PBNU: Ketika Slogan Berlari, Prestasi Masih Mencari
Oleh :
Ahmad Fahrur Rozi
Warga dan Pengurus NU
TelusuR.ID – Ada ungkapan lama: janji itu mudah diucapkan, yang sulit adalah mempertanggungjawabkannya.
Ketika Ketua Umum PBNU dikukuhkan hampir lima tahun lalu, banyak warga Nahdliyin menaruh harapan besar. Pidatonya penuh gagasan megah: modernisasi organisasi, transformasi digital, hingga slogan yang terdengar gagah, “The Governing NU.” Sekilas, rasanya NU akan melesat seperti kereta cepat. Warga pun bersiap membeli tiket masa depan.
Lima tahun berlalu. Keretanya memang terdengar sering bersiul, tetapi banyak warga masih bertanya, “Sudah sampai stasiun mana?”
Kalau ditanya apa capaian yang paling sering dibanggakan, jawabannya kerap mengarah pada aplikasi persuratan Digdaya. Tentu digitalisasi administrasi adalah langkah yang baik. Tidak ada yang menolak kemajuan teknologi.
Namun, di sinilah letak satirenya. Warga berharap panen padi, yang datang malah map surat yang semakin rapi. Yang ditunggu peningkatan ekonomi, yang dipamerkan justru dashboard administrasi. Seolah-olah organisasi sebesar PBNU akhirnya menemukan puncak peradaban: surat kini bisa dikirim secara digital.
Padahal, warga NU di ranting-ranting lebih sibuk memikirkan harga gabah, biaya sekolah anak, akses layanan kesehatan, modal UMKM, hingga nasib pesantren di daerah. Mereka tentu senang jika surat menjadi lebih cepat, tetapi akan jauh lebih bahagia bila penghasilannya ikut meningkat.
Aplikasi administrasi tetaplah aplikasi administrasi. Ia tidak otomatis menambah omzet pedagang kecil, tidak menaikkan kualitas madrasah, tidak mengobati warga yang sakit, dan tidak membuat petani tersenyum saat panen gagal. Jangan sampai obeng dipuji setinggi langit, sementara rumah yang hendak dibangun belum juga berdiri.
Yang lebih mengherankan, mempertahankan narasi keberhasilan proyek digital itu kadang justru menghabiskan energi organisasi. Muncul saling sindir, perdebatan terbuka, bahkan gesekan internal. Terlihat seolah yang paling penting bukan manfaatnya, melainkan meyakinkan publik bahwa manfaat itu sudah ada.
Padahal ukuran keberhasilan PBNU tidak pernah ditentukan oleh banyaknya slogan berbahasa Inggris atau canggihnya aplikasi persuratan. Organisasi sebesar NU akan dikenang karena berhasil mengangkat martabat umat, memperkuat pesantren, memberdayakan ekonomi warga, melayani masyarakat, dan menghadirkan maslahat yang benar-benar dirasakan.
Kalau “The Governing NU” hanya berhenti menjadi jargon yang indah didengar tetapi sulit ditemukan jejaknya di lapangan, warga tentu berhak bertanya: yang sedang di-governing itu sebenarnya NU, atau sekadar presentasi PowerPoint?
Kritik ini bukan untuk menjatuhkan siapa pun. Justru karena cinta kepada NU, warga berharap kepemimpinan organisasi tidak berhenti pada retorika yang memesona atau aplikasi yang membanggakan, melainkan meninggalkan warisan nyata yang bisa dirasakan sampai ke ranting paling jauh.
Sebab pada akhirnya, warga Nahdliyin tidak hidup dari slogan. Mereka hidup dari kerja nyata.