PWI Jombang Berikan Pelatihan kepada Humas Sekolah untuk Hadapi “Wartawan Bodrex”

0
74 views
Bagikan :

JOMBANG, TELUSUR.ID – Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Jombang memberikan pelatihan kepada para humas SMA, SMK, dan SLB Negeri se-Kabupaten Jombang terkait cara menghadapi oknum yang mengaku sebagai wartawan atau kerap disebut “wartawan bodrex”. Kegiatan ini digelar pada Jumat (13/2/2026) pagi, bekerja sama dengan Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Jombang, bertempat di Aula Lantai 2 SMKN 3 Jombang.

Pelatihan ini digelar menyusul banyaknya laporan keresahan dari kepala sekolah maupun humas yang mengaku mendapat ancaman hingga teror dari oknum yang mengatasnamakan wartawan di lingkungan sekolah. Ketua PWI Jombang, Muhammad Mufid, menegaskan kegiatan ini bukan sekadar pelatihan jurnalistik biasa.

“Atas dasar menjunjung tinggi profesi wartawan dan banyaknya keresahan dari instansi terutama lembaga pendidikan, kami menggandeng Cabdindik untuk mengedukasi serta berdiskusi bagaimana cara menghadapi oknum-oknum yang mengaku wartawan, yang tujuannya bukan mencari berita tapi meminta sesuatu,” ujarnya.

Mufid menambahkan, praktik tersebut sangat merugikan dan memperburuk citra wartawan profesional. Karena itu, perlu sinergi bersama untuk menghadapi oknum tersebut sesuai aturan yang berlaku. Melalui kegiatan ini, PWI Jombang berharap para humas sekolah tidak hanya memahami mekanisme hukum dalam menghadapi oknum yang merugikan, tetapi juga mampu membangun sistem informasi yang kuat, profesional, dan akuntabel.

Kasubag TU Cabdindik Wilayah Jombang, Ulil Muamar, mengapresiasi inisiatif PWI Jombang dalam memberikan pendampingan kepada satuan pendidikan. “Sekolah memang perlu dibekali pemahaman seperti ini. Jangan sampai karena ketidaktahuan, kemudian merasa takut atau tertekan saat menghadapi oknum yang mengatasnamakan wartawan,” kata Ulil.

Pemateri pertama, Yusuf Wibisono, Redaktur media online di Jawa Timur ini memaparkan materi “Navigasi Lanskap Media dan Aspek Hukum”. Ia menjelaskan pentingnya membedakan wartawan dan media yang telah terverifikasi Dewan Pers dengan yang belum.

Yusuf juga menekankan pentingnya membedakan sengketa produk jurnalistik dengan persoalan pidana di luar wilayah jurnalistik, serta meminta pihak sekolah tetap tenang dan tidak panik saat menghadapi tekanan.

Pemateri kedua, Saiful Mualimin membawakan materi tentang “Revitalisasi Media Sekolah”. Ia menekankan bahwa lembaga pendidikan seharusnya memiliki media resmi yang dikelola secara profesional.

Sementara itu, pemateri ketiga, Muhammad Syafii membawakan materi tentang “Content Creator dan School Branding”. “Sekolah hari ini tidak cukup hanya bagus secara program, tapi juga harus mampu mengomunikasikan keunggulannya melalui media sosial dengan strategi yang tepat,” kata Syafi’.

Dengan sinergi antara insan pers dan dunia pendidikan, praktik intimidasi oleh oknum yang mengaku wartawan diharapkan dapat diminimalisir, sekaligus menjaga marwah profesi jurnalistik tetap terhormat.

Tinggalkan Balasan