Home Berita Jacob Ereste : Mengurai Sejumlah Program dan Gagasan Pemikiran GMRI Pada Diskusi...

Jacob Ereste : Mengurai Sejumlah Program dan Gagasan Pemikiran GMRI Pada Diskusi Rutin Kamis, 7 Mei 2026

0
3 views
Bagikan :

Jacob Ereste
Menajamkan Visi Kebangsaan dan Diplomasi Spiritual GMRI
Catatan Diskusi Rutin GMRI, Kamis, 7 Mei 2026

TelusuR.ID – Indonesia hari ini tidak hanya memerlukan pemimpin administratif atau pengelola kekuasaan, tetapi membutuhkan sosok “Bapak Bangsa” yang mampu menjadi panutan moral, penuntun arah peradaban, sekaligus penggerak kesadaran kolektif bangsa. Sosok yang bukan sekadar hadir dalam struktur politik, melainkan hidup dalam nurani rakyat sebagai sumber keteladanan, pemersatu, dan penjaga cita-cita kebangsaan.

Gagasan itulah yang mengemuka dalam diskusi informal GMRI (Gerakan Moral Rekonsiliasi Indonesia) pada Kamis, 7 Mei 2026, di Sekretariat GMRI, Jalan Ir. H. Juanda No. 4A, Jakarta Pusat. Diskusi berlangsung hangat namun sarat refleksi mendalam mengenai arah masa depan Indonesia di tengah krisis moral, kegaduhan politik, serta melemahnya orientasi kebangsaan.

Hadir dalam pertemuan tersebut antara lain Surya Wijaya dari Yogyakarta, Joyo Yudhantoro dari Komunitas Kalibata, Gus Indra, Gus Dibyo, serta Gus Baidowi yang menyimak dengan penuh perhatian uraian Sri Eko Sriyanto Galgendu mengenai jejak kejayaan peradaban Nusantara, khususnya sistem nilai dan tata kepemimpinan pada era Mataram Islam.

Dalam pemaparannya, Sri Eko Sriyanto Galgendu menegaskan bahwa kepemimpinan sejati tidak dapat hanya bertumpu pada kecerdasan intelektual ataupun kemampuan teknokratis semata. Sebuah bangsa besar hanya dapat dipimpin oleh manusia yang memiliki kecerdasan spiritual, kejernihan batin, serta kemampuan membaca tanda-tanda zaman sebelum krisis menjadi kenyataan sosial yang menghancurkan.

Ia mengingatkan bahwa kepemimpinan bukan persoalan jenis kelamin, jabatan, ataupun dominasi politik, melainkan menyangkut kualitas kesadaran, kematangan jiwa, integritas moral, serta keluasan pandangan hidup. Karena itu, seorang pemimpin harus mampu menyatukan kecerdasan intelektual, emosional, sosial, dan spiritual secara utuh dalam tindakan maupun kebijakan.

Sri Eko Sriyanto Galgendu juga mengurai besarnya amanah yang dipikulnya sebagai penerus wasiat moral dan spiritual dari sejumlah tokoh bangsa dan tokoh lintas agama, di antaranya Gus Dur, Paku Buwono XII, serta KH Prof. Dr. (HC) Habib Khirzin. Amanah tersebut bukan dimaknai sebagai simbol kekuasaan, melainkan tanggung jawab peradaban untuk menjaga harmoni Nusantara dan membangun kembali kesadaran spiritual bangsa yang mulai tercerabut dari akar budayanya sendiri.

Dalam konteks itu, GMRI menggagas konsep Diplomasi Spiritual Global sebagai visi strategis Indonesia di masa depan. Gagasan ini menempatkan Indonesia bukan hanya sebagai kekuatan politik atau ekonomi, tetapi sebagai pusat peradaban moral dunia — mercusuar yang memberi cahaya bagi bangsa-bangsa lain melalui nilai kemanusiaan, perdamaian, rekonsiliasi, dan kebijaksanaan spiritual.

Menurut Sri Eko Sriyanto Galgendu, dunia modern sedang mengalami krisis makna. Kemajuan teknologi tidak selalu diiringi kemajuan moral. Karena itu, Indonesia memiliki peluang historis untuk tampil membawa keseimbangan baru bagi dunia: menghadirkan politik yang berakar pada nurani, kekuasaan yang tunduk pada etika, serta pembangunan yang berpijak pada kemanusiaan.

Ia menegaskan bahwa moralitas harus ditempatkan di atas kekuasaan. Pemimpin sejati adalah mereka yang bekerja dengan hati, bukan semata dengan kalkulasi politik. Sebab hati yang bersih, tulus, dan ikhlas akan melahirkan perilaku politik yang sehat, pelayanan publik yang jujur, serta keberpihakan nyata kepada rakyat.

Di penghujung diskusi yang berlangsung dalam suasana akrab dan reflektif, dipanjatkan doa bersama untuk Surya Wijaya yang dalam waktu dekat akan mempersiapkan rangkaian kegiatan spiritual di Yogyakarta bersama sejumlah pemangku adat, tokoh budaya, dan pegiat kebangkitan spiritual Nusantara. Kegiatan tersebut diharapkan menjadi langkah awal konsolidasi gerakan kebangkitan moral dan spiritual bangsa guna memperkuat agenda muhibah GMRI ke berbagai negara dalam membawa misi Diplomasi Spiritual Global.

Dari diskusi sederhana itu mengemuka satu kesadaran penting: Indonesia tidak cukup hanya menjadi negara besar secara jumlah penduduk, sumber daya alam, atau kekuatan ekonomi. Indonesia harus tumbuh menjadi bangsa yang besar dalam kebijaksanaan, keteladanan moral, dan kematangan spiritual. Sebab hanya bangsa yang mampu memimpin dirinya sendiri secara batiniah yang akan mampu memberi arah bagi dunia.

Pecenongan, 7 Mei 2026

NO COMMENTS

Tinggalkan Balasan