KEDIRI, TelusuR.id – Meski tidak pernah nyantri atau mondok, namun sejumlah kebijakan yang telah di tekankan sangat religius. Itulah sosok pemimpin muda Vinanda Prameswati sebagai Walikota Kediri ini sangat berharap dalam kepemimpinannya bersinergi dengan Pesantren.
Alumni Magister Kenotariatan Universitas Airlangga Surabaya ini memiliki jargon MAPAN kepanjangan dari Maju, Agamis, Produktif, Aman dan Ngangeni. Ia mengaku begitu terharu dan bangga saat menerima penghargaan dari Forkom Jurnalis Nahdliyin (FJN) sebagai Tokoh Muda Inspiratif 2025.
“Alhamdulillah, kami sangat terharu menerima apresiasi dari teman-teman wartawan FJN. Padahal saya bukan dari kalangan ning, tidak pernah mondok juga. Makanya saat diberi tahu saya kaget,” ujarnya seusai menerima penghargaan dari FJN di rumah dinas, Kamis (30/10).
Meski demikian dia mengaku penghargaan yang diberikan ini akan memacu kembali semangatnya untuk melayani masyarakat dan bekerja maksimal membangun Kota Kediri yang Agamis dan Ngangenin.
Karena menurutnya, Kota Kediri kebetulan juga adalah Kota Agamis yang terdapat banyak pondok pesantren yang berabad lalu berdirinya seperti Ponpes Lirboyo. Tak hanya itu, sejumlah tokoh nasional juga dari Pesantren yang ada di Kota Kediri.
“Kota Kediri ini tak lepas dari peran Pesantren. Ada Kiai Anwar Mansyur dari Lirboyo dan Ketua MUI Kiai Anwar Iskandar juga dari Kota Kediri,” tuturnya.

Walikota termuda di Jawa Timur menilai bahwa hal ini selaras dengan salah satu program MAPAN yang direalisasikan dalam membangun Kota Kediri. Yakni mewujudkan penguatan tatanan sosial dan sumberdaya manusia yang berkeTuhanan dengan nilai kerukunan untuk membentuk “Self Control”.
“Alhamdulillah, saya juga pengurus Fatayat NU. Jadi, sedikit banyak meski tidak pernah mondok juga sedikit mengerti. Karena saya juga sering sowan kepada beliau-beliau para Kiai, juga sowan kepada Ketum PBNU Gus Yahya,” ungkapnya.
Vinanda sendiri adalah dara kelahiran Kota Surabaya pada 12 Juni 1998. Dan mengenyam pendidikan dasar hingga menengah di Kota Kediri. Dan saat pertama kali dilantik sebagai wali kota pada tahun 2025 baru berusia 26 tahun. Sehingga menjadi kepala daerah termuda di Indonesia hingga saat ini.
Dalam kepemimpinannya di Kota Kediri, Sarjana Hukum Universitas Brawijaya ini menganggap sebuah tantangan adalah motivasi membangun kekuatan. Menurutnya, hal tersebut diibaratkan sedang berlayar dalam suatu kapal bersama.
“Kita harus kompak. Dan selalu saya tekankan kepada seluruh keluarga besar untuk selalu berkolaborasi dan kerja sama. Karena tujuan kita sama,” ujarnya.
Ditanya apakah dahulunya sempat bercita-cita menjadi wali kota? Vinanda menjawab semuanya terjadi melalui proses. Menurutnya, keinginan menjadi walikota ini mengalir begitu saja, sejak masyarakat meminta dirinya untuk maju dan menjadi wali kota.
“Tentunya, saya restu minta orang tua, lalu menjalankan shalat istikharah dan sebagainya. Alhamdulillah, dalam proses perjalanan yang dilalui ditakdirkan menjadi wali kota. Dan saya melihat ini sebuah pengabdian, amanah yang besar. Sehingga saya harus melakukan yang terbaik untuk masyarakat Kota Kediri,” tutup Mbak Wali, sapaan karibnya.
Sementara, Ketua FJN Didi Rosadi menilai meskipun masih usia muda tak menjadi penghalang bagi Vinanda untuk bisa memimpin.”Ini menunjukkan juga bahwa anak muda sebenarnya bisa. Mbak Wali Vinanda ini jadi wali kota termuda di Indonesia untuk saat ini,” katanya.



