Viva Yoga Percaya TEP 2026 Lahirkan Pemimpin Masa Depan Sekaligus Bangkitkan Kawasan Transmigrasi
BOGOR,TelusuR.ID — Wakil Menteri Transmigrasi Viva Yoga Mauladi menegaskan Program Tim Ekspedisi Patriot (TEP) 2026 menjadi salah satu strategi pemerintah untuk mempercepat peningkatan produktivitas kawasan transmigrasi melalui penerapan hasil riset dan inovasi para akademisi di berbagai daerah.
Pernyataan itu disampaikan Viva Yoga saat memberikan pembekalan kepada 1.230 anggota Tim Ekspedisi Patriot (TEP) 2026 di Kota Bogor, Jawa Barat, Sabtu (25/7/2026), sebelum mereka diberangkatkan ke puluhan kawasan transmigrasi di Indonesia.
Menurut Viva Yoga, pembekalan menjadi tahapan penting agar seluruh anggota memahami tantangan lapangan sekaligus mampu mengimplementasikan keilmuan yang dimiliki untuk menjawab kebutuhan masyarakat di kawasan transmigrasi.
“Sebelum dilepas ke berbagai kawasan transmigrasi, anggota TEP diberi pembekalan berbagai materi keilmuan,” kata Viva Yoga usai pembukaan TEP 2026 yang dilakukan Menteri Transmigrasi M. Iftitah Sulaiman Suryanegara.
Program TEP 2026 melibatkan para guru besar, doktor, dan lulusan magister dari sejumlah perguruan tinggi terkemuka, antara lain Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Indonesia (UI), Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Padjadjaran, Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Diponegoro, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Universitas Airlangga, Universitas Brawijaya, hingga Universitas Hasanuddin.
Selama empat bulan ke depan, mereka akan diterjunkan ke 53 kawasan transmigrasi, yang terdiri atas 41 kawasan prioritas nasional, dua kawasan prioritas Kementerian Transmigrasi, serta 10 kawasan prioritas di Papua.
Mereka akan melanjutkan berbagai rekomendasi hasil Tim Ekspedisi Patriot 2025 melalui program inovasi, pengembangan potensi unggulan daerah, serta pendampingan masyarakat di sejumlah kawasan transmigrasi, seperti Salor di Kabupaten Merauke, Papua Selatan; Selaut di Kabupaten Simeulue, Aceh; Lunang Selaut dan Muara Takung-Kamang Baru di Kabupaten Sijunjung, Sumatera Barat; Batu Betumpang di Kabupaten Bangka; hingga Barelang di Kota Batam.
Viva Yoga menilai kualitas sumber daya manusia yang tergabung dalam TEP 2026 menjadi modal utama keberhasilan program tersebut. Ia mengungkapkan, proses seleksi berlangsung sangat kompetitif.
“Dari lebih dari 10.359 pendaftar yang berasal dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia, bahkan luar negeri, terpilih 1.230 peserta terbaik. Mereka adalah sosok-sosok yang cerdas dan manusia unggul,” ujarnya.
Menurut Viva Yoga, keterlibatan para akademisi dalam pembangunan kawasan transmigrasi merupakan bentuk nyata pengabdian ilmu pengetahuan kepada masyarakat. Ia optimistis riset yang selama ini berkembang di lingkungan kampus dapat diimplementasikan secara langsung untuk mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat.
“Selama ini mereka terbiasa melakukan riset di laboratorium maupun lingkungan akademik. Kini saatnya ilmu pengetahuan itu diterapkan dalam ruang yang lebih luas, yakni kawasan transmigrasi yang memiliki potensi besar untuk terus berkembang,” kata dia.
Ia juga berharap program tersebut tidak hanya menghasilkan rekomendasi akademik, tetapi mampu menghadirkan solusi konkret yang berdampak terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat serta produktivitas kawasan transmigrasi.
Sementara itu, Menteri Transmigrasi M. Iftitah Sulaiman Suryanegara menekankan bahwa kehadiran Tim Ekspedisi Patriot harus mampu menjawab berbagai persoalan riil yang dihadapi masyarakat.
Menurutnya, ilmu pengetahuan yang dimiliki para peserta semestinya menjadi instrumen untuk menghadirkan inovasi, memperkuat potensi lokal, sekaligus mempercepat pembangunan kawasan transmigrasi.
Ia menambahkan, apabila berbagai inovasi yang dihasilkan mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, Program Tim Ekspedisi Patriot akan terus dikembangkan pada periode-periode berikutnya.
Bagi Kementerian Transmigrasi, TEP 2026 tidak hanya menjadi program riset lapangan, tetapi juga bagian dari upaya membangun ekosistem pembangunan berbasis ilmu pengetahuan. Melalui kolaborasi pemerintah dan perguruan tinggi, kawasan transmigrasi diharapkan mampu tumbuh sebagai pusat-pusat ekonomi baru yang produktif, inovatif, dan berdaya saing.