SEMANGAT GENERASI MUDA NAHDLIYYIN JOMBANG: MENJAGA AKAR, MENYONGSONG ZAMAN
JOMBANG,TelusuR.ID – Kecintaan Bung Karno kepada Nahdlatul Ulama bukanlah bentuk kedekatan politik semata. Ia lahir dari pemahaman bahwa NU merupakan salah satu kekuatan moral yang ikut melahirkan dan menjaga Indonesia. NU berdiri bukan hanya sebagai organisasi keagamaan, melainkan sebagai gerakan peradaban yang memadukan keislaman, kebangsaan, dan kemanusiaan dalam satu tarikan napas.
Kesadaran itulah yang dahulu ditanamkan oleh para pendiri NU. Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari mengingatkan bahwa:
“Hubbul wathan minal iman” — cinta tanah air adalah bagian dari iman.
Meski ungkapan tersebut bukan hadis, pesan yang terus dihidupkan KH Hasyim Asy’ari itu telah menjadi ruh perjuangan kaum Nahdliyyin. Agama tidak dipertentangkan dengan kebangsaan. Menjadi Muslim yang baik berarti juga menjadi warga bangsa yang bertanggung jawab. Karena itu, sejak awal NU tidak pernah berdiri di luar Indonesia; NU tumbuh bersama Indonesia dan berjuang untuk Indonesia.
Namun hari ini tantangan yang dihadapi generasi muda tidak lagi berbentuk kolonialisme fisik. Tantangannya jauh lebih halus dan sering kali tidak disadari. Kita menghadapi kolonialisme informasi, krisis keteladanan, budaya instan, serta kecenderungan memuja popularitas daripada integritas.
Di tengah situasi seperti itu, pesan KH Hasyim Asy’ari terasa semakin relevan:
“Kemuliaan seseorang terletak pada ilmu dan adabnya.”
Di era media sosial, banyak orang berlomba menjadi terkenal, tetapi sedikit yang bersungguh-sungguh menjadi berilmu. Banyak yang ingin didengar, tetapi enggan belajar. Padahal dalam tradisi pesantren, ilmu tanpa adab hanya akan melahirkan kesombongan, sementara adab tanpa ilmu akan kehilangan arah.
Karena itulah Ketua Kaum Muda Nahdliyyin Jombang (KMNJ), Abd. Hamid Hamdah, menegaskan bahwa generasi muda Nahdliyyin tidak boleh kehilangan dua hal sekaligus: akar tradisi dan keberanian menghadapi masa depan. Modernitas harus dipeluk tanpa harus tercerabut dari nilai-nilai yang diwariskan para ulama.
Pandangan tersebut sejalan dengan pesan pendiri NU lainnya, KH Abdul Wahab Chasbullah, yang terkenal dengan semboyan:
“Al-Muhafazhah ‘alal qadimis shalih wal akhdzu bil jadidil ashlah.”
Memelihara tradisi lama yang baik dan mengambil hal-hal baru yang lebih baik.
Inilah formula peradaban NU. Bukan konservatisme yang menolak perubahan, tetapi juga bukan modernisme yang membuang tradisi. NU mengajarkan keseimbangan: menjaga akar sambil merentangkan cabang ke masa depan.
Jombang memiliki tanggung jawab historis untuk merawat warisan tersebut. Kota ini bukan hanya dikenal sebagai kota santri, tetapi juga sebagai pusat lahirnya pemikiran-pemikiran besar yang membentuk wajah Islam Indonesia. Dari pesantren-pesantren di Jombang lahir para ulama yang membuktikan bahwa keberagamaan yang mendalam dapat berjalan beriringan dengan nasionalisme yang kokoh.
Karena itu, KMNJ tidak boleh sekadar menjadi organisasi kepemudaan yang sibuk mengurus agenda seremonial. Ia harus menjadi ruang kaderisasi pemikiran, laboratorium kepemimpinan, dan pusat lahirnya gagasan-gagasan strategis untuk menjawab tantangan zaman.
Dalam konteks ini, pesan KH Wahid Hasyim juga layak menjadi pegangan generasi muda:
“Umat Islam harus menguasai ilmu pengetahuan agar mampu memimpin peradaban.”
Pesan tersebut menunjukkan bahwa perjuangan umat tidak cukup hanya melalui mimbar dan retorika. Kemajuan bangsa membutuhkan generasi yang menguasai ilmu pengetahuan, teknologi, ekonomi, dan berbagai bidang strategis lainnya. Keislaman yang kuat harus berjalan beriringan dengan kapasitas intelektual yang tinggi.
Abd. Hamid Hamdah meyakini bahwa masa depan NU tidak ditentukan oleh seberapa besar organisasi ini di masa lalu, melainkan oleh kualitas kader mudanya hari ini. Jika generasi muda hanya menjadi penikmat warisan sejarah, maka NU akan berjalan di tempat. Tetapi jika mereka mampu menjadikan warisan para ulama sebagai energi untuk melahirkan karya dan inovasi, maka NU akan tetap menjadi kekuatan peradaban yang relevan sepanjang zaman.
Pada akhirnya, NU bukanlah sekadar organisasi yang didirikan pada tahun 1926. NU adalah ikhtiar panjang para ulama untuk menjaga agama, merawat bangsa, dan memuliakan manusia. Amanah besar itu kini berada di tangan generasi muda Nahdliyyin.
Sebagaimana pesan KH Hasyim Asy’ari:
“Jadilah orang yang bermanfaat bagi agama, nusa, dan bangsa.”
Menjelang Muktamar Nahdlatul Ulama ke 35, peran generasi muda menjadi semakin penting dan menentukan. Muktamar tidak boleh dipahami semata sebagai arena pergantian kepemimpinan atau kontestasi pengaruh antar-kelompok. Lebih dari itu, muktamar adalah momentum perumusan arah peradaban NU di tengah perubahan global yang semakin kompleks. Karena itu, kaum muda Nahdliyyin harus hadir bukan sebagai penonton yang hanya meramaikan suasana, melainkan sebagai penjaga akal sehat organisasi, penyumbang gagasan, sekaligus pengawal nilai-nilai dasar yang diwariskan para muassis.
Tantangan NU ke depan tidaklah ringan. Disrupsi teknologi, ketimpangan ekonomi, krisis lingkungan, polarisasi sosial, hingga menguatnya budaya pragmatisme politik menuntut lahirnya pemikiran-pemikiran segar yang tetap berpijak pada khittah perjuangan NU. Dalam konteks inilah generasi muda memiliki tanggung jawab historis untuk memastikan bahwa muktamar tidak terjebak pada perdebatan personal dan kepentingan jangka pendek, tetapi berorientasi pada agenda besar umat, bangsa, dan kemanusiaan.
Ketua KMNJ, Abd. Hamid Hamdah, memandang bahwa menjelang muktamar, pemuda NU harus menjadi kekuatan moral yang menjaga marwah organisasi dari praktik-praktik yang dapat menggerus khidmah dan keteladanan. Generasi muda harus berani mengedepankan politik gagasan daripada politik kelompok, mengutamakan kapasitas dan integritas daripada popularitas, serta menempatkan kepentingan jam’iyah di atas kepentingan pribadi maupun golongan. Sebab para pendiri NU mewariskan organisasi ini bukan untuk menjadi alat perebutan kekuasaan, melainkan sebagai sarana pengabdian kepada agama, bangsa, dan masyarakat.
Lebih jauh, muktamar harus menjadi panggung kebangkitan intelektual kaum muda Nahdliyyin. Dari forum-forum diskusi, bahtsul masail, kajian kebangsaan, hingga penguatan ekonomi umat, generasi muda perlu menghadirkan gagasan yang mampu menjawab tantangan abad ke-21. NU membutuhkan kader-kader yang tidak hanya fasih membaca kitab kuning, tetapi juga mampu memahami kecerdasan buatan, transformasi digital, geopolitik global, ekonomi hijau, dan berbagai isu strategis lainnya. Sebab sebagaimana pesan KH Abdul Wahab Chasbullah, menjaga tradisi dan merespons perubahan harus berjalan beriringan.
Muktamar akan datang dan berlalu. Kepemimpinan akan berganti dari satu generasi ke generasi berikutnya. Namun yang akan menentukan masa depan NU bukanlah siapa yang menang dalam muktamar, melainkan apakah muktamar mampu melahirkan generasi yang siap memikul amanah peradaban. Di titik inilah kaum muda Nahdliyyin Jombang harus mengambil peran: menjadi penjaga nilai, penggerak perubahan, dan penyambung cita-cita besar para muassis Nahdlatul Ulama.
Maka tugas generasi muda Nahdliyyin bukan sekadar mencintai NU dalam kata-kata, tetapi membuktikannya melalui ilmu, pengabdian, dan karya nyata untuk Indonesia.
KMNJ — Bergerak dengan gagasan, mengabdi dengan ketulusan, dan menjaga marwah Nahdlatul Ulama dengan karya nyata.



