Kisah Mahabharata dalam Perang Bharatayuda yang Terpaut dengan Cerita dari Negeri Konoha

0
17 views
Bagikan :

Kisah Mahabharata dalam Perang Bharatayuda yang Terpaut dengan Cerita dari Negeri Konoha

Oleh: Jacob Ereste

TelusuR.ID – Mungkinkah ada manusia yang dianugerahi kemampuan luar biasa untuk hidup di tengah hujan cacian, makian, dan hujatan tanpa pernah tampak terusik sedikit pun? Seolah semua umpatan yang datang silih berganti dari berbagai penjuru hanya menjadi angin lalu yang lewat tanpa meninggalkan jejak. Tidak ada rasa malu, tidak ada kegelisahan, bahkan tak terlihat secuil pun penyesalan. Yang tampak justru ketenangan yang nyaris mustahil dipahami oleh nalar kebanyakan orang, hingga melahirkan rasa takjub sekaligus keheranan yang sukar dijelaskan.

Barangkali, pada keadaan seperti itulah rasa percaya diri dipaksa berkembang melampaui batas kewajaran. Ketika semua orang telah menjatuhkan penilaian yang buruk, bahkan menempatkannya sebagai sosok yang paling buruk di antara yang buruk, ia justru sibuk memuji dan mengagumi dirinya sendiri. Sebab hanya dengan tembok ketebalan muka yang nyaris tak tertembus itulah setiap hujatan dapat dipantulkan kembali tanpa pernah melukai harga diri. Maka segala caci maki berubah menjadi gema yang kehilangan makna.

Pemandangan semacam itu mengingatkan pada hujan anak panah dalam Perang Bharatayuda, perang besar antara Pandawa dan Kurawa yang telah menjadi legenda lintas zaman. Anak-anak panah melesat dari segala arah tanpa sempat dihitung, apalagi dibaca sampai tuntas makna filosofisnya. Padahal Bharatayuda bukan sekadar kisah peperangan, melainkan sanepa tentang pertarungan abadi antara Dharma dan Adharma, antara kebenaran dan keserakahan, antara pengabdian kepada kepentingan bersama melawan nafsu menguasai segala sesuatu. Ironisnya, pesan filsafat itu kini lebih sering tenggelam oleh hiruk-pikuk pertengkaran di media sosial yang setiap hari memproduksi kemarahan, kebencian, sekaligus kelelahan kolektif.

Sesungguhnya inti persoalannya tidak pernah berubah sejak ribuan tahun silam, yakni hasrat untuk mempertahankan atau merebut kembali takhta kekuasaan. Bahkan ketika seseorang secara resmi telah lengser keprabon, bayang-bayang kekuasaan masih terus menggodanya. Fenomena itu seolah menemukan cermin baru dalam kisah Negeri Konoha, negeri simbolik yang begitu populer melalui dunia fiksi Jepang. Di balik daun lambang Konoha tersimpan metafora tentang kekuasaan, intrik, kesetiaan, dan pengkhianatan yang ternyata begitu akrab dengan realitas politik di berbagai negeri.

Ironisnya, bangsa Indonesia justru memiliki warisan kisah Mahabharata yang jauh lebih kaya, namun belum mampu mengolahnya menjadi rujukan budaya populer yang mendunia sebagaimana Jepang berhasil mengangkat mitologi mereka ke layar perak. Padahal tokoh seperti Sengkuni menyimpan pelajaran politik yang amat relevan sepanjang zaman, terutama mengenai seni mengadu domba, memelihara permusuhan, dan mengendalikan kekuasaan melalui tipu daya. Politik pecah belah yang kemudian dipraktikkan bangsa-bangsa penjajah di Nusantara sesungguhnya telah lama tergambar dalam kisah Mahabharata, hanya saja sering kali gagal dipahami sebagai pelajaran sejarah, bahkan kerap disalahartikan sebagai sekadar cerita wayang.

Dalam konteks itulah budaya buzzer dewasa ini terasa seperti reinkarnasi watak Sengkuni. Dahulu dendam yang dipelihara bersumber dari persoalan keluarga dan kekuasaan. Kini dendam itu bergeser menjadi dendam ekonomi, lahir dari kemiskinan, kesenjangan, dan ketergantungan pada insentif yang nilainya tidak seberapa, tetapi harus dibayar dengan harga diri. Demi upah yang murah, martabat dipertaruhkan, nurani diperjualbelikan, dan kebenaran dikorbankan. Mereka menjadi alat yang siap dipakai untuk menyerang siapa saja sesuai pesanan.

Sementara itu, para elite politik tetap memperebutkan sesuatu yang jauh lebih besar, yakni legitimasi atas takhta kekuasaan. Mereka saling mengklaim hak moral maupun hak politik untuk tetap berkuasa atau kembali berkuasa, meski mahkota kerajaan sudah lama dilepaskan. Takhta boleh berganti rupa, tetapi hasrat menguasainya tetap sama, sebagaimana kisah-kisah yang berulang dari Astina hingga Negeri Konoha.

Yang lebih menggelisahkan adalah ketika sifat Sengkuni mengalami sublimasi dalam bentuk yang lebih modern. Kekuasaan tidak lagi dipertahankan melalui mahkota atau singgasana, melainkan melalui jejaring ketergantungan. Korupsi didorong agar pelakunya dapat dikendalikan. Mereka yang telah terjerat kemudian menjadi sandera, sehingga kehilangan kebebasan untuk bersikap merdeka. Begundal dan cecunguk pun dipelihara bukan semata-mata sebagai pelaksana, melainkan sebagai jaminan agar lingkaran kekuasaan tetap utuh. Maka kekuasaan berubah menjadi jaringan utang budi, rasa takut, dan saling menyandera.

Betapa malangnya mereka yang tidak pernah berhasil mengalahkan nafsu kekuasaan. Ambisi yang melampaui akal sehat akhirnya meruntuhkan etika, moral, bahkan reputasi yang dibangun bertahun-tahun melalui kerja keras. Semua itu dapat runtuh hanya dalam hitungan hari ketika palu hakim diketukkan dan pintu penjara tertutup di belakangnya.

Di situlah tragedi sesungguhnya. Penyesalan tidak pernah mampu menghapus sejarah. Dosa politik yang dilakukan atas nama ambisi akan menjadi beban yang diwariskan kepada anak cucu, bukan dalam bentuk harta, melainkan stigma yang terus melekat pada nama keluarga. Sejarah memang tidak selalu menghukum dengan segera, tetapi ia hampir tidak pernah lupa mencatat.

Dan ketika seluruh cacian, makian, serta hujatan akhirnya kehabisan kata-kata, yang tersisa hanyalah sunyi. Sunyi yang menyimpan pertanyaan paling mendasar: apakah kekuasaan memang layak dibayar dengan harga diri yang hilang, atau justru harga diri itulah yang seharusnya menjadi mahkota terakhir yang tidak boleh pernah ditanggalkan?

Serpong, 5 Juli 2026

Tinggalkan Balasan