Tjokorda Agung, Prof. Ana Mariana, dan Gus Hery Bongkar Krisis Moral Zaman Modern

0
5 views
Bagikan :

Diskusi Rutin GMRI Berlanjut di Kediaman Prof. Ana Mariana Bersama Dr. Tjokorda Agung Kesumayudha dan Gus Hery Haryanto Azumi

Oleh Jacob Ereste

TelusuR.ID  – Pertemuan rutin Gerakan Moral Rekonsiliasi Indonesia (GMRI) yang digelar dua kali sepekan, setiap Senin dan Kamis, kembali berlangsung pada 1 Juni 2026 di Sekretariat GMRI, Jalan Ir. H. Juanda No. 4A, Jakarta Pusat. Pertemuan kali ini disambangi Joyo Yudhantoro bersama laskar Srikandinya yang menikmati sajian beras kencur racikan Mbak Ning. Minuman tradisional itu bukan sekadar penghangat suasana, tetapi juga menjadi pengingat bahwa kesehatan dan semangat hidup sering kali berawal dari hal-hal sederhana yang diwariskan budaya.

Menurut sang permaisuri, ukuran awet muda bukanlah wajah yang tampak segar, melainkan semangat yang tetap menyala untuk terus bergerak, bersilaturahmi, dan berkarya. Karena itu, peringatan Hari Lahir Pancasila tidak cukup hanya diperingati melalui seremoni, hafalan, atau slogan. Pancasila baru bermakna apabila hidup dalam tindakan nyata dan perilaku sehari-hari.

Dari Sekretariat GMRI, pertemuan berlanjut ke kediaman Prof. Dr. Ana Mariana, SH., MH., MBA., di kawasan Puri Ampera, Ragunan, Jakarta Selatan. Obrolan yang dimulai pukul 19.30 WIB itu berlangsung hangat hingga menjelang dini hari.

Hadir dalam pertemuan tersebut Dr. Tjokorda Ngurah Agung Kesumayudha, SH., M.Sc., bersama rombongan Gus Hery Haryanto Azumi, tokoh muda Nahdlatul Ulama yang dikenal memiliki jaringan pergaulan luas serta perhatian mendalam pada pengembangan spiritualitas. Turut hadir pula Sri Eko Sriyanto Galgendu yang selama ini dikenal sebagai salah satu tokoh spiritual Nusantara.

Dalam diskusi yang berlangsung cair itu mengemuka gagasan besar GMRI tentang pentingnya diplomasi spiritual global. Gagasan ini berangkat dari kenyataan bahwa kemajuan teknologi dan peradaban modern sering kali berjalan lebih cepat dibanding perkembangan etika dan moral manusia. Akibatnya, banyak persoalan kemanusiaan muncul justru karena manusia kehilangan orientasi nilai yang semestinya menjadi penuntun.

Karena itu, GMRI memandang perlunya membangun kerja sama lintas bangsa untuk membangkitkan kembali kesadaran spiritual sebagai fondasi etika, moral, dan akhlak. Sebab tanpa fondasi tersebut, kemajuan hanya akan melahirkan kecanggihan tanpa kebijaksanaan.

Dalam konteks itu, berbagai kearifan lokal Nusantara menjadi relevan untuk kembali dibaca. Masyarakat Sunda mengenal konsep Tri Tangtu di Buana, sementara masyarakat Bali memiliki falsafah Tri Hita Karana. Keduanya mengajarkan keseimbangan hubungan antara manusia, alam, dan Tuhan. Nilai-nilai inilah yang selama berabad-abad menjaga daya tahan budaya sekaligus memperkuat identitas masyarakatnya.

Kesadaran bahwa manusia bukan penguasa tunggal, melainkan bagian dari tatanan semesta, menjadi inti dari berbagai ajaran luhur tersebut. Ketika hubungan dengan alam rusak, manusia akan menuai akibatnya. Ketika hubungan antarmanusia retak, lahirlah konflik. Dan ketika hubungan dengan Tuhan diabaikan, manusia kehilangan arah.

Falsafah inilah yang menurut Dr. Tjokorda Ngurah Agung Kesumayudha layak menjadi rujukan dalam menghadapi berbagai tantangan zaman. Pemahamannya yang luas tentang hukum, kebudayaan, dan spiritualitas membuat pandangannya mampu menjembatani berbagai perspektif yang kerap dipertentangkan.

Di tengah diskusi yang berlangsung santai namun serius itu, Prof. Ana Mariana juga aktif memberikan pandangan, tanggapan, dan penjelasan atas berbagai persoalan kebangsaan yang mengemuka. Suasana makan malam bersama membuat pertemuan terasa akrab, tetapi tidak kehilangan bobot pemikiran yang dibicarakan.

Pada akhirnya, seluruh peserta sepakat bahwa gerakan membangun kesadaran spiritual perlu terus diperluas. Bukan untuk menjauhkan manusia dari realitas kehidupan, melainkan untuk memperkuat fondasi budaya, etika, dan moral dalam menghadapi perubahan zaman yang semakin kompleks.

Sebab bangsa yang kehilangan akar nilai akan mudah terombang-ambing oleh arus kepentingan. Sedangkan bangsa yang mampu menjaga akhlak, etika, dan kesadaran spiritualnya akan lebih siap mewujudkan kehidupan yang damai, adil, dan membawa rahmat bagi sesama.

Ragunan, 1 Juni 2026

Tinggalkan Balasan