G25 Indonesia Salurkan Bantuan Sekolah di Madura, Mimpi Anwar Sadad Menjadi Prajurit TNI AL Menguat
BANGKALAN, TelusuR.id – Di tengah masih banyaknya keluarga yang kesulitan memenuhi kebutuhan sekolah anak, bantuan perlengkapan belajar kerap menjadi penentu apakah seorang anak dapat memulai tahun ajaran baru dengan percaya diri. Berangkat dari kenyataan itu, Yayasan Gerakan Dualima Indonesia (G25 Indonesia) kembali menyalurkan bantuan pendidikan bagi siswa dari keluarga prasejahtera di Pulau Madura.
Pada tahun ajaran 2026, program tersebut menyasar sekitar 110 siswa di Kabupaten Bangkalan dan Pamekasan. Sebelum bantuan disalurkan, relawan G25 Indonesia melakukan survei langsung untuk memastikan penerima benar-benar berasal dari keluarga yang membutuhkan.
Ketua G25 Indonesia, Dasuki Rahmad, mengatakan bantuan itu merupakan upaya sederhana untuk mengurangi beban orang tua sekaligus memastikan keterbatasan ekonomi tidak menghalangi anak-anak memperoleh pendidikan yang layak.
“Bantuan yang kami berikan berupa ATK, sepatu, tas, dan juga seragam. Hari ini penyerahan untuk kloter pertama, ada sekitar 30 siswa penerima,” ujar Dasuki kepada TelusuR.id, Rabu (8/7/2026).
Paket bantuan meliputi alat tulis, tas sekolah, sepatu, dan seragam baru. Penyalurannya dilakukan secara bertahap agar proses distribusi lebih efektif dan tepat sasaran.
Di antara puluhan penerima bantuan pada tahap pertama, perhatian relawan tertuju kepada seorang anak bernama Anwar Sadad. Nama itu mungkin identik dengan salah satu tokoh politik nasional, tetapi Anwar Sadad yang satu ini adalah bocah yatim berusia 12 tahun yang tumbuh dalam keterbatasan ekonomi di Desa Tajungan, Kecamatan Kamal, Kabupaten Bangkalan.

Anwar, yang kini duduk di kelas VI SDN Tajungan, merupakan anak ketiga dari empat bersaudara. Sejak ayahnya meninggal dunia, sang ibu menjadi tulang punggung keluarga. Di tengah kondisi ekonomi yang serba terbatas, kebutuhan sekolah menjadi tantangan yang harus dihadapi setiap awal tahun ajaran.
Karena itu, bantuan yang diterimanya memiliki arti lebih dari sekadar tas, sepatu, atau seragam baru. Bantuan tersebut memberi semangat baru untuk terus belajar tanpa dibayangi kekhawatiran akan perlengkapan sekolah.
“Saya senang sekali mendapat bantuan dari G25 Indonesia. Terima kasih kepada semua yang sudah membantu saya,” ujar Anwar dengan wajah penuh kebahagiaan.
Di balik kesederhanaan hidupnya, Anwar menyimpan cita-cita besar. Ia ingin menjadi prajurit Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut (TNI AL), sebuah impian yang diyakininya dapat menjadi jalan untuk mengabdi kepada negara sekaligus membahagiakan ibunya.
Kisah Anwar menjadi satu dari banyak potret anak-anak yang tetap memelihara harapan di tengah keterbatasan. Bagi G25 Indonesia, setiap bantuan yang disalurkan bukan sekadar memenuhi kebutuhan sekolah, melainkan menjadi investasi sosial agar anak-anak dari keluarga prasejahtera memiliki kesempatan yang sama untuk menggapai masa depan.
Kepala Desa Tajungan, Kusumaningsih, mengapresiasi kepedulian G25 Indonesia terhadap warganya. Menurut dia, bantuan tersebut tidak hanya meringankan beban ekonomi keluarga, tetapi juga memberi motivasi kepada anak-anak untuk tetap bersekolah.
“Semoga bantuan dari teman-teman G25 ini bermanfaat untuk warga kami,” ujar Kusumaningsih.
Melalui program yang dijalankan secara konsisten, G25 Indonesia berharap semakin banyak anak dari keluarga kurang mampu dapat menyambut tahun ajaran baru dengan rasa percaya diri. Di balik setiap tas, sepatu, dan seragam yang dibagikan, tersimpan harapan agar tidak ada anak yang kehilangan kesempatan belajar hanya karena keterbatasan ekonomi.