GRESIK, TELUSUR.ID – Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, melakukan kunjungan istimewa ke Pasar Bandeng tradisional di Kabupaten Gresik, Rabu (18/3/2026). Dalam kunjungan tersebut, Khofifah turut mengajak cucu pertamanya, Aisyah Nabila atau yang akrab disapa Aila.
Kehadiran orang nomor satu di Jawa Timur ini bukan sekadar belanja rutin, melainkan upaya nyata untuk menanamkan kecintaan terhadap budaya daerah sejak dini. Khofifah ingin sang cucu mengenal lebih dekat kekayaan tradisi lokal yang ada di Jawa Timur.
Pasar Bandeng Gresik sendiri merupakan warisan budaya yang telah eksis sejak zaman Sunan Giri. Tradisi ini menjadi daya tarik unik setiap menjelang Idulfitri karena menjajakan “bandeng kawak” atau bandeng berukuran raksasa hasil budidaya petambak wilayah Mengare.
Momen hangat sekaligus edukatif ini dimanfaatkan Khofifah untuk memperlihatkan langsung kearifan lokal kepada generasi muda. Menurutnya, memperkenalkan tradisi di tengah suasana Ramadan adalah langkah penting untuk menjaga keberlangsungan budaya.

“Saya setiap tahun berusaha ke sini. Dan hari ini, saya membawa cucu saya, Aila. Saya ajak dia untuk melihat langsung ikan bandeng di pasar ini. Ini merupakan kali kedua Aila berkunjung ke sini,” ujar Khofifah di sela kegiatannya dikutip Telusur.id, Kamis (19/3/2026).
Khofifah menjelaskan bahwa pengenalan budaya sejak dini adalah fondasi agar generasi penerus tetap memiliki keterikatan batin dengan identitas daerahnya. Dengan melihat aktivitas pasar, anak-anak dapat memahami nilai sosial, ekonomi, dan kultural yang hidup di masyarakat.
“Saya ingin Aila mengenal tradisi Pasar Bandeng sejak dini. Dengan melihat langsung proses dan suasana pasar, dia bisa memahami budaya yang menjadi bagian dari nadi kehidupan masyarakat Gresik,” imbuhnya dengan antusias.
Lebih lanjut, Gubernur menegaskan bahwa Pasar Bandeng bukan sekadar tempat transaksi jual beli biasa. Lokasi ini adalah simbol kebersamaan dan kearifan lokal yang telah diwariskan secara turun-temurun oleh nenek moyang masyarakat pesisir Jatim.

“Keberadaan tradisi seperti ini adalah identitas budaya kita. Hal ini harus terus dijaga dan dilestarikan, terutama oleh generasi muda agar tidak tergerus zaman,” tegas Khofifah di hadapan para pedagang dan pengunjung pasar.
Sisi ekonomi juga menjadi sorotan sang Gubernur. Ia menyebut pasar ini sebagai penggerak ekonomi kerakyatan yang luar biasa, terutama bagi para petambak lokal yang telah bekerja keras memelihara ikan dalam jangka waktu lama.
Ikan bandeng yang dijajakan di pasar ini umumnya memiliki bobot fantastis, yakni rata-rata 4 hingga 5 kilogram per ekor. Untuk mencapai ukuran tersebut, dibutuhkan waktu pemeliharaan yang tidak sebentar, bahkan hingga empat tahun di tambak.

“Artinya, proses pembesaran ikan ini butuh waktu lama. Kita perlu menghargai kerja keras para petambak yang telah menyiapkan ikan-ikan berkualitas ini untuk disajikan saat momen Lebaran nanti,” kata Khofifah.
Dalam kunjungan tersebut, Khofifah terpantau memborong sejumlah besar ikan bandeng. Rencananya, ikan-ikan tersebut akan dijadikan bahan utama dalam lomba memasak yang melibatkan jajaran Perangkat Daerah (PD) dan BUMD di lingkungan Pemprov Jatim.
Lomba memasak yang telah memasuki tahun keenam ini akan digelar secara unik. Agenda dimulai dengan qiyamul lail pukul 01.00 WIB, dilanjutkan lomba masak pukul 02.00 WIB, dan ditutup dengan sahur bersama di Gedung Negara Grahadi, Surabaya.
“Belanja kali ini memang agak banyak karena untuk kebutuhan lomba masak di Grahadi. Ini merupakan agenda rutin tahunan yang kami laksanakan sebagai bentuk syukur dan kebersamaan di akhir Ramadan,” pungkasnya.


