Beranda blog Halaman 365

FPD Jatim Nyatakan Dukung Anies-AHY untuk Pilpres 2024

0

SURABAYA, TelusuR.ID – Kelompok masyarakat yang tergabung dalam Forum Pesantren Desa (FPD) Jawa Timur (Jatim) memberikan dukungan kepada H. Anies Rasyid Baswedan dan H. Agus Harimurti Yudhoyono, (AHY) sebagai Bakal Calon (Bacalon) Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia 2024-2029 mendatang.

Hal itu disampaikan langsung oleh Moh. Waldi. SH selaku Ketua FPD Jatim kepada media ini saat menggelar konsolidasi di Sekretariatnya di daerah Jemursari Kota Surabaya. Menurutnya, tantangan Indonesia ke depan akan berbeda dengan saat ini, salah satunya tantangan digitalisasi di semua sektor, ekonomi hukum dan pendidikan.

“Kita butuh pemimpin muda yg dirasa mampu mengatasi persoalan itu. Maka, sosok yang kami rekomendasikan sebagai Presiden dan Wakil Presiden adalah Bapak Anies Baswedan dan AHY,” katanya menjelaskan, Rabu 22 Maret 2023.

Lebih lanjut, dirinya mengungkapkan adanya FPD ini bertujuan untuk membuat lebih muda konsolidasi pesantren di sejumlah desa yang tersebar di sejumlah daerah di Jawa Timur.

“Dibuat suatu perkumpulan atau komunikasi yang lebih bagus dan mempermudah kita membuat suatu acara event atau kegiatan lainnya,” katanya menegaskan.

Waldi menambahkan, berdasarkan data dari Kementerian Agama (Kemenag) pada tahun 2021 mencatat 4.452 pesantren tersebar diberbagai kabupaten dan kota dengan jumah santri aktif 323.293 santri mukim. Dan 241.006 santri kalong (istilah lain santri yang tidak mukim).

Jika diperinci, Jember merupakan Kabupaten di Jawa Timur dengan jumlah paling banyak, yakni 611 pondok pesantren. Kabupaten Sampang menempati urutan kedua dengan 352 pondok pesantren. Setelahnya ada 262 pondok pesantren di Kabupaten Bojonegoro.

“Berikutnya, jumlah pondok pesantren di Kabupaten Kediri dan Pamekasan masing-masing sebanyak 250 dan 218 pondok pesantren. Lalu, ada 189 pondok pesantren di Kabupaten Pasuruan,” katanya merinci.

“Adapun, Kota Madiun memiliki pondok pesantren paling sedikit di Jawa Timur, yakni hanya 8 pondok pesantren. Di atasnya ada Kota Mojokerto dan Kota Probolinggo dengan jumlah masing-masing 11 dan 13 pondok pesantren,” sambungnya.

Pihaknya menambahkan, generasi generasi hebat di Indonesia itu awalnya dari pesantren pesantren desa yang memang itu punya potensi besar untuk mencetak generasi generasi hebat.

“Nah ini perhatian pemerintah, perhatian semua elemen untuk FPD itu lebih baik ke depan. Karena itu suatu pondasi untuk mencetak generasi emas,” pungkasnya.

Delapan Pemda Komitmen Perbaiki Layanan Publik, Ombudsman Serahkan Piagam Penghargaan

0

SURABAYA, TelusuR.ID – Ombudsman RI Perwakilan Jawa Timur menyerahkan piagam penghargaan untuk delapan pemda yang mendapatkan zona kepatuhan tinggi (zona hijau) dalam penilaian survei kepatuhan UU No 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik. Delapan pemda itu adalah Pemkot Surabaya, Pemkab Sidoarjo, Pemkab Pasuruan, Pemkot Probolinggo, Pemkab Lumajang, Pemkab Tuban, Pemkab Banyuwangi, dan Pemkab Jember.
Kepala Perwakilan Ombudsman RI Jawa Timur Agus Muttaqin menyerahkan langsung piagam penghargaan tersebut di kantornya, Senin (20/3). Dari penerima penghargaan yang hadir, antara lain, Bupati Tuban Aditya Halindra Faridzky, Wakil Bupati Lumajang Indah Amperawati, Sekda Pemkab Pasuruan Yudha Triwidya Sasongko, dan Asisten I Pemkot Surabaya Erna Purnawati.
Agus mengatakan, penyerahan piagam tersebut merupakan rangkaian akhir dari penilaian survei kepatuhan 2022. Pemda yang mendapatkan zona hijau, berhak menerima piagam penghargaan sekaligus raport penilaian. ”Piagam dan raport itu seharusnya diserahkan pada akhir 2022 atau selambat-lambatnya Januari 2023. Namun, kami baru sempat menyerahkan sekarang karena banyaknya kegiatan kantor perwakilan,” kata Agus.
Sebelumnya, ada 15 pemda di Jawa Timur yang mendapatkan zona hijau. Yakni, Pemprov Jawa Timur, Pemkab Ngawi, Pemkab Sidoarjo, Pemkot Surabaya, Pemkab Pasuruan, Pemkot Probolinggo, Pemkab Lumajang, Pemkab Tuban, Pemkab Banyuwangi, dan Pemkab Jember. Lalu, Pemkab Trenggalek, Pemkab Kediri, Pemkab Ponorogo, dan Pemkot Blitar.
Mereka mendapatkan skor kepatuhan tinggi (78-100). Sedang pemda lainnya di Jawa Timur mendapatkan skor kepatuhan sedang atau masuk zona kuning.
Aguis menegaskan, Ombudsman memberikan saran perbaikan kebijakan dan tata kelola bagi penguatan sistem layanan publik dan pencegan maladministrasi. Pertama, mendorong kepala daerah mengimplementasikan dan memahami standar pelayanan serta pemenuhan unit pengelolaan pengaduan di seluruh OPD/unit kerja. Kedua, kepala daerah mengevaluasi dan mengawasi dalam pelaksanaan UU No 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik.
”Ketiga, kepada daerah disarankan memberi apresiasi kepada pimpinan OPD/unit kerja yang mendapatkan zona hijau. Dan, keempat, kepala daerah mendorong pimpinan unit kerja untuk konsisten meningkatkan kepatuhan terhadap pemenuhan standar pelayanan sesuai UU No 25 Tahun 2009,” kata Agus.
Setelah penyerahan piagam dan raport, masing-masing perwakilan pemda meneguhkan komitmen untuk tetap mematuhi UU No 25 Tahun 2009.
Pemkot Surabaya, misalnya, Erna mengatakan bahwa wali kota memasukkan perbaikan kualitas pelayanan publik dalam perjanjian kerja pimpinan OPD/unit kerja. Salah satunya membuat ruang pelayanan di kelurahan seperti di hotel. ”Yang tidak tercapai nanti dievaluasi,” kata dia. Selain itu, Pemkot Surabaya akan menambah jumlah mal pelayanan publik (MPP) dari dua menjadi lima pada tahun ini. Dua yang sudah beroiperasi MPP Siola dan Menur. Tiga MPP baru adalah TIJ Joyoboyo, Tandes, dan Kenjeran.

Anggota DPR-RI Haerul Amri Minta Pemerintah Jamin Guru Swasta

0

JAKARTA , TelusuR.ID – Anggota Komisi X DPR RI dari Fraksi Partai NasDem, Mohammad Haerul Amri menemui para guru yang tergabung dalam Persatuan Guru Seluruh Indonesia (PGSI), saat melakukan unjuk rasa di depan kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (20/3).

Para guru menyampaikan beberapa tuntutan. Di antaranya, mengangkat guru swasta sebagai Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) tanpa diskriminasi, termasuk bagi guru TK dan guru PAUD.

Selain itu, membuka kembali inpassing dan penghargaan masa kerja inpassing guru swasta, serta membayarkan tunggakan inpassing guru swasta 2011-2014.

Perwakilan PGSI juga diterima Komisi X DPR RI untuk menyampaikan tuntutan dan aspirasi mereka.

“Dulu ada istilah untuk guru, pahlawan tanpa tanda jasa. Saat ini, guru tanpa tanda penghargaan,” ujar Gus Amri, sapaan akrab Haerul Amri.

Legislator NasDem dari Dapil Jawa Timur II (Probolinggo – Pasuruan) itu menegaskan, guru sebagai tumpuan harapan pendidikan Indonesia mesti diberi penghargaan setinggi-tingginya.

Pemerintah harus menjamin para guru, termasuk juga bagi para guru yang belum diangkat menjadi PNS/PPPK. Banyak dari mereka yang sudah mengabdikan diri sebagai guru selama puluhan tahun.

“Semoga apa yang menjadi perjuangan para guru bisa segera terwujud. Mudah-mudahan Mas Nadiem (Mendikbud-Ristek) segera memberikan kebijakan yang memihak para guru,” tukas Gus Amri.

New Simpang Tiga (34): HUKUM SECANGKIR KOPI PAGI

0

JOMBANG, TelusuR.ID      –      Proses. Begitu kata mereka. Satu kata yang enteng diucap dan seharusnya tidak sulit dimaknai. Ia menunjuk satu situasi bahwa segalanya butuh waktu, pendalaman, pematangan, dan ketangguhan sudutt pandang. Ya, proses. Semua tidak boleh berlangsung instan.

Proses. Selain diperlukan untuk bisa sampai dan menyentuh hasil optimal, juga secara alamiah tidak mungkin bisa dihindari. Jalan bim salabim hanyalah milik para pesulap. Lintasan Abrakadabra hanya bisa dilalui oleh pemain sirkus. Sedang diluar itu, semua perlu proses dan butuh rentang waktu.

Tentu saja rentang waktu yang dimaksud itu harus berujung deadline. Tentu, pendalaman dan pematangan yang ditempuh harus bermuara pada terpenuhinya detail sebuah unsur. Ya, bukan proses yang tanpa ujung. Bukan pendalaman yang tanpa kalkulasi. Dan bukan pencarian yang tidak terbatas.

Rentang waktu itu sudah dimulai sejak awal 2023. Tepatnya awal Januari lalu. Berarti sudah berlangsung 3 bulan. Itu belum termasuk tambahan proses pada ruang pulbaket (pengumpulan bahan dan keterangan). Jika dirunut, seluruh proses yang ditempuh sudah memakan waktu dikisaran 6 bulan.

Tiba-tiba topik tentang rentang waktu menjadi sesuatu yang seolah tak terjamah. Ia bergeser makna karena terseret arus subyektivitas. Diksi tentang cukup dan tidak cukup menjadi sesuatu yang personal. Ia cenderung dimaknai sesuai ruang selera dan garis kepentingan. Dan publik, seolah tidak lagi bisa turut campur.

 

Padahal ini hanya persoalan yang terbilang remeh-temeh. Hanya soal dugaan kerugian negara. Sebuah dugaan dengan petunjuk awal yang jelas berupa Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) BPK. Ini tentang aset daerah yang seharusnya berujung PAD tetapi hasilnya nol rupiah dan nol transaksi sewa.

Praktik itu diketahui berlangsung 5 tahun sejak 2017 hingga 2021. Bukan pembiaran. Karena meskipun terlambat, Bupati akhirnya menerbitkan SK tarif sewa ruko pada 2021. Dimana satu unit ruko ditarif sewa sekitar Rp 100 juta per 5 tahun. Ini bentuk tindaklanjut LHP BPK yang ditolak penghuni ruko.

Tidak semua penghuni, memang. Sebagian ada yang bayar sewa dengan cara diangsur meki tidak pernah diketahui berapa nominal persisnya. Sedang sebagian kecil yang lain sudah melakukan pelunasan. Ditolak, karena pembayaran sewa ruko diwarnai atmosfir tekanan. Dan hari ini, temuan BPK berujung tidak pernah terlunasi.

Korp Adhiyaksa ambil peran. Awalnya masuk ruang Datun. Dimana Jaksa sebagai pengacara negara dilibatkan dalam proses penertiban dan penyelamatan aset daerah. Kemudian dilanjut ke bidang Intel. Yang berarti perkara sudah masuk ranah penegakan hukum. Dan sejak Januari lalu perkara telah beranjak ke tahap Lid bidang Pidsus.

Artinya, bidang Pidsus sudah bekerja dalam rentang 3 bulan. Namun kabar tentang penetapan tersangka tak kunjung terdengar. Mungkin masih dalam proses. Mungkin masih butuh waktu. Dan soal berapa tambahan waktu yang dibutuhkan, serta berapa takaran waktu yang dianggap cukup, hari ini pemaknaan kata ‘proses’ tidak lagi sesuatu yang gampang.

Tafsir tentang terpenuhinya 2 alat bukti yang cukup, seolah bukan domain publik untuk boleh mencicipi pemahaman. Materi hukum seperti LHP BPK dan SK Bupati tentang tarif sewa ruko, entah dianggap apa. Juga, sikap penghuni ruko yang tak kunjung melakukan pelunasan sewa, entah masuk kategori tafsir yang mana.

Mungkin, tafsir tentang 2 alat bukti yang cukup memang tidak sedangkal yang aku pikir. Sama dangkalnya ketika aku berfikir bahwa menutup ruko atau mengusir penghuni dari sana seharusnya tidak serumit ini. Dan pagi ini, secangkir kopi panas mengajakku tetap terjaga untuk senantiasa bahagia hidup di Indonesia Raya. (din)

Kembangkan Produk Wisata Melalui Analisis Data Desa Wisata

0

SURABAYA, TelusuR.ID – Akademi Desa Wisata (Demi Dewi) 2023 memasuki hari terakhir. Program pelatihan dan pengembangan keterampilan bagi pelaku dan pegiat desa wisata tersebut, fokus mendalami strategi pengembangan ekonomi kreatif untuk penguatan desa wisata.

Berlangsung secara hybrid; daring di zoom cloud meeting dan luring di Hotel ARTOTEL TS Suites Surabaya pada 17 Maret 2023, hadir narasumber seorang data analyst specialist dengan segudang pengalaman yakni Ainun Najib. Ia mengupas tentang manajemen analisis data untuk pengembangan desa wisata.

Manajemen data bagi desa wisata saat ini telah menjadi kebutuhan dalam rangka mengumpulkan dan menganalisis data sebagai cara untuk menawarkan dan mengembangkan produk wisata. Praktisi desa wisata juga harus selalu mengikuti tren permintaan wisata yang ada di masyarakat.

“Sebab itulah para praktisi harus mulai mempelajari cara mudah untuk menganalisis data-data yang dikumpulan dari pengunjung atau wisatawan,” kata Ainun, dalam keterangannya, Sabtu (18/3/2023).

Secara sederhana, pengumpulan dan analisis data untuk pengembangan desa wisata bisa dilakukan dengan pencatatan manual. Pengelola desa wisata yang lebih maju pengelolaannya, juga bisa memanfaatkan teknologi.

“Bisa menggunakan QR Code, google docs, social media ataupun aplikasi yang sejenis untuk mengenali karakteristik pengunjung, pengalaman yang dirasakan saat berkunjung, kritik dan saran untuk pengembangan produk wisata,” ucap Ainun, pemuda asli Gresik Jawa Timur yang sedang meniti karir di Singapura tersebut.

Di akhir pemaparannya, Ia juga menekankan kepada para peserta Demi Dewi 2023 sebagai pengelola desa wisata tidak boleh patah semangat untuk terus berkreasi dari analisis data yang telah diperoleh untuk menjadikan desa wisatanya tangguh dan dapat membangun produk wisatanya secara berkelanjutan.

“Teman-teman, pengelola serta penggerak desa wisata jangan pernah lelah untuk tetap berinovasi dan melalukan modifikasi dalam menghadapi problematika yang datang dalam mengelola desa wisata,” tutur penggagas kawalpemilu.org itu.

Sementara itu, Dwi Ariady Kusuma founder akademi desa wisata mengungkapkan bahwa materi tentang manajemen analisis data merupakan salah satu faktor penting dalam pengembangan desa wisata.

“Hasil kajian FGD Tim Ahli akademi desa wisata beberapa waktu lalu telah merumuskan bahwa manajemen analisa data adalah salah satu kebutuhan utama bagi pengelola desa wisata,” ujar Ari.

Temuan dari tim ahli tersebut kemudian ditindak lanjuti oleh tim pelaksana Akademi Desa Wisata untuk dijadikan sebagai salah satu materi pokok dalam pelatihan tahun ini.

“Paparan mas Ainun sangat dinantikan oleh seluruh peserta, tak hanya pematerinya yang dianggap menarik karena sangat dikenal publik, tetapi para peserta juga antusias bertanya dan penasaran tentang pentingnya data sebagai instrumen pengembangan desa wisata,” ungkap Ari, mantan stafsus Mensos RI era Khofifah Indar Parawansa.

Sebagai informasi tambahan bahwa Pelatihan Akademi Desa Wisata ini turut didukung oleh sejumlah institusi, diantaranya Fakultas Vokasi Universitas Airlangga, LPPM Unesa dan beberapa pihak swasta meliputi Sampoerna untuk Indonesia, PT Solusi Bangun Indonesia, Bank Jatim, Bank UMKM Jatim, Grab Indonesia dan PT Penjaminan Infrastruktur Indonesia. Tak ketinggalan, Media Times Indonesia turut ambil bagian memberikan dukungan. (*)

Kader PKS Berbaur dengan Ribuan Warga Turut Sambut Kehadiran Anies Baswedan, Ketua PKS Jatim: Terima Kasih, Ini Wujud Kerinduan

0

SURABAYA, TelusuR.ID – Kedatangan Bakal Calon Presiden yang diusung PKS, Nasdem dan Partai Demokrat, Anies Rasyid Baswedan di Bandara Internasional Juanda, Jumat (17/3/2023) disambut meriah masyarakat. Ribuan masyarakat itu berebut jabat tangan dengan mantan Gubernur DKI Jakarta itu.

Tak hanya masyarakat umum dan relawan, Kader PKS Jawa Timur pun turut serta menyambut. Sambutan meriah masyarakat itu, diapresiasi Ketua DPW PKS Jawa Timur yang juga turut mendampingi Anies Baswedan di Bandara.

Menanggapi antusiasme relawan dan masyarakat Surabaya, Ketua DPW PKS Jawa Timur Irwan Setiawan memberi apresiasi.

“Terima kasih warga Surabaya, warga Jawa Timur. Antusiasme masyarakat ini, wujud kerinduan. Jadi awal yang baik, tanda kemenangan Pak Anies di Jawa Timur,” kata Irwan dalam keterngannya, Sabtu (18/3/2023).

Irwan juga menyampaikan, beberapa waktu sebelumnya, ia bertemu langsung dengan puluhan simpul relawan Anies Baswedan.

“Saya melihat semangat dan antusias yang sama, luar biasa,” kata pria 47 tahun itu.

Tak hanya itu, Irwan juga merasakan hal yang sama saat beberapa waktu lalu Irwan bertemu dengan para kiai, ulama dan habaib di Madura.

“Ulama dan habaib di Madura komitmen mendukung Pak Anies, alhamdulillah,” ujar alumnus FISIP Unair ini.

Pria yang akrab disapa Kang Irwan itu mengatakan, PKS Jawa Timur sebagaimana arahan DPP dan Presiden PKS di momentum rakernas, harus menjalankan komitmen untuk kerja keras, cerdas, ikhlas, dan tuntas untuk memenangkan PKS dan Mas Anies.

Untuk itu, PKS Jatim turut menyambut kedatangan mas Anies di Jawa Timur. Semua pengurus, anggota ikut berpartisipasi dan membawa relawan untuk hadir di semua tempat acara bersama mas Anies.” pungkas Kang Irwan.

Kunjungan Anies Rasyid Baswedan di Jawa Timur diagendakan selama 3 hari hingga Ahad, 19 Maret 2023.

Selain bertemu warga dan Relawan Anies di Surabaya, Anies diagendakan berkunjung ke Sampang untuk menemui ulama, habaib dan kiai seluruh Madura di Sampang. (*)

New Simpang Tiga (34): DINDING RUKO SIMPANG TIGA DIPENUHI WAJAH PEMGUASA

0

JOMBANG, TelusuR.ID      –      Sore di pelataran ruko Simpang Tiga, Jombang. Pedagang kaki lima nampak memulai geliat ekonomi. Beberapa orang sibuk mendorong gerobak untuk pajangan lapaknya. Jajanan soto ayam, pangsit mie, dan kue gorengan, tiba-tiba menjelma sebagai iconik ekonomi kaum pinggiran.

Menjelang bedug maghrib dan setelahnya, ketiga lapak kaki lima yang menempati pelataran dan emperan ruko Simpang Tiga itu tak henti dari deru motor pengunjung. Silih berganti. Datang dan pergi. Beberapa tukang parkir turut mengais rezeki. Hingga kira-kira pukul setengah 10 malam situasi kembali sepi.

Di pelataran ruko bagian timur, pemandangan kontras cukup menusuk mata. Dari beberapa PKL yang menjajakan makanan dan menjajakan harapan, nampak hanya satu dua pengunjung yang mampir menikmati sajian. Sementara di belakang ruko, sekelompok penggemar bola sodok nampak asyik dengan dunianya sendiri, tak perduli keadaan sekitar.

Seperti gula dan semut, situasi seperti itu selalu terulang menjelang sore hingga malam hari. Selalu begitu, dan berlangsung setiap hari. Sudah lama. Bertahun-tahun. Akan selalu begitu. Dan tak ada urusan dengan polemik yang mendera palataran dan emperan ruko yang mereka tempati untuk berjualan.

Ya, polemik konyol. Polemik yang didalamnya mengabarkan sikap gamang elit penentu kebijakan. Para penguasa. Polemik yang didalamnya beraduk jutaan rasa. Antara pura-pura buta dan tuli padahal mereka paham bahkan menguasai panggung. Antara pura-pura bodoh padahal mereka punya maksud tertentu yang entah apa namanya.

Sekali waktu silahkan mereka datang dan menyaru sebagai penikmat jajanan kaum nisbi. Mungkin mereka nongkrong di kursi soto ayam atau duduk lesehan di lapak pangsit mie. Sambil menatap bangunan ruko yang ada didepannya. Sesekali padangan jatuh ke lantai dua gedung ruko. Sepi. Hanya pendaran cahaya menyapu tembok-tembok kokoh itu.

Ditengah samar cahaya dan samar segala maksud, tembok lantai dua ruko nampak seperti goresan mozaik. Sebuah gambar yang disusun dari potongan-potongan kecil peristiwa kesejarahan ruko Simpang Tiga yang sarat kepentingan. Ada pamer kuasa, ada potret pemanjaan ego sektoral, tentang perlindungan sesama kolega, termasuk masalah klasik tentang kepentingan perut.

Ya. Kepentingan kekuasaan yang lebih dimaknai sebagai simbol kekuatan. Sikap adigang-adigung, dan prinsip suka-suka gua. Ya, perlindungan sesama kolega. Antara satu pemimpin dan pemimpin berikutnya seperti satu koor untuk saling menutupi aib. Juga, kepentingan perut yang diduga bermuara pada oknum tertentu.

Ditengah hamparan mozaik yang tidak lagi bisa dihitung detailnya itu, tiba-tiba menyeruak sebuah potongan wajah. Seperti pas foto ukuran 3 x 4. Serba hitam putih. Bukan satu. Tapi banyak. Berjejer. Berderet. Wajah-wajah yang melempar senyum kecut dan meremehkan siapapun yang memandangnya.

Wajah-wajah yang tersamarkan. Tetapi cukup kuat menggores dan terpampang di tembok-tembok ruko Simpang Tiga. Wajah yang hanya diam tapi seperti bersuara. Tentang sebuah pesan dan penegasan. Bahwa apapun yang kou perbuat tentang ruko Simpang Tiga, semua akan berakhir sia-sia.

“Silahkan menggelar aksi demo sepuasnya, bila perlu setiap hari. Silahkan menempuh jalur apapun, dan masuk ke ruang-ruang hearing atau audensi. Silahkan terbitkan bertumpuk-tumpuk rekomendasi dan audit lembaga malaikat, bila perlu. Tapi ketahuilah, bukan kamu, tapi kami yang berkuasa…, “lirih suara seperti meluncur dari wajah-wajah yang ada di tembok ruko. (din)

 

 

Dugaan Kerugian Negara Lahan PKL (12): BUPATI DISOMASI, DIBERI WAKTU 7 HARI

0

JOMBANG, TelusuR.ID      –      Aliansi LSM Jombang (ALJ) melayangkan surat somasi kepada Bupati, Rabu (14/3/2023). Dalam somasi tersebut, Bupati diberi waktu 7 hari sejak surat dikirim, untuk menyelesaikan dugaan kerugian negara atas pengadaan lahan PKL alun-alum Jalan KH Ahmad Dahlan tahun 2021. Kerugian ditaksir Sebasar Rp 6,5 milyar.

Surat somasi diteken perwakilan presidium LSM Pospera (Posko Perjuangan Rakyat), dan dikirim melalui Bagian Umum Setdakab. Tidak hanya Bupati sebagai penanggungjawab APBD Jombang, tapi somasi juga diluncurkan kepada Kepala Disdagrin dan tindakan surat dikirim ke pemilik lahan Ita Triwibawati.

Surat somasi nomer: 04/Pospera/somasi/III/2023 itu dipastikan sudah sampai di meja pihak terkait. Setelah diterima Bagian Umum Setdakab, pengiriman surat dilanjutkan ke kantor Disdagrin dan tindakan surat diteruskan ke Kapolres, Kajari, serta kediaman Ita Triwibawati sebagai pemilik lahan.

Aan Teguh Prihanto, Ketua DPC Jombang LSM Pospera, menunjukkan bukti tanda terima surat somasi dari Bagian Umum Setdakab Jombang.

“Jika dalam waktu 7 hari tidak ada jawaban dari Bupati, maka Aliansi LSM Jombang akan menindaklanjuti dugaan kerugian negara ini ke ranah peradilan, “tegas Aan Teguh Prihanto, Ketua DPC Jombang LSM Pospera, sesaat setelah mengantongi bukti tanda terima dari Bagian Umum Setdakab Jombang.

Dijelaskan Aan, secara garis besar, surat somasi berisi tuntutan agar Bupati sebagai penanggungjawab APBD Jombang bersedia melakukan evaluasi atas pembelian lahan PKL alun-alun Jalan KH Ahmad Dahlan yang diduga kuat terjadi kemahalan harga. Khususnya, pembelian lahan dari Ita Triwibawati.

Evaluasi perlu dilakukan, tutur Aan, selain untuk menghindari dugaan terjadi kerugian negara, juga untuk memenuhi aspek pengadaan barang dan jasa Pemerintah yang melarang terjadinya praktik double tarif. Karenanya lahan milik Ita Triwibawati perlu dilakukan penyesuaian harga berdasarkan putusan Pengadilan.

Aan berpandangan, jika penyesuaian (penyetaraan) harga tidak dilakukan, maka penetapan harga lahan milik Ita Triwibawati dan milik Gono yang letaknya berdampingan dan terbilang satu obyek (zonasi) itu terancam terjadi double tarif. Dan itu dipastikan melanggar ketentuan pengadaan barang dan jasa Pemerintah.

Aan Teguh Prihanto saat menyerahkan surat somasi di kantor Dinas Perdagangan dan Perindustrian Pemkab Jombang.

Dugaan double tarif terjadi, lanjut Aan, karena lahan milik Gono yang pada 2021 dibandrol sebesar Rp 16,2 milyar oleh lembaga appraisal itu tiba-tiba dianulir dan ditetapkan PN diangka Rp 10,7 milyar pada 2022. Sementara lahan milik Ita Triwibawati yang hanya diappraisal satu kali pada 2021 itu sama sekali tidak terjadi perubahan.

Bahkan Pemkab sudah membayarnya sebesar Rp 17,4 milyar pada tahun itu juga. Sementara lahan milik Gono yang terbilang sama (secara nilai tanah) dengan lahan milik Ita Triwibawati harus terpangkas sebesar 30 persen. “Harusnya lahan milik Ita juga turun 30 persen, karena untuk barang yang sama tidak boleh ada beda tarif, “tegas Aan.

“Jika putusan Pengadilan adalah segalanya, dan disepakati sebagai satu-satunya tolak ukur, maka tidak ada alasan untuk tidak dilakukan penyesuaian (penyetaraan) harga terhadap lahan milik Ita Triwibawati. Apalagi ini menyangkut keuangan negara, sehingga penyetaraan harga wajib dilakukan, “tegas Aan.

Aktivis dan pegiat LSM berpenampilan gondrong ini menegaskan, bahwa pada polemik appraisal ini, sebenarnya kepekaan Bupati sebagai pemimpin sedang diuji. Karena sebenarnya transaksi sudah sah sekalipun tidak dilakukan penyesuaian harga. Namun munculnya selisih harga menjadi catatan serius karena berpotensi menciderai rasa keadilan masyarakat.

“Tidak masalah Bupati tidak melakukan penyetaraan harga lahan. Tapi munculnya selisih harga hingga 30 persen jelas sebuah catatan moral. Dan Aliansi LSM Jombang akan mengambil alih kewajiban Bupati sebagai pemimpin, jika langkah penyetaraan tidak dilakukan. Dan kewajiban itu berarti ranah peradilan, “ujar Aan. (red/laput/din)

Wisuda ke-IX IAI Bani Fattah Tambak Beras Jombang, Gubernur Khofifah Harapkan Wisudawan Adaptif dan Kreatif

0

JOMBANG, TelusuR.ID – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa bersama Wakil Presiden RI KH Ma’ruf Amin menghadiri Wisuda ke-IX Institut Agama Islam (IAI) Bani Fattah Tahun Akademik 2022-2023 di Tambakberas, Jombang, Rabu (15/3).

Wapres Ma’ruf Amin menyampaikan orasi ilmiah dalam acara tersebut. Wapres menyebut bahwa syarat untuk dapat menjadi Khalifah atau pemimpin di bumi adalah dengan memiliki ilmu baik ilmu duniawi maupun ukhrowi. Mengingat, kata Wapres, manusia diberi tanggung jawab untuk memakmurkan bumi.

“Karena itu kita hidup di dunia untuk bisa membangun, hal ini harus mengerti tentang cara mengelola apa yang ada di bumi untuk memakmurkannya,” Imbuhnya.

Sementara itu, usai wisuda dalam kesempatan tersebut, Gubernur Khofifah berpesan kepada seluruh wisudawan untuk terus mengembangkan ilmu pengetahuan dan bersiap menghadapi tantangan besar yang terjadi di era Revolusi Industri saat ini. Selain itu, kata Khofifah , wisudawan juga harus memiliki mindset yang terbuka terhadap perubahan, mindset yang adaptive, dan kreatif sehingga mampu bersaing dengan lulusan manapun.

“Jangan membuat batasan-batasan kemampuan, apa yang bisa dilakukan dan tidak bisa dilakukan. Lulusan perguruan tinggi harus mampu bertindak secara kreatif, mampu berkomunikasi dengan baik, dan mampu melakukan kerjasama dan berkolaborasi menghadapi perubahan yang begitu cepat,” ungkap Khofifah.

“Singkatnya, para wisudawan harus bisa menjadi game changer atau agen perubahan saat terjun ke masyarakat. Bukan berarti seorang agen perubahan tidak boleh gagal, namun mindset yang dibangun adalah jangan pernah menyerah mencapai sebuah kesuksesan,” tambah Khofifah.

Khofifah berharap para wisudawan dapat mengimplementasikan ilmu yang didapat untuk kepentingan masyarakat dan bangsa. Khofifah meyakini jika wisudawan memiliki kompetensi inti keilmuan yang kuat ditunjang dengan Soft Skills yang kuat maka akan menjadi individu yang berhasil dan bermanfaat bagi masyarakat luas.

“Poinnya, jangan pernah bosan menuntut ilmu. Ijazah bukan batasan seseorang untuk belajar. Sukses di dunia dan di akhirat itu bekalnya adalah ilmu, semua ada ilmunya, ingin memahami dunia metaverse hari ini juga harus belajar, ingin sukses akhiratnya ya lewat ibadah yang tentu juga ada ilmunya,” pungkasnya. (*)

Dilantik Ketua GP Ansor Mojokerto, Gus Abid ; Gus Barra Itu Punya Nasab Nasib Bagus

0

MOJOKERTO, TelusuR.ID – H Muhammad Al Barra atau yang kerab dipanggil Gus Barra resmi dilantik sebagai Pimpinan Cabang GP Ansor Kabupaten Mojokerto masa khidmah 2022-2026.

Pelantikan tersebut digelar di Pendopo Kabupaten Mojokerto yang juga dihadiri sejumlah pejabat Forkopimda, ketua partai, anggota dewan, organisasi Islam, organisasi kepemudaan dan ribuan anggota ansor dan banser

Gus Muhammad Abid Umar Faruq pengurus GP Ansor Pusat mewakili Ketua Umum GP Pusat Ansor Yaqut Cholil Qoumas menyampaikan beberapa hal dalam pelantikan Gus Barra dan jajaran pengurusnya.

“Pertama, Ketum GP Ansor Pusat yang sekarang di Mekkah menitipkan salam kepada para sahabat Ansor di Mojokerto,” kata Gus Abid, pangilan akrabnya.

Kedua, Gus Abid melanjutkan, proses resepsi pelantikan Gus Barra sebagai ketua GP Ansor diwilayah ini sangat spektakuler atau luar biasa. Sebab, saat proses pemilihan sebelumnya yang penuh liku liku, akhirnya terpilih seorang kader terbaik Ansor yaitu Muhammad Al Barra atau Gus Barra.

Pihaknya sangat mengapresiasi dan bangga dengan Gus Barra sebagai kader terbaik Ansor di Mojokerto maupun Jawa Timur. Menurutnya, Gus Barra sudah jelas mempunyai nasab yang baik, nasibnya baik, cerdas dan dermawan.

Dia berharap kepada seluruh kader Ansor dan lainnya untuk mendukung penuh program program Gus Barra sebagai Ketua GP Ansor Kabupaten Mojokerto dalam mendharma bhaktikan buat bangsa dan negara.

“Jangan berpuas untuk saat ini, Gus Barra supaya bisa berbuat yang lebih tinggi lagi untuk kebesaran Ansor sebagai salah satu pilar NKRI. Dengan talenta dan kredibilitas mumpuni, Gus Barra akan menjadi pemimpin yang di cintai oleh rakyatnya. Teruslah bekerja, untuk berbuat yang terbaik di negeri ini,” ujar Gus Abid.

Sementara Gus Barra, Ketua PC GP Ansor Kabupaten Mojokerto menyampaikan rasa syukur kepada semua pihak atas dilantiknya kepengurusan Ansor Mojokerto itu. Terlebih Surat Keputusan (SK) sudah turun.

“Memang cukup panjang , kita menunggu SK hampir satu tahun. Tapi beginilah Ansor, kita harus berdinamika. kita terus berusaha dan berjuang pada akhirnya SK itu turun juga dan kita pelantikan,” ujar Gus Barra yang juga Wakil Bupati Mojokerto.

Soal Program Ansor ke depan, Putra KH Asep Syaifuddin ini akan menjalin kerjasama dan kolaborasi dengan berbagai pihak. Salah satunya dengan Polres Mojokerto untuk memberikan pelatihan kepada anggota Banser.

“Di banser ada Balantas (Banser Lalu LIntas), nanti dilatih oleh Kasatlantas di Polres Mojokerto. Pelatihan baris-berbaris dan seterusnya, pak kapolres (sudah) ngobrol dengan kita. Nanti kita kolaborasi,” terang Gus Barra.

Selain kolaborasi dengan berbagai pihak, Gus Barra akan terus menggelar Pelatihan Kepemimpinan Dasar (PKD) maupun Pelatihan Kepemimpinan Lanjutan (PKL) untuk mencetak generasi Ansor di Kabupaten Mojokerto.

“Kita berharap anggota Ansor Kabupaten Mojokerto semakin hari semakin bertambah, dan tidak hanya bertambah tapi terdata, jadi kita tahu berapa jumlah anggota kita,” tegas Gus Barra.

Mendekati tahun politik, menurut Gus Barra, Ansor akan berada pada posisi netral, menjadi pengayom kepada semua mansyarakat, dan ansor selalu ada di depan ketika terjadi hal yang tidak diinginkan.

“Kabupaten Mojokerto termasuk salah satu kabupaten yang pergerakan radikalisme cukup cepat. Untuk pemuda Ansor Mojokerto, khususnya di utara sungai (agar) terus masif gerakannya memberikan pemahaman-pemahaman keagamaan yang moderat,” pungkasnya.

Pelantikan PC GP Ansor Kabupaten Mojokerto dipimpin langusng Ketua GP Ansor Jatim Syafiq Syauqi dan dihadiri pula Gus Muhammad Abid umar faruq pengurus GP Ansor Pusat (saat mewakili Ketua Umum GP Pusat Ansor Yaqut Cholil Qoumas).

Disamping itu, dimeriahkan dengan penampilan bacaan sholawat Asyghil dari Azzam Nur Mukjizat. Adik Azzam ini sebelumnya pernah tampil di puncak resepsi satu Abad NU di Sidoarjo beberapa waktu yang lalu.