Podcast GMRI Mendadak Panas! Fuad Bawazier Blak-blakan Soal Ekonomi Era Prabowo

0
18 views
Bagikan :

Jacob Ereste : Obor Rakyat Reborn Menyambangi GMRI Podcast Bersama Fuad Bawazier

TelusuR.ID – Obor Rakyat Reborn tampaknya tidak ingin sekadar menjadi media penggembira di tengah hiruk-pikuk kebisingan politik dan ekonomi nasional. Langkah awal yang mereka tempuh dengan menyambangi Sekretariat GMRI (Gerakan Moral Rekonsiliasi Indonesia) di Jalan Ir. H. Juanda No. 4A, Jakarta Pusat, Kamis, 28 Mei 2026, memberi isyarat bahwa ruang-ruang dialog kritis masih hendak dirawat, meski negeri ini makin sesak oleh kegaduhan yang miskin kejernihan berpikir.

Kehadiran Fuad Bawazier — mantan Dirjen Pajak sekaligus Menteri Keuangan di era Presiden Soeharto — bukan sekadar nostalgia politik Orde Baru. Sosok yang kenyang pengalaman birokrasi dan ekonomi itu hadir membawa kegelisahan yang sama: Indonesia sedang berjalan terseok-seok di tengah tekanan ekonomi yang semakin tidak ramah kepada rakyat kecil.

Dalam podcast bersama yang dipandu Setiyardi Budiono, pembicaraan pun mengalir pada soal kurs dolar Amerika yang menembus angka Rp17.845. Angka yang terasa ironis, sebab menyerupai penanda tanggal kemerdekaan Indonesia, tetapi justru menjadi simbol lain dari ketidakberdayaan rupiah menghadapi tekanan global dan lemahnya ketahanan ekonomi nasional.

Fuad Bawazier menilai Presiden Prabowo Subianto sedang memikul beban yang tidak ringan. Warisan persoalan dari pemerintahan sebelumnya bertumpuk seperti utang sejarah yang tidak pernah benar-benar diselesaikan. Dari sektor fiskal, ketahanan pangan, energi, hingga lemahnya daya beli masyarakat, semuanya menuntut penyelesaian cepat di tengah ruang gerak yang sempit.

Yang terasa mencolok, menurut Fuad, pemerintahan saat ini tampak seperti bekerja sendiri, tanpa orkestrasi yang solid. Berbeda dengan era Soeharto yang, suka atau tidak suka, memiliki barisan teknokrat ekonomi yang bekerja dengan disiplin dan arah yang jelas. Bahkan istilah “Mafia Berkeley” yang dulu kerap dicibir, pada kenyataannya mampu menghadirkan koordinasi ekonomi yang lebih kokoh dibanding situasi sekarang yang terlihat gamang menghadapi gejolak pasar dan tekanan dolar.

Akibatnya, publik pun menyaksikan bagaimana nilai tukar rupiah terus merosot tanpa kepastian kapan akan menemukan titik keseimbangan yang lebih wajar. Pemerintah seperti sibuk memadamkan api di satu sudut, sementara kobaran lain muncul di tempat berbeda. Dan di tengah keadaan seperti itu, Presiden Prabowo tampak menghadapi badai ekonomi hampir seorang diri.

Namun pertemuan di GMRI itu tidak semata bicara soal angka-angka ekonomi yang dingin. Ada pula nuansa kebudayaan dan spiritualitas pemikiran yang menghangatkan suasana. Sri Eko Sriyanto Galgendu berkenan mempersembahkan secara khusus “Kitab MA HA IS MA YA”, sebuah karya yang menghimpun 79 tokoh nasional dari berbagai disiplin ilmu dan profesi. Sebuah ikhtiar intelektual yang tampaknya hendak mengingatkan bangsa ini bahwa peradaban tidak cukup dibangun hanya dengan statistik pertumbuhan ekonomi, tetapi juga dengan kejernihan batin dan kebijaksanaan berpikir.

Margi Syarif, Produser Obor Rakyat Reborn, menyebut kunjungan ini sebagai langkah awal membangun sinergi yang lebih luas antara media dan gerakan moral kebangsaan. Sebab media yang sehat semestinya tidak sekadar menjadi corong kekuasaan atau pasar, tetapi mampu menjadi ruang pertukaran gagasan yang jujur dan merdeka.

Karena itu, sebagaimana disampaikan Setiyardi Budiono, sejumlah agenda antara GMRI dan Obor Rakyat Reborn akan mulai dipadukan dalam semangat kerja bersama. Sebuah upaya yang patut dicatat di tengah kecenderungan media digital hari ini yang lebih sibuk mengejar sensasi ketimbang substansi.

Di tengah bangsa yang semakin gaduh oleh pencitraan, barangkali yang paling dibutuhkan memang keberanian untuk kembali berbicara jernih.

Pecenongan, 28 Mei 2026

Tinggalkan Balasan