Desak Pembenahan Panitia Muktamar NU, Gus Ulib: Jangan Serahkan Sapi ke Tukang Jagal

0
72 views
Bagikan :

JOMBANG, TELUSUR.ID – Gelombang desakan untuk melakukan pembenahan total dalam persiapan Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) mulai bermunculan dari kalangan pesantren. Pengasuh Pondok Pesantren Darul Ulum Jombang, KH Zainul Ibad Wijaya As’ad, melontarkan kritik pedas terkait komposisi kepanitiaan yang dinilai perlu dirombak total.

Tokoh yang akrab disapa Gus Ulib ini menegaskan bahwa keberhasilan Muktamar NU sangat bergantung pada integritas para penyelenggaranya. Menurutnya, tanpa panitia yang bersih dan netral, mustahil akan lahir kepengurusan yang mampu membawa perubahan positif bagi organisasi berlambang jagad tersebut.

Dalam pernyataan tegasnya, Gus Ulib menyoroti pentingnya sterilisasi struktur kepanitiaan dari berbagai kepentingan luar. Ia memandang adanya anasir-anasir yang justru berpotensi merusak marwah organisasi jika tetap dibiarkan mengelola jalannya Muktamar.

Gus Ulib secara spesifik menyebutkan bahwa panitia harus dibersihkan dari pengaruh joki politik hingga kepentingan bisnis tertentu, termasuk urusan tambang. Baginya, hal-hal tersebut sama sekali tidak memberikan faedah bagi kemajuan jam’iyah Nahdlatul Ulama ke depan.

“Kita semua berharap agar Muktamar segera dilaksanakan, agar NU segera memiliki kepengurusan yang lebih baik. Namun, hasil yang baik hanya bisa dicapai jika penyelenggaranya bersih dari anasir-anasir jahat dan joki politik,” ujar Gus Ulib, Kamis (2/4/2026) dikutup Telusur.id

Lebih lanjut, ia mengkritik tajam persoalan netralitas figur-figur yang ditunjuk masuk dalam jajaran kepanitiaan saat ini. Gus Ulib mencium adanya pola-pola lama di mana oknum tertentu dianggap sengaja menawarkan diri demi mengamankan posisi atau kepentingan kelompok.

Ia mendesak agar format kepanitiaan dibenahi secara mendasar sebelum Muktamar resmi digelar. Hal ini dianggap krusial agar forum tertinggi warga Nahdliyin tersebut tidak terjebak dalam kepentingan pragmatis yang merugikan organisasi dalam jangka panjang.

Kritik Gus Ulib semakin meruncing saat menyinggung penunjukan sosok ketua panitia yang akrab disapa Ipul. Ia secara terbuka menyatakan rasa pesimisnya jika nakhoda penyelenggara Muktamar masih dipegang oleh figur yang memiliki rekam jejak atau pola serupa.

Gus Ulib bahkan memberikan perumpamaan yang cukup menohok terkait situasi kepanitiaan saat ini. Ia mengibaratkan kondisi tersebut seperti menyerahkan hewan ternak kepada pihak yang salah, sehingga hasilnya sudah bisa ditebak sejak awal.

“Ya pesimislah kita jadinya. Itu sama saja kita menyerahkan sapi kepada tukang jagal. Kalau kata orang Jawa ‘wes mesti dibeleh’, artinya sudah pasti disembelih,” tegasnya dengan nada satir.

Ia mengingatkan agar warga NU tidak kembali menjadi korban untuk kesekian kalinya akibat integritas kepanitiaan yang dipertanyakan. Gus Ulib tidak ingin Muktamar hanya menjadi ajang formalitas yang memuluskan agenda-agenda tersembunyi pihak tertentu.

Dalam pandangannya, sudah saatnya warga NU yang memiliki pemikiran jernih bergerak untuk membentuk kepanitiaan yang lebih “waras”. Kriteria “waras” yang dimaksud adalah panitia yang benar-benar bekerja demi kepentingan umat, bukan kepentingan personal.

Tujuan utama dari pembenahan ini adalah untuk menghasilkan kepengurusan NU yang memiliki citra keumatan yang kuat. Gus Ulib menekankan bahwa sense keumatan harus menjadi ruh utama dalam setiap langkah organisasi di masa yang akan datang.

Sebagai penutup, ia meminta agar struktur kepanitiaan saat ini segera dikoreksi sebelum langkah organisasi melangkah terlalu jauh. “Ayolah, bentuk kepanitiaan yang lebih baik untuk menghasilkan NU yang lebih memiliki citra keumatan. Saya kira itu mohon segera dikoreksi,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan