Jacob Ereste :
Denny JA Foundation Sangat Diharap Mampu Melampaui Usia 100 Tahun
JAKARTA,TelusuR.ID – Keberhasilan tertinggi seorang pendiri rumah yang pernah memberi ruang bagi para penulis, seniman dan budayawan untuk bertahan dari gerusan zaman, barangkali bukan ketika namanya terus disebut dan dikenang. Justru keberhasilan yang paling hakiki adalah ketika gagasan yang pernah ia tanam tetap tumbuh, berbuah dan memberi manfaat, bahkan ketika nama dan sosoknya perlahan-lahan mulai dilupakan.
Sebab sejarah tidak selalu bekerja dengan cara mengabadikan nama seseorang. Sejarah sering kali justru mengabadikan gagasan.
Begitulah mestinya sebuah rumah kebudayaan dibangun. Ia bukan sekadar tempat berkumpul para penulis, seniman dan budayawan, melainkan ruang untuk menjaga agar pikiran, gagasan dan karya tidak mati digerus perubahan zaman.
Para penghuninya boleh berganti. Para penggeraknya boleh pergi. Bahkan para pendirinya pada suatu ketika akan meninggalkan dunia. Tetapi rumah kebudayaan itu seyogianya tetap berdiri, sebab yang hendak diselamatkan bukanlah nama seseorang, melainkan kehidupan kebudayaan itu sendiri.
Dalam konteks itulah posisi Denny JA menarik untuk dicermati.
Denny JA mengakui dirinya menjadi salah satu penopang Satupena, baik melalui dukungan dana, jaringan maupun arah program. Namun justru dari posisi sebagai penopang utama itulah muncul sebuah pertanyaan yang jauh lebih penting: sampai kapan sebuah organisasi dapat bertahan jika terlalu bergantung pada satu orang?
Pertanyaan itu bukan pertanyaan biasa.
Ia merupakan pertanyaan seorang strong leader yang mulai berani memeriksa kembali bangunan yang telah ia dirikan sendiri. Sebab seorang pemimpin yang sungguh-sungguh berpikir jauh ke depan tidak hanya sibuk memastikan organisasinya berjalan hari ini, tetapi juga memikirkan bagaimana organisasi itu tetap hidup ketika dirinya sudah tidak ada.
Dalam tulisan berjudul “Sebuah Provokasi Menyambut Kongres Satupena 2026”, yang telah disebarluaskan, Denny JA seperti sedang memberikan peringatan kepada dirinya sendiri sekaligus kepada Satupena.
Bahwa model yang berjalan sekarang memiliki batas waktu.
Dan setiap sesuatu yang memiliki batas waktu, cepat atau lambat akan berhadapan dengan masa kedaluwarsanya.
Karena itu, persoalan sesungguhnya bukan lagi bagaimana Satupena dapat terus berjalan selama Denny JA masih menjadi penopangnya. Persoalan yang jauh lebih mendasar adalah bagaimana Satupena dapat tumbuh menjadi institusi yang mampu berdiri dengan kakinya sendiri.
Di sinilah gagasan tentang keberlanjutan menjadi sangat penting.
Sebagai seseorang yang mungkin hanya berada di posisi penonton dari seberang panggung, saya justru merasa senang menyaksikan kesungguhan, keberanian dan kerja keras yang dilakukan Denny JA melalui foundation yang dibangunnya.
Apalagi ketika sebagian dana ditempatkan sebagai dana abadi untuk menopang aktivitas kebudayaan.
Langkah semacam ini menurut saya bukan sekadar soal uang. Ada kesadaran kebudayaan yang lebih luas di dalamnya: bahwa kebudayaan membutuhkan rumah, membutuhkan energi, membutuhkan keberanian untuk membiayai gagasan, dan terutama membutuhkan kesinambungan.
Bahkan, kerja kebudayaan seperti ini layak memperoleh apresiasi yang lebih luas. Bukan semata karena siapa yang mengerjakannya, tetapi karena gagasan untuk membangun ekosistem kebudayaan yang mampu bertahan melampaui satu generasi merupakan pekerjaan peradaban.
Jika kelak Indonesia memiliki lebih banyak orang yang bersedia menjadi impresario bagi para penulis, seniman dan budayawan, maka karya-karya kebudayaan Indonesia tidak lagi berhenti sebagai kebanggaan di dalam negeri. Ia dapat menyeberangi batas bahasa, batas negara dan batas zaman.
Denny JA tampaknya memiliki keyakinan bahwa penulis Indonesia tidak kekurangan potensi untuk berdiri sejajar dengan penulis dunia.
Yang sering kali tidak tersedia justru ekosistemnya.
Talenta mungkin berlimpah. Gagasan mungkin tidak pernah kekurangan. Karya pun terus lahir. Tetapi tanpa rumah yang mampu merawat, mendistribusikan, mempertemukan, membiayai dan memperjuangkan karya-karya itu, potensi besar tersebut bisa saja berhenti sebagai kesunyian di ruang-ruang pribadi para penciptanya.
Karena itu dibutuhkan semacam impresario kebudayaan.
Bukan untuk mengatur seniman dan penulis harus berkarya seperti apa, tetapi untuk memastikan karya mereka menemukan jalan menuju pembacanya, menemukan ruang apresiasinya, serta menemukan tempat yang layak dalam sejarah kebudayaan dunia.
Pada titik inilah kesadaran Denny JA menjadi menarik.
Ia tidak hanya bertanya kepada orang lain.
Ia bertanya kepada dirinya sendiri.
Apakah ketergantungan organisasi terhadap dirinya justru akan menjadi persoalan di kemudian hari?
Pertanyaan itu terasa sederhana, tetapi sesungguhnya sangat dalam.
Sebab ketergantungan yang terlalu besar kepada seorang tokoh dapat menjadi kekuatan sekaligus kelemahan. Ia menjadi kekuatan ketika sang tokoh masih mampu menggerakkan semuanya. Tetapi dapat berubah menjadi kelemahan ketika tokoh itu tidak lagi berada di sana.
Maka, membangun organisasi yang sehat sesungguhnya bukan membangun organisasi yang membutuhkan pendirinya selamanya.
Sebaliknya, keberhasilan seorang pendiri justru dapat diukur dari kesanggupannya membuat organisasi yang ia dirikan tidak lagi bergantung kepadanya.
Jika tidak, seluruh perjuangan yang telah dilakukan bisa saja berhenti sebagai kenangan. Dalam bahasa yang sederhana: muspro.
Sejarah kebudayaan memberi banyak pelajaran tentang hal itu.
Sejarah tidak semata-mata menilai sebuah organisasi dari niat baik ketika ia didirikan. Sejarah akan menguji apakah organisasi tersebut mampu bertahan setelah para pendiri, perintis dan motor penggeraknya telah tiada.
Karena itu, umur sebuah organisasi tidak seharusnya dihitung dari berapa lama pendirinya masih hidup.
Umurnya harus dihitung dari berapa lama gagasan yang diperjuangkan mampu tetap hidup setelah pendirinya pergi.
Maka pertanyaan Denny JA menjelang Kongres Satupena 2026 sesungguhnya adalah pertanyaan yang sangat penting bagi masa depan organisasi penulis Indonesia.
Bagaimana Satupena dapat dibangun menjadi rumah bersama para penulis dan budayawan yang tidak hanya hidup untuk satu generasi?
Bagaimana Denny JA Foundation dapat menjadi salah satu fondasi yang memungkinkan kerja kebudayaan itu terus berlangsung, tanpa selamanya bergantung kepada figur Denny JA?
Dan lebih jauh lagi, mampukah gagasan itu hidup melampaui usia seratus tahun?
Saya kira, di situlah ukuran keberhasilan yang sesungguhnya.
Bukan apakah nama Denny JA akan tetap disebut seratus tahun dari sekarang.
Bukan pula apakah orang masih mengingat siapa yang pertama kali menanam benihnya.
Tetapi apakah seratus tahun dari sekarang masih ada penulis Indonesia yang dapat berkarya dengan merdeka, masih ada rumah kebudayaan yang menyediakan ruang bagi mereka, masih ada dana yang menopang kerja-kerja kebudayaan, dan masih ada generasi yang merasa perlu meneruskan perjuangan tersebut.
Jika itu terjadi, maka Denny JA boleh saja dilupakan oleh sejarah sebagai sebuah nama.
Sebab gagasannya telah menjadi bagian dari kehidupan.
Dan mungkin justru di situlah bentuk keabadian yang paling sederhana sekaligus paling tinggi bagi seorang pendiri:
ketika ia tidak lagi diperlukan sebagai tokoh, tetapi gagasannya tetap diperlukan oleh zaman.
Maka, Denny JA Foundation sangat layak diharapkan bukan hanya mampu melewati usia 10, 20 atau 50 tahun, tetapi benar-benar dapat melampaui usia 100 tahun.
Sebab rumah kebudayaan yang baik bukanlah rumah yang dibangun untuk mengabadikan pemiliknya.
Ia adalah rumah yang dibangun agar para penghuninya dapat terus melahirkan kehidupan, bahkan setelah sang pemilik rumah telah lama pergi.
Gambir–Tawang, 10–11 Agustus 2026