Bukan Pacar, Bukan Pemandu Wisata: Jasa “Aku Temani Healing” Lelly dari Sidoarjo Diburu Warga

Bagikan :

SIDOARJO,TelusuR.ID — Ada kalanya seseorang hanya ingin keluar rumah, ngopi, makan, belanja, atau sekadar jalan-jalan tanpa harus melakukannya sendirian.

Masalahnya, teman yang bisa diajak pergi belum tentu selalu tersedia. Kesibukan, pekerjaan, hingga perbedaan waktu membuat sebagian orang akhirnya memilih membatalkan rencana.

Dari kebutuhan sederhana itulah Lelly, perempuan asal Sidoarjo, melihat sebuah peluang. Selama sekitar setahun terakhir, ia menjalankan jasa “Aku Temani Healing”, layanan yang menawarkan sesuatu yang terdengar sederhana tetapi ternyata cukup dibutuhkan: menjadi teman untuk menemani aktivitas.

Melalui akun TikTok @hi.ini.lelly, ia memperkenalkan layanan tersebut kepada masyarakat, khususnya di wilayah Sidoarjo dan Surabaya.

Bukan jasa kencan. Bukan pula layanan mencari pasangan.

Lelly hanya menawarkan kehadiran.

Klien bisa memintanya menemani berbagai aktivitas, mulai dari ngopi, nongkrong, kulineran, belanja, menonton konser, berolahraga, pergi ke tempat wisata, menghadiri acara, hingga menemani berobat atau berada di rumah sakit.

“Sebetulnya banyak orang butuh teman jalan, tapi enggak mau banyak bicara. Kalau sama teman sendiri kadang yang dibahas pekerjaan lagi atau hal yang sama. Jadi mungkin ada rasa bosan,” kata Lelly.

Dari Ngopi sampai Menemani ke Rumah Sakit

Menurut Lelly, alasan orang menggunakan jasanya cukup beragam.

Ada yang sedang stres dan membutuhkan seseorang untuk mendengarkan cerita. Ada yang ingin keluar rumah tetapi tidak punya teman. Ada pula yang sekadar ingin ditemani menghadiri acara atau mencari suasana baru.

Namun, permintaan yang paling sering datang justru sederhana: ngopi dan nongkrong.

Dalam situasi seperti itu, Lelly tidak memaksakan percakapan. Jika klien ingin berbicara, ia mendengarkan. Jika klien hanya membutuhkan teman duduk, ia juga tidak keberatan.

“Kalau ada pelanggan yang curhat, pasti saya dengarkan. Terkadang seseorang sudah merasa senang hanya karena ceritanya didengar. Saya juga enggan memberikan masukan berlebihan karena itu bukan ranah saya,” ujarnya.

Bagi Lelly, kemampuan mendengarkan justru menjadi bagian penting dari pekerjaannya.

Sebab tidak semua orang membutuhkan nasihat. Kadang seseorang hanya membutuhkan teman yang bersedia duduk di sampingnya tanpa menghakimi.

“Banyak klien yang minta ditemani ke lokasi. Ada yang terbuka untuk ngobrol seperti teman sendiri, ada juga yang memang hanya minta ditemani,” katanya.

Tarif Terjangkau, Batas Profesional Tetap Dijaga

Untuk layanan menemani di rumah sakit, Lelly mematok tarif Rp25 ribu per jam. Sementara layanan pendampingan aktivitas lainnya dikenakan sekitar Rp100 ribu untuk tiga jam.

Biaya transportasi, makan, maupun jajan selama aktivitas menjadi tanggungan pelanggan.

Meski konsepnya santai dan mengandalkan interaksi layaknya teman, Lelly menegaskan dirinya tetap menjaga batas profesional.

Ia tidak ingin jasa tersebut disalahartikan sebagai layanan mencari pasangan atau hubungan pribadi.

“Saya tetap menetapkan batasan profesional karena saya di sini untuk menemani klien sesuai keinginannya,” tegasnya.

Aspek keamanan juga menjadi perhatian. Sebelum bertemu, Lelly melakukan penyaringan terhadap calon pelanggan. Jika diperlukan, ia juga bersedia memberikan identitas diri agar kedua pihak merasa lebih aman ketika bertemu dengan orang yang sebelumnya tidak dikenal.

Menurut dia, rasa waswas memang ada di kedua sisi.

“Saya dan pelanggan sama-sama takut karena kami bertemu orang asing. Tapi kalau bisa saling percaya, jasa ini bisa menjadi solusi bagi mereka yang membutuhkan teman jalan,” tutur Lelly.

Kini, Lelly terus mengembangkan “Aku Temani Healing” melalui media sosial. Konten-konten yang dibuatnya menjadi cara untuk memperkenalkan konsep tersebut sekaligus membangun kepercayaan calon pelanggan.

Di tengah kehidupan kota yang semakin sibuk, layanan ini menawarkan sesuatu yang sebenarnya sangat sederhana: waktu dan kehadiran seseorang.

Sebab terkadang, orang tidak membutuhkan tempat baru untuk healing.

Mereka hanya membutuhkan seseorang yang mau berkata, “Ayo, aku temani.”

(Redho)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *