Sidak Dapur MBG Usai Dugaan Keracunan, Sekda Jombang Temukan Sejumlah Kejanggalan: “Ini Menyangkut Nyawa”

Bagikan :

JOMBANG, TelusuR.ID – Sekretaris Daerah Kabupaten Jombang Agus Purnomo bergerak cepat merespons dugaan keracunan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dialami sejumlah siswa.

Setelah memantau langsung penanganan para korban di Puskesmas Kabuh, Rabu (3/9/2026), Agus bersama Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Jombang dr. Hexawan Tjahja Widada dan jajaran langsung menuju dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Yayasan Sehat Tempat Makan di Dusun Brumbung, Desa Mangunan, Kecamatan Kabuh.

Sekitar pukul 13.00 WIB, rombongan tiba di lokasi. Tak banyak basa-basi, Agus langsung memimpin inspeksi terhadap sarana dan prasarana dapur yang menjadi salah satu penopang program prioritas nasional tersebut.

Sidak itu membuka sejumlah persoalan.

Sekda Pertanyakan Alat Uji Air: “Ini Menyangkut Nyawa”

Salah satu perhatian pertama Agus adalah kualitas air yang digunakan untuk memasak makanan bagi para penerima manfaat MBG.

Ia meminta pengelola menunjukkan alat untuk menguji kualitas air, terutama guna memastikan air yang digunakan terbebas dari kontaminasi bakteri berbahaya seperti Escherichia coli atau E. coli.

“Coba, Pak Mitra, tes air yang digunakan untuk masak. Mana alat tes airnya?” tanya Agus.

Jawaban yang diterima justru mengejutkan.

“Alatnya tidak ada, Pak Sekda. Kami tidak punya,” jawab mitra SPPG.

Agus pun langsung menegaskan persoalan tersebut tidak boleh dianggap sepele.

“Loh, ini menyangkut nyawa, Pak. Semua bahan harus dipastikan kebersihan dan kelayakannya,” tegasnya.

Agus kemudian menanyakan sumber air yang digunakan untuk proses memasak. Pengelola menjelaskan bahwa air diperoleh dari galon yang dibeli dari depo air di sekitar lokasi dapur.

Menurut Agus, kondisi itu semakin memperkuat pentingnya pengujian kualitas air secara rutin.

“Nah, makanya itu Bapak harus punya alat tes air untuk memastikan kandungan airnya aman atau tidak. Hal seperti ini harus dicek setiap hari,” ujar Agus.

Bagi Agus, program MBG bukan sekadar soal mendistribusikan makanan. Ada tanggung jawab besar di balik setiap porsi yang disajikan kepada anak-anak.

Temuan Menu Daging, Sekda: Jangan Terlalu Pelit kepada Anak-Anak

Pemeriksaan kemudian berlanjut pada komposisi menu yang disajikan kepada para penerima manfaat.

Agus meminta Kepala SPPG, akuntan, dan ahli gizi menjelaskan seberapa sering menu berbahan daging sapi diberikan dalam satu bulan terakhir.

Awalnya, ahli gizi menyebut menu daging sapi pernah disajikan, baik dalam bentuk rawon maupun menu lainnya.

Namun, ketika Agus meminta dokumen rekapitulasi menu selama sebulan terakhir, fakta yang muncul berbeda.

Setelah dokumen diperiksa, diketahui menu daging sapi terakhir kali disajikan pada Juli 2026.

“Yah, Pak, maaf. Ternyata terakhir di bulan Juli,” ujar ahli gizi setelah melihat kembali dokumen menu.

Temuan tersebut membuat Agus Purnomo geram.

Ia menilai pengelola tidak boleh terlalu berorientasi pada efisiensi hingga mengorbankan kualitas pemenuhan gizi anak-anak.

“Kalian ini jangan terlalu pelit kepada penerima manfaat. Kemarin waktu saya sidak di dapur lainnya, dengan menu buah kelengkeng saja, setelah saya kalkulasi, bisa dapat keuntungan Rp4 juta hanya dari satu komoditas buah,” kata Agus.

Ia mengingatkan bahwa arahan Badan Gizi Nasional (BGN) harus benar-benar dijalankan, termasuk rekomendasi penyajian menu daging sapi secara berkala.

“Ini kok masih tidak mau mengikuti arahan dari BGN pusat yang menyarankan menu daging sapi dua minggu sekali. Jangan terlalu pelit, Mbak. Itu untuk gizi penerima manfaat,” tegasnya.

Pernyataan itu menjadi salah satu pesan paling keras dalam sidak tersebut: anak-anak penerima program tidak boleh menjadi pihak yang dirugikan oleh buruknya pengelolaan dapur.

Sekda Minta SLHS Dicek Ulang

Tak berhenti pada persoalan air dan menu, Agus kemudian meminta Kepala Dinas Kesehatan Jombang memeriksa kembali kelayakan Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS) dapur tersebut.

“Sekarang coba Pak Kadis cek SLHS-nya. Apa sudah benar-benar sesuai?” pinta Agus.

Dr. Hexawan bersama tim kemudian melakukan pemeriksaan secara menyeluruh, mulai dari fasilitas pendingin (chiller), gudang bahan basah, hingga ruang penyimpanan bahan kering.

Di area gudang basah, tim menemukan bahan makanan yang masih tersimpan di dalam freezer.

Dr. Hexawan langsung mempertanyakan keberadaan bahan tersebut kepada Kepala SPPG.

“Dari hari apa ini? Kok masih ada bahan sisa yang tersimpan di freezer?” tanyanya.

Ia mengingatkan bahwa dalam pengarahan bersama BGN sebelumnya telah ditekankan agar tidak ada bahan makanan tersisa untuk digunakan kembali, kecuali bahan tertentu seperti beras.

“Ketika zoom nasional dengan BGN sudah disampaikan, tidak boleh ada bahan tersisa di gudang maupun freezer, kecuali beras. Karena dikhawatirkan bahan sisa ini diolah kembali. BGN menginginkan bahan yang selalu segar dan dalam kondisi bagus,” tegas dr. Hexawan.

IPAL Jadi Sorotan

Pemeriksaan berikutnya menyasar sistem Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) dapur.

Dari hasil pengecekan, sistem pengolahan limbah yang tersedia dinilai masih jauh dari memadai. IPAL hanya berupa bak penampungan sederhana. Air limbah kemudian disedot menggunakan pompa sebelum dialirkan ke saluran air di lingkungan permukiman warga.

Kondisi tersebut kembali mendapat sorotan keras dari Kepala Dinas Kesehatan Jombang.

“Jangan hanya saat survei SLHS saja semuanya terlihat bersih dan sesuai alur BGN, tetapi ketika pelaksanaan malah awut-awutan dan berantakan seperti ini,” tegas dr. Hexawan.

Di tengah proses pemeriksaan, Kapolres Jombang AKBP Ardi Kurniawan juga tiba di lokasi dapur SPPG.

Kehadiran aparat kepolisian memperlihatkan bahwa persoalan dugaan keracunan dalam program MBG menjadi perhatian serius lintas sektor.

saluran pembuang limbah yang di alirkan ke saluran air warga

Agus Purnomo: Kalian Dititipi Amanah Negara

Usai seluruh rangkaian pemeriksaan, Agus Purnomo mengumpulkan Kepala SPPG, ahli gizi, dan akuntan.

Dengan nada tegas, ia mengingatkan bahwa mereka memegang amanah besar dalam menjalankan program yang menyentuh langsung kebutuhan dasar anak-anak Indonesia.

“Kalian ini yang dititipi amanah oleh BGN dan dibayar oleh BGN harus lebih baik lagi dalam menjaga program prioritas Presiden ini,” ujar Agus.

Menurutnya, MBG merupakan program yang memiliki tujuan mulia, yakni meningkatkan kualitas gizi generasi muda Indonesia. Karena itu, setiap kelalaian dalam pelaksanaannya dapat merusak kepercayaan masyarakat terhadap program tersebut.

“Ini program baik. Program untuk meningkatkan gizi anak-anak Indonesia. Untuk selanjutnya harus lebih dijaga. Kasihan Pak Presiden,” katanya.

Agus menegaskan, evaluasi tidak cukup hanya dilakukan melalui teguran. Sejumlah kekurangan yang ditemukan di lapangan harus segera diperbaiki secara menyeluruh.

“Karena di sana sini banyak kekurangan, saya rekomendasikan untuk suspend minimal satu bulan untuk perbaikan dan melengkapi sarana serta prasarana,” pungkasnya.

Sidak yang dilakukan Agus Purnomo ini menjadi penegasan bahwa Pemerintah Kabupaten Jombang tidak ingin persoalan dugaan keracunan MBG berhenti sebatas penanganan korban.

Agus memilih turun langsung, menelusuri mata rantai persoalan hingga ke dapur tempat makanan diproduksi.

Bagi Sekda Jombang itu, satu hal tidak bisa ditawar: program makan bergizi harus benar-benar menghasilkan makanan yang bergizi, aman, higienis, dan layak dikonsumsi.

Sebab, di balik setiap kotak makanan yang dibagikan, ada anak-anak yang kesehatannya tidak boleh dipertaruhkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *