Santri Tak Lagi Cuma Jadi Penonton, 5 Kampus NU Buka Jalan ke UI

Bagikan :

JOMBANG,TelusuR.ID — Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Pondok Pesantren Tambakberas, Jombang, melahirkan kerja sama di bidang pendidikan. Lima perguruan tinggi berbasis NU dan pesantren menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) dengan Universitas Indonesia (UI).

Kerja sama tersebut membuka peluang bagi mahasiswa dan dosen dari kampus NU untuk memperluas akses terhadap kegiatan akademik, penelitian, pengembangan kapasitas, dan jejaring perguruan tinggi nasional.

Lima perguruan tinggi yang menjalin kerja sama dengan UI yakni Universitas KH. A. Wahab Hasbullah (UNWAHA), Universitas Nurul Jadid Probolinggo, Sekolah Tinggi Khuliyatul Qur’an Al-Hikam Depok, Universitas KH. Abdul Chalim Mojokerto, dan STAINU Assalafie Babakan Cirebon.

Penandatanganan MoU berlangsung Jumat (28/8), melibatkan Rektor UI Prof. Dr. Ir. Heri Hermansyah, S.T., M.Eng., IPU, jajaran UI, serta Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).

Rektor UI Heri Hermansyah mengatakan tantangan akses pendidikan tinggi masih besar. Persaingan untuk masuk perguruan tinggi, menurut dia, semakin ketat.

“Sekarang kurang lebih ada sekitar 30 ribu lulusan sekolah menengah, namun hanya sekitar 5 ribu yang masuk perguruan tinggi. Ini menunjukkan betapa sengitnya persaingan untuk masuk universitas,” kata Heri, Jumat (28/8).

Menurut Heri, kondisi tersebut menunjukkan pentingnya memperluas akses dan meningkatkan kualitas pendidikan tinggi. Kolaborasi antarperguruan tinggi menjadi salah satu cara untuk menjawab tantangan tersebut.

Bagi perguruan tinggi NU, kerja sama dengan UI juga menjadi kesempatan untuk memperkuat kapasitas akademik yang selama ini berkembang dalam lingkungan pesantren.

Sejumlah kampus NU tumbuh dari ekosistem pesantren yang memiliki tradisi keilmuan dan pendidikan Islam. Potensi mahasiswa dan dosennya diharapkan dapat diperluas melalui interaksi dengan perguruan tinggi yang memiliki ekosistem riset dan akademik yang lebih besar.

Kerja sama itu dapat diwujudkan melalui berbagai program akademik, mulai dari penelitian bersama, pertukaran pengetahuan, pengembangan kompetensi dosen dan mahasiswa, hingga pembentukan jejaring antarperguruan tinggi.

Dengan jejaring tersebut, mahasiswa dari kampus NU memiliki peluang lebih besar untuk berinteraksi dengan akademisi dan mahasiswa dari perguruan tinggi lain, termasuk UI.

Namun, penandatanganan MoU baru merupakan langkah awal. Tantangan berikutnya adalah memastikan kerja sama tersebut menghasilkan program konkret dan memberikan manfaat langsung bagi mahasiswa maupun dosen.

Sebab, nilai sebuah kerja sama pendidikan tidak berhenti pada dokumen yang ditandatangani. Ukurannya adalah program yang berjalan, riset yang dihasilkan, kapasitas akademik yang meningkat, serta kesempatan baru yang terbuka bagi mahasiswa.

Kerja sama lima kampus NU dengan UI juga membawa pesan yang lebih luas. Latar belakang pesantren tidak semestinya menjadi batas bagi mahasiswa untuk mengakses pendidikan tinggi dan jejaring akademik nasional.

Sebaliknya, tradisi keilmuan pesantren dapat menjadi modal yang dipadukan dengan penguatan akademik, riset, dan jejaring perguruan tinggi.

Dari ruang-ruang pendidikan NU dan pesantren, mahasiswa kini memiliki kesempatan untuk memperluas langkah. Bukan hanya menjadi bagian dari ekosistem pendidikan tinggi NU, tetapi juga ikut berkompetisi dan berkontribusi dalam ekosistem akademik nasional.

MoU yang ditandatangani dalam momentum Muktamar NU tersebut menjadi salah satu pintu menuju tujuan itu. (din)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *