Denyut Ekonomi di Gerbang Tambakberas: Kala Pesantren Menjadi Jantung Rezeki Warga

0
73 views
Bagikan :

JOMBANG, TELUSUR.ID – Di bawah naungan langit sore yang mulai meredup, suasana di sekitar Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, justru kian berpendar oleh geliat ekonomi kerakyatan.

Bulan Ramadan tak hanya membawa keberkahan spiritual bagi para santri, namun juga menjadi momentum emas bagi warga sekitar untuk memutar roda ekonomi melalui Bazar UMKM Ramadan yang tertata rapi di sepanjang jalan pesantren.

Pasar musiman yang dikomandani oleh kader Ranting Gerakan Pemuda (GP) Ansor Tambakrejo ini menjelma menjadi pusat perputaran uang yang signifikan. Dengan 138 pedagang yang terdaftar, pasar ini menjadi bukti nyata bagaimana ekosistem pesantren mampu menjadi penyangga hidup bagi masyarakat lokal yang menggantungkan harap pada momentum bulan suci.

Ketua Pelaksana Pasar Ramadan, Ahmad Khumaidi Alwi, mengungkapkan bahwa kebijakan kuota pedagang disusun secara strategis demi keadilan ekonomi. Separuh dari lapak yang tersedia dikhususkan bagi warga setempat, memastikan bahwa keuntungan dari keramaian ini benar-benar meresap ke kantong-kantong penduduk Desa Tambakrejo.

“Kami ingin memastikan warga sekitar tidak hanya menjadi penonton. Ke depan, kami menargetkan keterlibatan warga lokal hingga 70 persen, karena misi utama kami adalah penguatan ekonomi berbasis lingkungan pesantren,” ujar pria yang akrab disapa Mas Khumaidi tersebut dengan nada optimis dikutip Telusur Senin (2/3/2026).

Menu yang ditawarkan pun menjadi cerminan adaptasi pasar; mulai dari jajanan tradisional seperti lepet yang membawa kerinduan masa lalu, hingga kuliner kekinian seperti dimsum yang digemari generasi z. Diversitas produk ini sengaja dihadirkan untuk menangkap daya beli konsumen yang beragam, mulai dari masyarakat umum hingga ribuan santri.

Ketua Majelis Pengasuh Pondok Pesantren Bahrul Ulum, KH Hasib Wahab, menegaskan bahwa tradisi pasar ini telah mengakar selama hampir satu dekade sebagai pilar pemberdayaan. Bagi beliau, pesantren memiliki tanggung jawab moral untuk memastikan para pedagang kecil tetap mendapatkan income yang stabil, bahkan meningkat, selama bulan puasa.

Sinergi ekonomi ini kian kuat dengan adanya kebijakan “belanja terjadwal” bagi para santri yang dikoordinasikan oleh pihak yayasan dan ribath. Dukungan penuh pesantren ini memastikan bahwa para pedagang memiliki pasar yang pasti (captive market) dari ribuan santri yang ingin mencicipi menu buka puasa selain dari dapur umum.

Salwa, salah satu santriwati asal Lamongan, menjadi bagian dari rantai ekonomi ini saat ia memadati area pasar bersama rekan-rekannya. Kehadiran santri seperti Salwa, yang seringkali membawa catatan titipan belanja dari teman asramanya, menjadi penggerak utama yang melariskan dagangan warga di setiap sore.

Potret transaksi di gerbang Tambakberas ini menunjukkan bahwa pesantren tidak hanya menjadi menara gading ilmu agama, tetapi juga inkubator ekonomi yang maslahat. Di sini, nilai-nilai ukhuwah Islamiyah diterjemahkan ke dalam bentuk tolong-menolong dalam perniagaan yang saling menguntungkan.

Harapannya, perputaran rupiah di Pasar Ramadan ini tidak hanya habis untuk konsumsi sesaat, melainkan mampu menjadi modal tambahan bagi warga untuk merayakan Idul Fitri dengan lebih sejahtera. Kolaborasi antara pemuda Ansor, masyarakat, dan pesantren menjadi model ideal bagaimana modal sosial bisa dikonversi menjadi kemandirian finansial.

“Semoga ada pendapatan tambahan bagi ekonomi warga melalui pasar ini. Kami ingin keberkahan Ramadan benar-benar berwujud nyata dalam kesejahteraan masyarakat yang tinggal berdampingan dengan pesantren,” pungkas Kyai Hasib dengan penuh keteduhan, menutup perbincangan di tengah keriuhan pasar yang kian menghangat.

Tinggalkan Balasan