JOMBANG, TELUSUR.ID – Pengelola ruas tol Jombang-Mojokerto (Jomo) mulai memperketat kesiagaan menjelang arus mudik Lebaran 2026. Langkah ini diambil sebagai respons terhadap potensi cuaca ekstrem yang diprediksi dapat mengganggu kenyamanan dan keamanan pengguna jalan di ruas sepanjang 40,5 kilometer tersebut.
Pihak manajemen berkomitmen memastikan seluruh layanan infrastruktur dalam kondisi prima guna mendukung perjalanan masyarakat menuju kampung halaman. Fokus utama kali ini adalah mitigasi risiko genangan air dan penanganan darurat saat terjadi hujan dengan intensitas tinggi di sepanjang jalur tol.
Department Head Operation, Maintenance, dan IT Astra Tol Jomo, Yuni Rihal, menjelaskan bahwa edukasi kepada pengguna jalan terus ditingkatkan secara masif. Salah satu poin utamanya adalah imbauan untuk menjaga batas kecepatan kendaraan saat hujan deras melanda area jalan tol.
Pihak pengelola meminta pengendara untuk segera menurunkan kecepatan di kisaran 60 hingga 70 kilometer per jam apabila jarak pandang berkurang akibat hujan. Langkah preventif ini dinilai krusial untuk mencegah terjadinya kecelakaan fatal atau aquaplaning di lintasan cepat.
Selain edukasi, tim lapangan juga disiagakan penuh selama 24 jam untuk memantau titik-titik rawan genangan air. Koordinasi cepat antarpetugas dilakukan agar penanganan di lokasi bisa segera dieksekusi tanpa harus menunggu laporan masuk dari pengguna jalan.
“Petugas kami siap melakukan penyudetan jika terjadi genangan air agar volume air cepat berkurang. Selain itu, perbaikan tali air juga terus kami lakukan secara intensif di lapangan,” ujar Yuni Rihal saat memberikan keterangan resmi, Selasa (17/3/2026) dikutip Telusur.id.

Sebagai langkah jangka panjang, Astra Tol Jomo sebelumnya telah melakukan pembersihan drainase secara rutin di sepanjang jalur. Penguatan lereng di beberapa titik strategis juga menjadi prioritas untuk menghindari ancaman longsor atau pergeseran tanah yang dapat menutup bahu jalan.
Pemeliharaan saluran penangkap air juga dioptimalkan guna mencegah luapan air masuk ke badan jalan utama. Yuni menegaskan bahwa seluruh infrastruktur pendukung drainase harus berfungsi 100 persen sebelum puncak arus mudik berlangsung pada akhir Maret mendatang.
“Pompa-pompa air portable juga sudah kami siagakan di titik-titik yang secara geografis rawan banjir. Semua langkah ini kami ambil agar perjalanan mudik masyarakat berjalan lancar tanpa terganggu faktor cuaca,” tambah Yuni.
Untuk skenario darurat yang lebih luas, pihak pengelola tidak bekerja sendiri. Astra Tol Jomo telah menjalin koordinasi erat dengan Pemadam Kebakaran (Damkar) dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk antisipasi bencana hidrometeorologi yang tidak terduga.
Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), kewaspadaan ekstra memang diperlukan pada periode 19 hingga 21 Maret 2026. Wilayah Jawa Timur diprediksi akan mengalami hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang disertai angin kencang secara merata.
Kondisi cuaca pada tanggal 19-21 Maret tersebut diperkirakan mencapai puncaknya pada sore hari, sehingga pemudik disarankan memantau prakiraan cuaca terkini sebelum memulai perjalanan. Data BMKG menunjukkan kelembapan udara yang tinggi memicu pertumbuhan awan konvektif yang signifikan di wilayah sekitar Jombang dan Mojokerto.
Pada Lebaran 2026 ini, Tol Jomo diperkirakan akan dilalui sekitar 1,14 juta kendaraan, naik 1,45 persen dibandingkan tahun lalu. Dengan lonjakan volume tersebut, kesiapan infrastruktur dan respons cepat terhadap cuaca menjadi kunci utama kelancaran arus mudik di Jawa Timur.



