JOMBANG, TELUSUR.ID – Meningkatnya tensi geopolitik di kawasan Timur Tengah memicu kekhawatiran serius terhadap keselamatan warga negara Indonesia (WNI) yang berada di zona konflik.
Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kabupaten Jombang melaporkan sedikitnya 54 Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal “Kota Santri” kini tengah mengadu nasib di wilayah tersebut.
Kepala Disnaker Jombang, Isawanlisan Nanang Rusdiyanto, mengungkapkan bahwa puluhan pekerja migran tersebut tersebar di berbagai negara dengan titik konsentrasi terbesar berada di Arab Saudi dan Turki.
Pihaknya terus melakukan pemantauan intensif guna memastikan kondisi mereka tetap terpantau oleh otoritas terkait.
Berdasarkan data terbaru dari sistem Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI), persebaran warga Jombang di kawasan tersebut cukup luas.
Arab Saudi menempati urutan tertinggi dengan 15 orang, disusul oleh Turki sebanyak 12 orang, dan Uni Emirat Arab dengan 10 orang pekerja.
Selain negara-negara utama tersebut, tercatat pula 4 orang berada di Yunani, 3 orang di Hungaria, serta masing-masing 2 orang di Rumania, Qatar, dan Kuwait.
Sementara itu, satu orang pekerja asal Jombang terdeteksi sedang menjalankan kontrak kerja di Yordania.
“Data ini bersifat aktual dan terintegrasi langsung dengan sistem pusat. Kami terus memantau keberadaan mereka setiap saat untuk mengantisipasi segala kemungkinan yang terjadi di lapangan,” ujar Isawan Rabu (4/3/2026) dikutip Telusur.id.

Menyikapi situasi keamanan yang bersifat fluktuatif, Disnaker Jombang secara resmi mengeluarkan imbauan kepada para PMI maupun pihak keluarga di kampung halaman untuk meningkatkan kewaspadaan. Komunikasi aktif antara pekerja dan keluarga menjadi kunci utama dalam situasi darurat.
Isawan menekankan pentingnya bagi setiap pekerja migran untuk menyimpan kontak darurat atau hotline Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di negara tempat mereka bekerja.
Hal ini bertujuan agar bantuan atau perlindungan hukum dapat segera diberikan jika kondisi keamanan memburuk secara tiba-tiba.
Untuk mempermudah akses informasi bagi masyarakat, pihak dinas telah mengunggah daftar nomor pengaduan dan hotline resmi KBRI melalui akun Instagram @disnaker_kabjombang. Langkah digital ini diambil sebagai kanal informasi cepat bagi keluarga yang merasa cemas.
“Langkah ini kami ambil agar masyarakat atau keluarga di Jombang bisa dengan mudah mencari tahu kondisi kerabat mereka atau melaporkan kendala jika situasi di lokasi kerja memburuk,” tambah Isawan menjelaskan fungsi kanal media sosial tersebut.
Hingga berita ini diturunkan, Disnaker Jombang menyatakan bahwa situasi masih terkendali dan belum menerima satu pun laporan mengenai warga yang menjadi korban atau terjebak dalam situasi berbahaya. Koordinasi dengan pemerintah pusat terus berjalan secara sinkron.
“Sejauh ini nihil pengaduan. Kami tentu berharap dan mendoakan agar semua warga kita di sana selalu dalam lindungan Tuhan, tetap dalam kondisi prima, dan aman dari dampak konflik yang terjadi,” pungkas Isawan menutup keterangannya.



