iSTTS Bekali Jurnalis Etika AI Lewat Bootcamp Intensif

0
134 views
Bagikan :

SURABAYA, TELUSUR.ID – Institut Sains dan Teknologi Terpadu Surabaya (iSTTS) memfasilitasi puluhan jurnalis dari Surabaya dan Sidoarjo dalam Bootcamp Artificial Intelligence for Journalist, Selasa (3/2/2026).

Pelatihan tersebut dirancang untuk memperkuat pemahaman praktis kecerdasan buatan sekaligus menjaga integritas dan etika jurnalistik di tengah derasnya adopsi teknologi AI di ruang redaksi.

Kepala Humas iSTTS Surabaya, Mas Rara Dwi Yanti Handayani, mengatakan pemanfaatan AI di dunia jurnalistik tidak bisa dihindari, namun perlu dibarengi pemahaman etika dan tanggung jawab profesi.

 

“AI bisa membantu jurnalis bekerja lebih cepat dan efisien, tetapi akurasi, verifikasi, dan nurani tetap berada di tangan manusia,” ujar Mas Rara Dwi dikutip Telusur.id.

Bootcamp ini menghadirkan pemateri dari kalangan akademisi dan praktisi AI. Dr. Lukman Zaman, S.Kom., M.Kom. membedah generative AI, prompt engineering, serta pemanfaatannya untuk konten multimedia dan visual.

“Dengan AI, jurnalis dapat mempercepat proses pengolahan data dan meningkatkan kualitas konten,” katanya.

Prof. Dr. Ir. Esther Irawati Setiawan, S.Kom., M.Kom., yang juga Google Expert dan Lead Organizer GDG Surabaya, mengulas social network analysis, multimodal AI, serta tantangan etika di era kecerdasan buatan.

“Jurnalis harus memahami cara kerja AI dan batasannya agar dapat menggunakan teknologi ini secara efektif,” ujarnya.

Sementara itu, Dr. Ir. Yosi Kristian, S.Kom., M.Kom. memaparkan machine learning dan computer vision yang mulai banyak digunakan dalam pengolahan data visual dan investigasi digital.

“Dengan teknologi ini, jurnalis dapat mempercepat proses pengolahan data dan meningkatkan akurasi informasi,” katanya.

Berbeda dari pelatihan berbasis teori, bootcamp ini mengusung pendekatan hands-on learning. Peserta diminta membawa laptop untuk langsung mencoba pemanfaatan AI, mulai dari penyusunan prompt, pengolahan data, hingga simulasi penggunaan AI dalam kerja jurnalistik sehari-hari.

Direktur Rumah Literasi Digital, Andika Ismawan, menyebut pelatihan ini sebagai respons konkret atas tantangan baru dunia jurnalistik di era kecerdasan buatan.

“AI tidak bisa diposisikan sebagai pengganti jurnalis. Teknologi ini adalah alat bantu yang harus dikendalikan dengan literasi, etika, dan kesadaran dampak,” tuturnya.

Ia menambahkan, kolaborasi dengan Institut STTS menjadi langkah strategis untuk mempertemukan keunggulan akademik dengan kebutuhan praktis insan pers di lapangan.

“Jurnalis hari ini dituntut cepat, tetapi tetap akurat. Tanpa literasi digital yang memadai, AI justru bisa menjadi sumber kesalahan baru,” tandasnya.

Seluruh peserta memperoleh sertifikat “Introduction to Generative AI” sebagai pengakuan kompetensi dasar. Sertifikat ini diharapkan menjadi bekal awal bagi jurnalis untuk beradaptasi dengan ekosistem media digital yang terus berubah.

Dengan demikian, Institut STTS menegaskan perannya sebagai institusi pendidikan yang responsif terhadap dinamika industri dan AI Campus.

Kampus ini tidak hanya mencetak talenta teknologi, tetapi juga mengambil bagian dalam menjaga kualitas informasi publik dengan membekali jurnalis keterampilan AI yang etis, akurat, dan bertanggung jawab.

Tinggalkan Balasan