Jacob Ereste: Kesederhanaan sebagai Laku Spiritual di Tengah Turbulensi Budaya dari Delapan Penjuru Angin
TelusuR.ID – Persahabatan yang sejati tidak dibangun oleh kepentingan, melainkan oleh kejujuran dan kesetiaan. Dari keduanya tumbuh konsistensi dan keikhlasan. Dan dari keikhlasan lahir persaudaraan yang tidak memerlukan ikatan darah ataupun pengesahan di hadapan notaris. Sebab, yang mengikat manusia bukan sekadar hukum, melainkan hati yang saling menjaga.
Karena itu, permusuhan, pertikaian, apalagi pengkhianatan, selalu berdiam di seberang sana. Ia tumbuh dari kerakusan diri, dari hasrat untuk menang sendiri, dari keinginan untuk berdiri lebih tinggi dengan menginjak martabat orang lain. Semua itu adalah penyakit yang lahir dari ego yang membengkak.
Pecah kongsi, perceraian, dan perseteruan sering kali bukan disebabkan oleh perbedaan, melainkan oleh kesombongan yang merasa paling benar dan paling unggul. Dalam ruang seperti itu, persahabatan kehilangan ruhnya. Padahal sahabat, terlebih saudara, semestinya menjadi teman seperjalanan yang menghadirkan keindahan, harmoni, dan romantisme kemanusiaan yang tulus.
Persaudaraan tidak pernah lahir dari tekanan. Ia tumbuh dari taman hati yang dirawat bersama dengan kasih sayang, saling percaya, dan keikhlasan untuk menerima kekurangan satu sama lain. Sebab, yang membuat hubungan manusia bertahan bukan sekadar hak dan kewajiban, melainkan kesediaan untuk tidak saling melukai.
Di sanalah spiritualitas menemukan maknanya. Nilai-nilai ilahiah tidak selalu tampil dalam ritual yang gemerlap. Ia justru hadir dalam kesederhanaan sikap, dalam kejujuran yang dijaga, dalam kesetiaan yang dipelihara, serta dalam keikhlasan untuk tidak mengkhianati dan tidak mengecewakan sesama.
Nilai-nilai spiritual seperti inilah yang semakin diperlukan ketika kehidupan politik, ekonomi, hukum, dan kebudayaan sedang dilanda turbulensi. Segala sesuatu bergerak tanpa kepastian. Ukuran benar dan salah sering diperdagangkan. Moral dan kepantasan kerap disisihkan oleh kepentingan sesaat. Akibatnya, manusia mudah tergelincir menjadi makhluk yang kehilangan martabatnya sendiri.
Padahal manusia telah dianugerahi kemuliaan sebagai khalifah di muka bumi, pembawa rahmat bagi semesta. Karena itu, fitrah kemanusiaan yang luhur patut terus dirawat agar tidak terjerumus dalam kemungkaran. Sebab, sekecil apa pun kebaikan yang mampu dilakukan, ia tetap lebih bermakna daripada membiarkan keburukan merajalela.
Manusia hidup bukan sekadar untuk dirinya sendiri. Ia harus memiliki arti bagi orang lain. Maka, memilih hidup sederhana bukanlah tanda kekalahan, melainkan bentuk kemenangan atas nafsu yang tak pernah mengenal batas.
Di tengah turbulensi budaya yang menyergap dari delapan penjuru angin, kesederhanaan justru menjadi jurus pertahanan diri yang paling ampuh. Sebab ketika arus zaman semakin liar dan sulit dibendung, manusia hanya dapat bertahan dengan memperkuat akar spiritualnya, agar tidak hanyut dan tercerabut dari kemuliaan yang telah dianugerahkan Tuhan kepadanya.
Banten, 23 Juni 2026



