JOMBANG,TelusuR.ID — Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas tak hanya dipersiapkan di ruang-ruang persidangan. Di tengah masyarakat, semangat menyambut ribuan muktamirin juga tumbuh melalui gerakan 99 Masjid Ramah Muktamirin.
Gerakan ini menjadi bagian dari upaya warga Jombang memastikan para tamu yang datang dari berbagai daerah mendapat tempat untuk beribadah, beristirahat, bersilaturahmi, sekaligus merasakan keramahan masyarakat pesantren.
Angka 99 dipilih bukan tanpa makna. Ia merujuk pada 99 Asmaul Husna, nama-nama Allah yang mengandung nilai spiritual dan akhlak. Filosofi tersebut diharapkan menjadi napas bagi masjid-masjid yang terlibat untuk menghadirkan pelayanan dengan semangat kasih sayang, kedamaian, keamanan, dan persaudaraan.
Ketua PCNU Jombang KH Fahmi Amrullah mengatakan, gerakan tersebut menunjukkan bahwa Muktamar bukan hanya menjadi urusan panitia dan peserta. Seluruh masyarakat Jombang memiliki ruang untuk ikut mengambil bagian.
“Muktamar bukan hanya milik panitia, bukan hanya milik peserta Muktamar, tetapi menjadi momentum seluruh warga Jombang untuk bersama-sama menjadi tuan rumah yang baik. Masjid menjadi salah satu pintu utama untuk memberikan pelayanan dan memuliakan para tamu Allah yang datang ke Jombang,” ujar KH Fahmi.
Menurut dia, masjid yang masuk dalam gerakan tersebut diharapkan tidak berhenti pada fungsi sebagai tempat salat. Masjid juga dapat menjadi ruang yang membuat para muktamirin merasa diterima dan nyaman selama berada di Jombang.
“Kita ingin para muktamirin ketika datang ke Jombang merasakan keramahan masyarakat pesantren. Mereka bisa beribadah dengan nyaman, beristirahat, bersilaturahmi dan mendapatkan pelayanan yang baik. Inilah karakter Jombang sebagai Kota Santri,” katanya.
Semangat memuliakan tamu sendiri telah lama melekat dalam tradisi pesantren dan kehidupan masyarakat NU. Karena itu, kehadiran 99 masjid ramah muktamirin menjadi gambaran bahwa kesuksesan Muktamar tidak hanya ditentukan oleh kelancaran persidangan.
Ada kerja-kerja kecil di tengah masyarakat yang justru menjadi wajah pertama bagi para tamu ketika tiba di Jombang.
Masjid-masjid tersebut diharapkan menjadi titik temu antara masyarakat setempat dan muktamirin. Di sana, ibadah, silaturahmi, komunikasi, hingga pelayanan sosial dapat berlangsung dalam suasana yang sederhana dan dekat dengan kehidupan warga.
Konsep itu sekaligus menghidupkan kembali semangat menjadikan masjid sebagai ruang yang lebih luas bagi kehidupan umat. Masjid bukan hanya tempat menjalankan ibadah ritual, tetapi juga dapat menjadi pusat pendidikan, silaturahmi, musyawarah dan pelayanan sosial.
Bagi Jombang, momentum Muktamar ke-35 NU juga menjadi kesempatan untuk memperlihatkan wajah Kota Santri yang terbuka dan bersahabat.
Para tamu yang datang tidak hanya diharapkan membawa pulang hasil-hasil Muktamar, tetapi juga pengalaman tentang bagaimana masyarakat Jombang menyambut mereka dengan tulus.
Pada akhirnya, 99 Masjid Ramah Muktamirin membawa pesan sederhana: Muktamar bukan hanya tentang agenda organisasi, tetapi juga tentang bagaimana sebuah masyarakat membuka pintu rumahnya bagi tamu.
99 masjid, 99 simbol Asmaul Husna, satu semangat: memuliakan tamu, merawat persaudaraan, dan menghadirkan keramahan Jombang bagi seluruh muktamirin.