Antisipasi Geopolitik Global, Presiden Prabowo Perintahkan Percepatan Konversi Energi

0
59 views
Poto - Bahlil saat diwawancarai/dok.seskab
Bagikan :

JAKARTA, TELUSUR.ID – Presiden Prabowo Subianto memanggil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, ke Istana Merdeka, Jakarta, pada Kamis (12/3/2026). Pertemuan strategis tersebut dilakukan untuk membahas langkah-langkah darurat dan jangka panjang dalam memperkuat ketahanan energi nasional di tengah situasi global yang kian tidak menentu.

Usai pertemuan, Bahlil menjelaskan bahwa dirinya melaporkan hasil rapat awal Satuan Tugas (Satgas) Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE). Satgas ini melibatkan berbagai kementerian terkait serta PT PLN (Persero) untuk mematangkan transisi energi dan percepatan konversi kendaraan berbasis fosil ke tenaga listrik.

“Kami melaporkan perkembangan pembahasan Satgas EBTKE, terutama terkait optimalisasi energi baru terbarukan dan program konversi kendaraan dari bensin ke listrik,” ujar Bahlil kepada awak media di lingkungan Istana Kepresidenan dikutip Telusur.id, Jumat (13/3/2026).

Salah satu fokus utama yang dibahas adalah langkah konkret pemerintah untuk mengganti Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) yang selama ini masih mengandalkan bahan bakar solar. Pemerintah menilai ketergantungan pada solar harus segera dikurangi demi efisiensi anggaran dan keberlanjutan lingkungan.

Bahlil menyebutkan bahwa program penggantian pembangkit ini akan diterapkan secara bertahap di berbagai wilayah Indonesia. Prioritas diberikan pada daerah-daerah terpencil atau wilayah yang operasional pembangkit listriknya masih sangat bergantung pada pasokan bahan bakar minyak (BBM) fosil.

Langkah ini diambil sebagai bentuk kewaspadaan terhadap dinamika geopolitik dunia yang sedang bergejolak akibat konflik bersenjata. Kondisi perang tersebut dinilai dapat mengganggu stabilitas pasokan energi global, sehingga Indonesia harus segera mengoptimalkan potensi energi dalam negeri yang melimpah.

“Dalam kondisi geopolitik perang seperti sekarang, kita tidak bisa memastikan kestabilan energi jangka panjang. Karena itu, kita harus mengoptimalkan seluruh potensi dalam negeri dan mengonversi energi dari fosil ke energi bersih,” ungkap Bahlil dengan tegas.

Selain transisi energi, pertemuan tersebut juga menyoroti langkah antisipasi terhadap gangguan pasokan di Selat Hormuz yang merupakan jalur vital energi dunia. Sebagai bagian dari strategi diversifikasi, pemerintah mulai mencari sumber minyak mentah (crude oil) dari negara-negara di luar kawasan Timur Tengah.

Bahlil mengungkapkan bahwa Indonesia tengah menjajaki kerja sama dengan sejumlah negara alternatif seperti Amerika Serikat, Nigeria, Brasil, hingga Australia. Langkah ini dilakukan agar pasokan minyak mentah nasional tidak hanya terkonsentrasi pada satu kawasan yang sedang mengalami ketegangan politik.

Pemerintah juga terus melakukan pemantauan ketat terhadap pergerakan harga minyak global yang bersifat fluktuatif. Strategi diversifikasi ini diharapkan mampu memberikan ruang bagi pemerintah untuk mendapatkan harga terbaik dan pasokan yang lebih terjamin bagi kepentingan rakyat.

Menutup keterangannya, Bahlil menegaskan bahwa keamanan energi adalah prioritas utama pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo. Pemerintah berkomitmen penuh untuk mencari opsi terbaik guna melindungi kepentingan nasional dan menjaga stabilitas ekonomi dari dampak krisis energi dunia.

 

Tinggalkan Balasan