JOMBANG, TelusuR.ID — Sejarah seperti berputar kembali di rumah kasepuhan KH Abdul Wahab Hasbullah. Jika tidak ada perubahan agenda, kediaman salah satu pendiri Nahdlatul Ulama (NU) itu akan menjadi tempat para ulama anggota Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) bermusyawarah dalam rangkaian Muktamar ke-35 NU, Minggu (30/8/2026).
Rumah tersebut berada di kompleks Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, tepat di sebelah utara Masjid Jami’ Tambakberas, Kabupaten Jombang.
Bukan sekadar tempat bersejarah, rumah itu merupakan kediaman Mbah Wahab hingga akhir hayatnya. Kini, puluhan tahun setelah sang pendiri NU wafat, tempat tersebut kembali mendapat peran penting dalam salah satu proses paling menentukan bagi masa depan organisasi.
Di rumah inilah, para anggota AHWA dijadwalkan membahas dan menentukan sosok yang akan memimpin Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) untuk periode mendatang.
“Ini rumah kasepuhan, tempat tinggal Mbah Wahab sampai beliau wafat,” kata Wari, penjaga rumah kasepuhan, saat ditemui di lokasi, di kutip TelusuR.ID Minggu (30/8).
Pemilihan rumah Mbah Wahab sebagai lokasi sidang AHWA menghadirkan simbol yang kuat. Di tengah dinamika Muktamar ke-35 NU, proses menentukan kepemimpinan PBNU justru berlangsung di tempat yang menyimpan jejak panjang perjuangan salah satu muassis NU.
KH Abdul Wahab Hasbullah bukan hanya dikenal sebagai ulama. Ia merupakan salah satu tokoh penting yang ikut meletakkan fondasi berdirinya NU. Dari lingkungan Tambakberas pula, berbagai gagasan keumatan dan perjuangan kebangsaan berkembang serta diwariskan lintas generasi.
Karena itu, sidang AHWA di rumah kasepuhan tersebut tidak berhenti pada persoalan teknis pemilihan ketua umum.
Ada sejarah yang ikut menyertai setiap pembicaraan.
Ada pula tanggung jawab moral untuk memastikan kepemimpinan NU ke depan tetap berpijak pada kemaslahatan jam’iyah dan nilai-nilai yang diwariskan para pendirinya.
Muktamar ke-35 NU sendiri berlangsung dalam suasana yang dinamis. Mekanisme pemilihan Ketua Umum PBNU menjadi salah satu isu yang mendapat perhatian besar. Ketika AHWA kembali ditempatkan sebagai bagian penting dalam proses tersebut, rumah Mbah Wahab pun berubah menjadi salah satu titik paling menentukan dalam rangkaian muktamar.
Di rumah sederhana yang pernah menjadi tempat tinggal Mbah Wahab itu, para ulama akan membawa pembicaraan pada satu pertanyaan besar: siapa yang paling layak menerima amanah untuk memimpin NU menghadapi tantangan zaman?
Bagi warga Nahdliyin, jawabannya tentu bukan sekadar nama.
Kepemimpinan NU menyangkut arah perjalanan jam’iyah, menjaga tradisi para muassis, merawat persatuan warga, sekaligus menjawab persoalan baru yang terus berubah.
Kini, rumah Mbah Wahab kembali menjadi saksi. Dari tempat yang menyimpan jejak perjuangan salah satu pendiri NU itu, para ulama AHWA akan bermusyawarah menentukan arah kepemimpinan organisasi Islam terbesar di Indonesia.
Sejarah telah meninggalkan rumah itu sebagai warisan. Muktamar ke-35 NU kini memberinya satu babak baru: menjadi tempat lahirnya keputusan tentang siapa yang akan menerima amanah memimpin NU ke depan.
(din)