Muktamar LESBUMI Diharapkan Mampu Merumuskan Pakem Amar Ma’ruf Nahi Munkar dan Rahmatan Lil Alamin

0
7 views
Bagikan :

Muktamar LESBUMI Diharapkan Mampu Merumuskan Pakem Amar Ma’ruf Nahi Munkar dan Rahmatan Lil Alamin

Oleh: Jacob Ereste

Banten,TelusuR.ID – Muktamar LESBUMI (Lembaga Seni Budaya Muslim Indonesia) yang akan berlangsung pada 12–14 Juni 2026 di Universitas KH. A. Wahab Hasbullah (UNWAHA), Jombang, mengusung tema “Kembali ke Akar”. Tema ini bukan sekadar slogan yang enak didengar, melainkan sebuah ajakan untuk menengok kembali fondasi kebudayaan yang selama ini menjadi penyangga kehidupan bangsa.

Di tengah kehidupan yang semakin gaduh oleh pertarungan kepentingan politik, tekanan ekonomi, dan kegersangan spiritual, tema tersebut terasa menemukan relevansinya. Sebab bangsa yang tercerabut dari akar budayanya akan mudah kehilangan arah. Kemajuan material tanpa pijakan nilai hanya akan melahirkan kegelisahan baru yang tidak pernah selesai.

Karena itu, Muktamar LESBUMI patut menjadi ruang perjumpaan para ulama, seniman, budayawan, akademisi, mahasiswa, dan masyarakat luas untuk merumuskan kembali posisi seni dan budaya dalam membangun peradaban. Seni tidak boleh sekadar menjadi hiburan. Budaya tidak cukup hanya menjadi benda pameran. Keduanya harus menjadi instrumen pendidikan yang membentuk watak manusia.

Dalam konteks Islam, persoalan ini menjadi semakin penting. Sebab hingga kini, umat Islam masih lebih sering memahami amar ma’ruf nahi munkar dalam kerangka formal dan simbolik. Padahal hakikat amar ma’ruf nahi munkar adalah menghadirkan kebaikan dalam seluruh aspek kehidupan, termasuk melalui seni dan kebudayaan yang mampu menyentuh kesadaran manusia secara lebih halus, lebih mendalam, dan lebih manusiawi.

Di sinilah peran LESBUMI menjadi penting. Lembaga ini memiliki tanggung jawab sejarah untuk membuktikan bahwa seni dan budaya bukan lawan agama. Seni dan budaya justru dapat menjadi medium dakwah yang efektif, santun, dan beradab. Dakwah yang tidak menakut-nakuti, tetapi mengajak. Dakwah yang tidak memaksa, tetapi menyadarkan.

Tema “Kembali ke Akar” juga perlu dimaknai sebagai ajakan untuk kembali menghargai kekayaan tradisi Nusantara yang telah melahirkan peradaban Indonesia. Tradisi itu tidak lahir dari ruang kosong. Ia merupakan hasil pergulatan panjang sejarah, pengalaman hidup, nilai spiritual, dan kearifan lokal yang diwariskan lintas generasi.

Bangsa Indonesia memiliki kekayaan budaya yang luar biasa. Dari pantun, macapat, ludruk, wayang, tari topeng, kaligrafi, hingga beragam seni bela diri tradisional. Semua itu bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan modal peradaban yang belum sepenuhnya dimanfaatkan. Ironisnya, di saat bangsa lain berlomba menggali identitas budayanya, kita justru sering menganggap kekayaan sendiri sebagai barang kuno yang tidak lagi penting.

Padahal kebudayaan adalah jati diri bangsa. Tanpa kebudayaan, pembangunan hanya menghasilkan gedung-gedung tinggi yang kosong makna. Tanpa kebudayaan, kemajuan teknologi hanya melahirkan manusia yang cerdas secara intelektual, tetapi miskin kepekaan sosial dan spiritual.

Karena itu, Muktamar LESBUMI semestinya tidak berhenti pada pemilihan pengurus atau penyusunan program kerja. Yang lebih penting adalah melahirkan rumusan pemikiran yang mampu menjadi pegangan umat Islam dalam memaknai amar ma’ruf nahi munkar melalui pendekatan seni dan budaya.

Rumusan itu diperlukan karena hingga kini belum ada pakem yang cukup kuat dan komprehensif yang dapat menjadi rujukan bagi umat Islam dalam mengembangkan seni dan budaya sebagai instrumen dakwah sekaligus sarana membangun peradaban. Akibatnya, seni sering dicurigai, sementara dakwah kerap kehilangan sentuhan estetika yang membuatnya ramah dan membumi.

Kampus dan masjid juga perlu mengambil peran yang lebih besar. Jangan hanya menjadi ruang ritual formal yang monoton dan berulang. Keduanya harus berkembang menjadi pusat pengembangan ilmu pengetahuan, seni, budaya, dan kreativitas umat. Dari ruang-ruang itulah lahir gagasan besar yang mampu membebaskan masyarakat dari kemiskinan, kebodohan, dan ketertinggalan.

Harapan terbesar dari Muktamar LESBUMI sesungguhnya sederhana: lahirnya kesadaran baru bahwa seni dan budaya adalah bagian penting dari perjuangan membangun peradaban. Bahwa dakwah tidak hanya dilakukan dari mimbar ke mimbar, tetapi juga melalui karya seni yang mencerahkan, pertunjukan yang mendidik, dan kebudayaan yang memuliakan manusia.

Sebab pada akhirnya, makna rahmatan lil alamin tidak cukup hanya diucapkan. Ia harus hadir dalam kehidupan nyata sebagai sikap, perilaku, karya, dan kebudayaan yang membawa manfaat bagi seluruh umat manusia.

Jika itu dapat dirumuskan dan diwujudkan oleh Muktamar LESBUMI kali ini, maka pertemuan di Jombang tersebut bukan sekadar agenda organisasi. Ia akan menjadi ikhtiar penting untuk meneguhkan kembali arah peradaban Indonesia yang berakar pada tradisi, berpijak pada nilai spiritual, dan terbuka bagi masa depan yang lebih manusiawi.

Banten, 7 Juni 2026

Tinggalkan Balasan