6 Buku, 66 Tahun Bambang Isti Nugroho: Energi Perlawanan yang Tak Pernah Bersedia Menyerah
Oleh: Jacob Ereste
JAKARTA,TelusuR.ID – Usia ternyata tidak selalu identik dengan senja. Ada usia yang justru menjelma matahari pagi, memancarkan cahaya baru bagi mereka yang masih percaya bahwa sejarah tidak pernah selesai ditulis. Begitulah Bambang Isti Nugroho. Pada usianya yang ke-66 tahun, penyair sekaligus aktivis pergerakan ini seperti sedang membuktikan bahwa waktu tidak pernah berhasil melumpuhkan keyakinan, apalagi mematikan nurani.
Peluncuran enam buku sekaligus di Gedung Teater Wahyu Sihombing, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, 30 Juli 2026, bukan sekadar seremoni penerbitan karya. Peristiwa itu lebih menyerupai perayaan panjang tentang daya hidup gagasan, keteguhan sikap, serta kesetiaan pada jalan sunyi yang selama puluhan tahun ditempuh seorang pejuang kebudayaan. Tema “Persahabatan Demokrasi Tanpa Henti” seakan menjadi penegasan bahwa persahabatan sejati bukan dibangun oleh kepentingan, melainkan oleh kesetiaan menjaga nurani agar tetap menyala.
Di tengah dunia yang semakin bising oleh transaksi kekuasaan dan kepentingan, Bambang Isti Nugroho justru menghadirkan ruang perjumpaan yang langka. Hariman Siregar, Burzah Syarnubi, Sri Eko Sriyanto Galgendu, Herdi Syahrazad, Iwan Sumule, Yoserizal Manua, Eko Sulys, Indra Tranggono, hingga para seniman dari berbagai penjuru Nusantara hadir bukan sekadar memenuhi undangan. Mereka datang membawa serpihan sejarah yang pernah mereka lalui bersama, ketika demokrasi belum menjadi slogan yang mudah diucapkan, tetapi harga mahal yang harus dibayar dengan penjara, pengasingan, bahkan kehilangan masa depan.
Hariman Siregar mengenang Bambang sebagai sosok yang tidak pernah kehilangan keberanian. Konsistensi itulah yang membuatnya tetap tegak sejak masa-masa pergolakan hingga era Reformasi, ketika bersama Indonesia Demokrasi Monitor (InDemo), ia kembali menjahit simpul-simpul gerakan yang sempat tercerai-berai oleh perubahan zaman.
Burzah Syarnubi melihatnya sebagai pribadi yang tidak pernah berdamai dengan ketidakadilan. Sementara budayawan Indra Tranggono menghadirkan kesaksian yang lebih personal, sebab persahabatan mereka telah tumbuh sejak masa remaja di Yogyakarta. Persahabatan itu tidak dibangun oleh kesamaan profesi, tetapi oleh keyakinan bahwa kebudayaan selalu menjadi benteng terakhir ketika politik kehilangan akhlaknya.
Malam itu menjadi semakin syahdu ketika puisi-puisi dibacakan. Olivia dan Desy menghadirkan tafsir suara atas kata-kata, sementara Bambang sendiri membacakan puisinya berjudul “Anjing-anjing Syahrir”, sebuah karya yang dipersembahkan bagi Rachman Tolleng dan Iwan Sumule. Dalam puisi, sejarah tidak hanya dikenang, tetapi dihidupkan kembali agar generasi berikutnya tidak kehilangan jejak tentang siapa yang pernah berdiri menjaga martabat bangsa.
Namun, Bambang Isti Nugroho bukanlah tokoh yang lahir dari ruang nyaman. Ia ditempa oleh pengalaman yang keras, bahkan getir. Penjara Wirogunan hingga Nusakambangan pernah menjadi alamat hidupnya setelah rezim Orde Baru menuduhnya menyebarkan ajaran komunisme melalui pasal-pasal subversi yang kala itu menjadi senjata ampuh membungkam suara berbeda.
Bersama Bambang Subono, kemudian disusul Bonar Tigor Naipospos, ia menghadapi pengadilan politik yang lebih menghakimi keyakinan daripada membuktikan kesalahan. Vonis delapan tahun penjara yang diterimanya tidak hanya mengurung tubuhnya, tetapi justru menempa batinnya. Penjara ternyata tidak selalu melahirkan keputusasaan; bagi sebagian orang, ia menjadi sekolah kehidupan yang mengajarkan bagaimana mempertahankan kemerdekaan berpikir ketika kebebasan bergerak telah dirampas.
Jauh sebelum itu, Bambang telah menjadi bagian dari denyut kebudayaan Yogyakarta. Ketika mendirikan Kelompok Palagan, ia mengundang para penyair dan seniman untuk berkumpul di rumahnya di bagian selatan Kota Yogyakarta. Di sanalah seni dan perlawanan saling bersalaman. Kata-kata bukan lagi sekadar rangkaian kalimat, melainkan senjata yang mampu melawan ketakutan.
Masa itu adalah masa ketika kampus-kampus dipagari oleh kebijakan NKK dan BKK, ketika ruang berpikir dipersempit oleh negara, dan ketika kendaraan lapis baja dapat memasuki halaman universitas untuk membungkam suara mahasiswa. Gelanggang Mahasiswa Universitas Gadjah Mada pernah menjadi saksi bagaimana peluru tajam meninggalkan lubang-lubang pada tembok, sementara sejarah meninggalkan luka pada ingatan.
Kebijakan Normalisasi Kehidupan Kampus melalui SK Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 0156/U/1978 menjadi salah satu babak ketika negara berusaha menata kampus menjadi ruang yang steril dari kritik. Baru setelah lahir kebijakan Senat Mahasiswa Perguruan Tinggi melalui SK Nomor 4033/U/1990, ruang demokrasi perlahan kembali dibuka, meski luka yang ditinggalkan rezim sebelumnya belum sepenuhnya sembuh.
Dalam pusaran sejarah itulah Bambang Isti Nugroho tumbuh. Ia tidak sekadar menjadi saksi, melainkan pelaku sejarah. Ia menjalani jalan panjang dari ruang diskusi mahasiswa, panggung sastra, ruang interogasi, sel penjara, hingga akhirnya kembali ke ruang publik sebagai penyair yang tetap memelihara keyakinan bahwa kata-kata memiliki kekuatan mengubah zaman.
Peluncuran enam buku pada usia 66 tahun menjadi penanda bahwa kreativitas tidak pernah tunduk kepada umur. Justru pengalaman hidup yang panjang telah mematangkan pandangannya, memperluas jejaring persahabatan, sekaligus memperkokoh posisinya sebagai simpul yang mempertemukan seniman, budayawan, aktivis, dan para pejuang demokrasi.
Mungkin itulah makna terdalam dari peristiwa budaya di Taman Ismail Marzuki malam itu. Yang dirayakan sesungguhnya bukan enam buku, bukan pula angka enam puluh enam. Yang dirayakan adalah kesetiaan seorang manusia kepada nilai-nilai yang diyakininya. Sebab perlawanan sejati tidak pernah lahir dari kebencian, melainkan dari kecintaan kepada keadilan.
Dan barangkali, di situlah kebudayaan menemukan kembali rumahnya: pada manusia-manusia yang tidak pernah lelah merawat nurani. Mereka tidak meminta disebut pahlawan. Mereka hanya memilih tetap berjalan, meski jalan itu sepi, panjang, dan penuh luka. Karena bagi mereka, menyerah bukanlah pilihan, sedangkan sejarah selalu memberi tempat bagi orang-orang yang tetap setia menjaga api kemanusiaan agar tidak padam.
Taman Ismail Marzuki, Jakarta
30 Juli 2026