SURABAYA,TelusuR.ID — Ratusan orang memenuhi Dyandra Convention Center Surabaya, Minggu (23/8/2026). Mereka datang bukan sekadar untuk mendengarkan kisah tentang cinta, tetapi mencari cara memahami pasangan, anak, dan orang-orang terdekat melalui komunikasi yang lebih sehat.
Hal itu menjadi benang merah dalam kegiatan bertajuk “Seni Memahami Soulmate: Ketika Cinta Tak Pernah Cukup” yang menghadirkan psikolog dan praktisi komunikasi keluarga, dr. Aisah Dahlan, CM.NLP., CCHt., CI.
Kegiatan yang digelar Panglima Ekspres tersebut dikemas dalam format Deep Talk. Pembahasannya menyentuh berbagai persoalan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, mulai dari karakter, pola komunikasi, hubungan pasangan, hingga dinamika orang tua dan anak.
Sejak acara dimulai, peserta tampak antusias mengikuti pemaparan. Sejumlah peserta bahkan mencatat poin-poin yang dianggap relevan dengan pengalaman mereka dalam membangun hubungan di keluarga.
Tema soulmate menjadi pintu masuk untuk membicarakan hubungan secara lebih luas. Cinta, dalam pembahasan tersebut, tidak ditempatkan hanya sebagai persoalan romantisme, melainkan juga sebagai proses panjang untuk mengenal karakter, memahami kebutuhan, serta menerima perbedaan kepribadian.

Memahami Perbedaan Karakter
Dalam pemaparannya, dr. Aisah membahas sejumlah karakter manusia yang dapat memengaruhi cara seseorang berkomunikasi dan membangun hubungan.
Salah satunya karakter melankolis yang dikenal cenderung berpikir mendalam, analitis, rapi, teliti, terencana, idealis, introspektif, dan memiliki daya ingat kuat.
Sementara karakter sanguinis cenderung lebih ekspresif. Mereka dikenal senang bercerita, mudah berteman, spontan, santai, dan mampu menciptakan suasana cair. Namun, karakter ini juga memiliki tantangan seperti mudah bercanda, kurang disiplin, atau kurang memperhatikan perencanaan.
Perbedaan tersebut kerap menjadi sumber salah paham dalam hubungan apabila tidak diikuti kemampuan untuk memahami cara berpikir dan kebutuhan masing-masing.
Karena itu, mengenali karakter bukan dimaksudkan untuk memberi label kepada seseorang, melainkan menjadi salah satu cara agar komunikasi dapat berlangsung lebih efektif.
Tak Hanya Soal Pasangan
Pembahasan kemudian berkembang ke hubungan orang tua dan anak. Salah satu materi yang disorot adalah cara menghadapi anak dengan karakter koleris.
Peserta diajak memahami bahwa menghadapi anak tidak cukup dengan perintah atau larangan. Orang tua juga perlu membangun kesabaran, membantu anak mengendalikan diri, serta memberikan apresiasi terhadap proses dan pencapaian mereka.
Beberapa pesan yang ditekankan antara lain mengajarkan anak agar tidak selalu memaksakan kehendak, melatih pengendalian diri agar tidak terburu-buru dalam belajar, serta memberikan apresiasi secara langsung atas usaha maupun prestasi yang telah dicapai.
Pembahasan itu sekaligus memperluas makna “Seni Memahami Soulmate”. Hubungan yang sehat tidak berhenti pada pasangan hidup. Ia juga menyangkut bagaimana seseorang berkomunikasi dengan anak, orang tua, keluarga, dan lingkungan terdekat.

Hadirkan Sejumlah Tokoh
Selain dr. Aisah Dahlan, kegiatan tersebut juga menghadirkan Dr. H.C. Dahlan Iskan dalam rangkaian Deep Talk. Sementara dr. Muhamad Fachry, Sp.OG, konsultan reproduksi dan spesialis kandungan dari Kendangsari Hospital, hadir sebagai special guest.
Kehadiran para tokoh tersebut membuat pembahasan menjadi lebih beragam, mulai dari psikologi, komunikasi keluarga, kesehatan hingga persoalan kehidupan sehari-hari.
Acara berlangsung interaktif. Peserta tidak hanya menjadi pendengar, tetapi mengikuti pembahasan dengan antusias karena tema yang diangkat bersentuhan langsung dengan pengalaman banyak keluarga.
Di tengah rutinitas dan persoalan hubungan yang semakin kompleks, ruang semacam itu memberi kesempatan bagi peserta untuk berhenti sejenak dan melihat kembali cara mereka berkomunikasi dengan orang-orang yang dicintai.
Panglima Ekspres Perluas Peran
Kegiatan tersebut sekaligus menunjukkan upaya Panglima Ekspres memperluas peran di luar layanan perjalanan umrah dan haji.
Melalui kegiatan edukatif seperti ini, perusahaan berupaya menghadirkan ruang pengembangan diri yang tidak hanya berkaitan dengan perjalanan spiritual, tetapi juga kualitas hubungan antarmanusia dan keluarga.
Pada akhirnya, acara “Seni Memahami Soulmate: Ketika Cinta Tak Pernah Cukup” membawa satu pesan sederhana: cinta saja tidak selalu cukup untuk menjaga sebuah hubungan.
Dibutuhkan kemauan untuk mengenal, memahami, menghargai perbedaan, dan terus belajar berkomunikasi.
Sebab, memahami orang yang dicintai bukan pekerjaan sekali jadi. Ia adalah proses yang harus terus dirawat agar hubungan tetap tumbuh, sehat, dan bermakna.