumpulkan bertahun-tahun.

Dari jajaran legislatif, pertemuan ini dipimpin langsung oleh Wakil Ketua DPRD Kabupaten Jombang, Octadella Billytha Permatasari. Ia didampingi oleh Ketua Komisi D, Mochamad Agung Natsir, Wakil Ketua Komisi D, Erna Kuswati, serta sejumlah anggota Komisi D lainnya.

Fokus utama pembahasan adalah mengenai klaim bahwa Bung Karno lahir pada 6 Juni 1902 di wilayah Ploso, Jombang. Hal ini menjadi menarik karena selama ini literatur sejarah nasional lebih banyak mencatat Surabaya sebagai kota kelahiran “Putra Fajar”.

Dalam acara tersebut, TACB Kabupaten Jombang secara resmi menyerahkan dokumen hasil kajian Situs Kelahiran Bung Karno di Ploso. Dokumen ini menjadi basis argumen yang kuat bagi tim penelusur sejarah untuk menantang narasi yang sudah ada.

Sebagai pelengkap bukti literasi, Binhad Nurrohmat dan Moch. Faisol juga menyerahkan buku karya mereka yang membedah sejarah kelahiran Bung Karno di Ploso. Buku tersebut merupakan hasil riset mendalam terhadap dokumen lawas dan memori kolektif warga setempat.

Wakil Ketua DPRD Kabupaten Jombang, Octadella Billytha Permatasari, memberikan apresiasi tinggi atas data-data yang dipaparkan. Menurutnya, audiensi ini menjadi ruang bagi para wakil rakyat untuk kembali belajar dan menghargai sejarah lokal yang luar biasa.

“Hari ini kita belajar sejarah lagi dari beliau-beliau bahwa ada kemungkinan fakta dan data bahwa Bung Karno lahir di Ploso, khususnya di Desa Rejoagung,” ujar Octadella dikutip Telusur.id pada Minggu (26/4/2026).

Octadella menyadari bahwa temuan ini akan menimbulkan diskusi panjang karena adanya “dualisme” sejarah. Saat ini, pengakuan resmi negara masih merujuk pada Kota Pahlawan, Surabaya, sebagai tempat kelahiran Bung Karno.

“Namun, ini ada temuan dari teman-teman TACB maupun Titik Nol bahwa ada kemungkinan Bung Karno lahir di Jombang. Kami akan segera berkoordinasi dengan dinas terkait mengenai hal ini,” beber politisi perempuan tersebut.

Guna menyelesaikan perdebatan ini, DPRD Jombang mendorong Pemerintah Kabupaten melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) untuk memfasilitasi pertemuan dengan Pemerintah Kota Surabaya. Langkah ini diambil sebagai bagian dari upaya rekonsiliasi sejarah.

“Kita perlu tabayyun terhadap fakta-fakta sejarah ini. Ayo kita diskusikan bersama melalui kajian akademik agar kebenaran sejarah dapat digali lebih dalam dan dapat dipertanggungjawabkan,” ungkap Octadella.

Lebih lanjut, DPRD mendesak Disdikbud Jombang untuk mengawal surat yang telah dilayangkan ke Kementerian Kebudayaan RI. Koordinasi dengan Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XI juga dianggap krusial untuk memperkuat status hukum situs tersebut.

Rencana besar juga tengah disiapkan oleh dewan, yakni melakukan kunjungan lapangan ke rumah yang diduga menjadi tempat lahir Bung Karno. Lokasi tersebut berada di Gang Buntu, Desa Rejoagung, Kecamatan Ploso, Kabupaten Jombang.

“Nanti kami akan berkoordinasi dengan pimpinan Komisi D dan Disdikbud untuk melihat langsung temuan di lokasi. Kami ingin melihat seperti apa kondisi fisik dan bukti autentik yang ada di sana,” ulas Octadella.

Ketua TACB Jombang, Nasrul iLah, mengaku optimistis setelah pertemuan tersebut. Ia menilai dukungan dari DPRD merupakan katalisator penting yang bisa mempercepat proses pengakuan sejarah versi Ploso.

“Kuncinya hanya satu, bagaimana kubu Surabaya dan kubu Jombang ini dipertemukan dalam satu meja ilmiah. Pertemuan hari ini adalah kemajuan, meski baru selangkah,” tegas Cak Nas dengan nada yakin.

Pembina Situs Persada Soekarno Kediri, R.M Kuswartono, menambahkan bahwa bukti-bukti artefak kini sudah lengkap. Temuan dokumen dan data tersebut kini melengkapi sejarah tutur yang selama ini hanya tersimpan di kalangan internal keluarga Bung Karno.

Kuswartono berharap Pemkab Jombang segera menetapkan Situs Kelahiran Bung Karno di Ploso sebagai cagar budaya resmi. Ia menilai hal ini mendesak karena fakta-fakta lapangan dan memori kolektif masyarakat sudah dianggap final.

“Mudah-mudahan ini menjawab pertanyaan dunia. Adalah sebuah keanehan jika seorang tokoh besar sekelas bapak bangsa, namun tempat lahirnya masih menjadi perdebatan. Ini harus segera dituntaskan agar tidak menjadi aib sejarah,” pungkas Kuswartono.

Tinggalkan Balasan