Sambut Investasi China, Wamen Viva Yoga Dukung Industrialisasi Bambu di Kawasan Transmigrasi

0
124 views
Bagikan :

Jakarta ,TelusuR.ID – Wakil Menteri Transmigrasi Viva Yoga Mauladi menyambut positif rencana investasi dari China dalam pengembangan bambu varietas reed (reed bamboo) di kawasan transmigrasi. Dukungan tersebut disampaikan saat menerima kunjungan delegasi Promosi Perdagangan Indonesia–Guangdong (PPIG) di Kantor Kementerian Transmigrasi, Kalibata, Jakarta, Kamis (18/12/2025).

Delegasi PPIG yang dipimpin Indonesia Executive Chairman Mr Sim dan Director of The Economic Diplomacy Office Mr Jay Yu datang untuk menjajaki peluang investasi sektor bambu di Indonesia. Dalam pertemuan tersebut, PPIG memaparkan potensi reed bamboo yang dinilai memiliki nilai ekonomi tinggi dan prospek industri yang luas.

Reed bamboo dapat diolah menjadi serat bambu (fiber bamboo) yang digunakan sebagai bahan baku berbagai produk tekstil, seperti kaos, jaket, kaos kaki, penutup kepala, dan produk fesyen lainnya. Selain itu, daun bambu dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak, khususnya sapi. Menurut Jay Yu, reed bamboo juga berperan dalam mereduksi karbon dioksida sehingga berpotensi menjadi komoditas pasar karbon bernilai tinggi.

Dari sisi budidaya, reed bamboo relatif mudah dikembangkan. Tanaman ini dapat bertahan hingga 15 tahun tanpa pupuk dan rekayasa budidaya khusus. Dengan lahan sekitar 0,27 hektare, petani sudah dapat menanam reed bamboo. Dalam satu hektare lahan, tanaman ini diklaim mampu menghasilkan keuntungan hingga 12.750 dolar AS per tahun, dengan harga bibit sekitar 0,6 dolar AS per batang.

PPIG menyatakan keinginannya untuk menjadikan Indonesia sebagai produsen serat bambu terbesar di Asia Tenggara. Untuk itu, investasi yang direncanakan mencakup seluruh rantai produksi, mulai dari penanaman hingga pengolahan. Investor dari China juga berencana membangun pabrik pengolahan, dengan satu pabrik direncanakan berdiri di setiap lahan seluas 70 hektare.

Menanggapi rencana tersebut, Viva Yoga menyatakan masyarakat Indonesia sudah akrab dengan bambu, baik yang dibudidayakan maupun yang tumbuh alami. Ia menegaskan bahwa pengembangan bambu di kawasan transmigrasi sejalan dengan program Kementerian Transmigrasi.

Viva Yoga juga mengungkapkan pengalamannya mengunjungi Yayasan Bambu Indonesia di Cibinong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, yang memiliki 161 varietas bambu. Dari beragam varietas tersebut, pemerintah akan memilih jenis yang paling sesuai untuk dikembangkan di kawasan transmigrasi.

Sebelumnya, kerja sama penanaman bambu juga pernah dilakukan di Kawasan Transmigrasi Ponu, Kabupaten Timor Tengah Utara, Nusa Tenggara Timur, untuk pengembangan biomassa sebagai sumber energi listrik. Proyek tersebut dilaksanakan bersama salah satu anak perusahaan BUMN dan hingga kini masih dalam proses.

Mantan anggota Komisi IV DPR RI dua periode itu menegaskan pentingnya industrialisasi di kawasan transmigrasi sebagai bagian dari transformasi transmigrasi di era Presiden Prabowo Subianto. Menurutnya, transmigrasi tidak lagi sekadar memindahkan penduduk, tetapi harus berorientasi pada peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Dalam setiap investasi di kawasan transmigrasi, Viva Yoga menekankan agar transmigran dan masyarakat setempat dilibatkan secara aktif. Selain memperoleh manfaat ekonomi, keterlibatan tersebut diharapkan dapat menumbuhkan rasa memiliki dan tanggung jawab dalam menjaga keberlanjutan investasi.

Tinggalkan Balasan