Harga Minyak Dunia Tembus 111 Dolar AS, Menkeu: APBN Akan Serap Gejolak Energi

0
73 views
Poto - Purbaya/ist.detik
Bagikan :

JAKARTA, TELUSUR.ID – Pemerintah bergerak cepat merespons lonjakan tajam harga minyak mentah dunia yang mulai melewati ambang batas psikologis. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan tidak terjebak dalam kepanikan di tengah fluktuasi pasar energi global yang kian dinamis.

Menkeu menegaskan bahwa pemerintah berkomitmen penuh untuk memasang badan guna melindungi daya beli masyarakat. Saat ini, otoritas fiskal terus bekerja keras menyerap (absorb) gejolak harga energi dunia agar tekanan tersebut tidak langsung berdampak pada beban ekonomi rakyat di dalam negeri.

Instrumen Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dipastikan kembali menjadi bantalan fiskal (fiscal shock absorber) utama. Langkah ini diambil untuk menahan dampak kenaikan harga minyak mentah yang melonjak drastis akibat eskalasi ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.

“Nanti kalau harga minyak dunia naik pun, kita akan coba absorb lewat APBN, dan kita akan mengendalikan semaksimal mungkin,” ujar Purbaya saat ditemui awak media di kawasan Tanah Abang, Jakarta, Senin (9/3/2026) dikutip Telusur.id.

Purbaya secara khusus meminta publik untuk tidak menyimpulkan secara prematur bahwa lonjakan harga saat ini akan bersifat permanen. Ia menjelaskan bahwa perhitungan APBN menggunakan asumsi rata-rata harga tahunan, bukan berdasarkan fluktuasi harian yang sering kali bersifat sesaat.

Poto – Purbaya/ist.detik

Pemerintah juga memastikan akan memonitor pergerakan pasar dari waktu ke waktu secara saksama. “Jangan terlalu cepat menyimpulkan harga akan berada di level 100 terus. Saya tidak akan terlambat mengambil keputusan strategis jika memang diperlukan,” tegas Purbaya.

Hingga saat ini, pemerintah secara resmi menyatakan belum mengambil langkah untuk melakukan penyesuaian harga Bahan Bakar Minyak (BBM). Evaluasi kondisi fiskal dilakukan dengan sangat hati-hati dan berkala demi menjaga stabilitas ekonomi nasional yang sedang dalam tren positif.

“Sampai sekarang belum ada kebijakan untuk merubah subsidi BBM dalam pengertian menaikkan harga. Kita lihat seperti apa kondisinya. Nanti kalau dalam sebulan semuanya berubah, baru kita akan lakukan evaluasi menyeluruh,” tambahnya.

Sebagai informasi, lonjakan tajam harga minyak dipicu oleh serangan militer terhadap fasilitas energi di Teheran, Iran. Pada perdagangan Senin (9/3), minyak mentah jenis Brent melonjak drastis hingga menyentuh 111,04 dolar AS per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) bertengger di level 107,40 dolar AS per barel.

Meski situasi global sedang memanas, pemerintah Indonesia terus memantau jalur distribusi energi strategis, termasuk Selat Hormuz. Pemantauan ini krusial untuk memastikan pasokan energi nasional tetap aman dan mitigasi risiko gangguan distribusi dapat terkendali dengan baik.

Dengan penguatan bantalan APBN, pemerintah berharap gejolak ekonomi global tidak merembet ke sektor domestik. Koordinasi lintas kementerian akan terus diperkuat guna memastikan ketahanan energi dan stabilitas harga kebutuhan pokok tetap terjaga secara sistematis dan masif.

 

Tinggalkan Balasan