JAKARTA, TELUSUR.ID – Di dunia bisnis, kesuksesan kerap dipandang sebagai puncak gunung yang indah, namun jarang ada yang menilik terjalnya jalur pendakian yang penuh kerikil tajam. Bagi HRM. Khalilur R. Abdullah Sahlawiy, keberhasilan bukanlah sesuatu yang jatuh dari langit secara tiba-tiba, melainkan sebuah simfoni dari proses panjang dan daya tahan yang luar biasa.
Ia meyakini bahwa setiap pencapaian membutuhkan waktu, keberlangsungan, dan konsepsi yang matang. Dalam setiap langkahnya, terdapat rajutan konsultasi, diskusi mendalam, hingga berbagai aksi korporasi yang berisiko tinggi. Namun di balik layar itu semua, kegagalan adalah guru yang paling setia menemani perjalanannya.
Bagi pendiri Sabhumi Barat Basra Grup ini, menjadi pengusaha berarti harus siap menelan pil pahit dan menjalani masa-masa sulit dengan ketegaran. Kesabaran bukan sekadar menunggu, melainkan keteguhan untuk tetap berdiri tegak saat badai menghantam sisi terdalam operasional perusahaan.
Tak jarang, air mata tumpah di setiap lintasan peristiwa yang menyedihkan maupun membahagiakan. Di atas segalanya, ia meyakini ada doa-doa yang melangit, menembus cakrawala sebagai bukti bakti dan pengakuan atas kelemahan diri di hadapan Sang Maha Kuasa.
Perjalanan usaha ini telah menempuh waktu 27 tahun, sebuah angka yang tidak sebentar untuk membangun kepercayaan dan kredibilitas. Khalilur memulainya sejak tahun 1999, titik di mana ia pertama kali memberanikan diri memiliki perusahaan sendiri dan memegang kendali atas nasibnya.
Kini, sayap usahanya telah mengepak lebar ke sembilan jenis industri yang berbeda. Meski telah mencapai banyak hal, ia merasa masih berada dalam tahap menapak dan meniti tangga-tangga konglomerasi yang lebih tinggi dan lebih bermakna.
Secara mengejutkan, sepanjang kariernya, ia tercatat telah mendirikan dan memiliki hampir 2.000 perusahaan. Setiap entitas bisnis tersebut membawa cerita uniknya masing-masing, mulai dari kejayaan hingga pelajaran berharga tentang bagaimana bertahan hidup di tengah persaingan global.
Harapan terbesarnya sederhana namun mendalam: semoga segala ikhtiar tersebut semakin berfaedah untuk bakti pada Tuhan dan kemanusiaan. Kalimat “Aamiin, InsyaAllah, MasyaAllah, Bismillah” selalu menjadi zikir yang mengiringi ambisi besarnya di dunia profesional.
Memasuki hari-hari terakhir di bulan suci Ramadhan 2026 ini, Khalilur memilih untuk menarik diri sejenak dari hiruk-pikuk rutinitas. Ia menghabiskan banyak waktu untuk kontemplasi diri, menepi dari keramaian guna melihat kembali jejak-jejak yang telah ia tinggalkan di belakang.
Evaluasi perjalanan menjadi agenda utama dalam perenungannya di penghujung bulan puasa ini. Baginya, melihat ke belakang bukan untuk menyesali masa lalu, melainkan untuk mengumpulkan bahan bakar guna membuat proyeksi masa depan yang lebih kokoh dan terukur.
Hingga akhirnya, ia sampai pada satu titik proyeksi yang sangat personal dan strategis bagi perjalanan hidupnya ke depan. Sebuah keputusan besar diambil untuk menentukan ke mana arah kemudi kapal besarnya akan berlabuh di tahun-tahun mendatang.
Khalilur memutuskan untuk tetap fokus meniti konglomerasi dengan strategi yang lebih senyap. Ia memilih untuk “hening” dari publikasi, sebuah langkah yang jarang diambil oleh para pemilik grup usaha besar di era keterbukaan informasi seperti sekarang.
Namun, keheningan itu bukan berarti ia menutup diri sepenuhnya dari dunia luar. Publikasi hanya akan dilakukan jika berkaitan dengan upaya keberpihakan pada kemaslahatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan kepentingan rakyat banyak.
“Salam Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia,” tutup HRM. Khalilur R. Abdullah Sahlawiy dalam catatannya. Sebuah penegasan bahwa setiap langkah bisnisnya ke depan akan selalu berpijak pada nilai-nilai kebangsaan dan manfaat bagi sesama manusia.


