JOMBANG, TELUSUR.ID – Peringatan Hari Raya Iduladha tidak sekadar menjadi momen ritual penyembelihan hewan kurban semata. Lebih dari itu, hari raya ini membawa pesan moral yang sangat relevan bagi perbaikan tata kelola pemerintahan dan kepemimpinan di Indonesia.
Tokoh Muda Nahdliyin sekaligus Ketua Pimpinan Anak Cabang (PAC) Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (PERGUNU) Kecamatan Tembelang, Faizuddin FM atau yang akrab disapa Gus Faiz, membedah keteladanan mendalam di balik perayaan Iduladha.
Menurut Gus Faiz, terdapat makna utama yang terkandung dalam ibadah kurban, yakni ketakwaan, keikhlasan, kepedulian sosial, penyucian harta, serta simbol pengendalian diri yang kuat.
Dari kelima unsur tersebut, ketakwaan dan keikhlasan dinilai sebagai fondasi moral atau akhlak yang sangat krusial bagi para pemangku kebijakan dan pejabat pemerintahan saat ini.
Kedua nilai luhur ini diyakini mampu mengubah orientasi kekuasaan dari sekadar alat dominasi menjadi sebuah amanah pengabdian yang berfokus pada kesejahteraan masyarakat serta akuntabilitas.
Manifestasi ketakwaan dalam tata kelola pemerintahan yang baik akan melahirkan pribadi pejabat yang anti-korupsi. Ketakwaan menumbuhkan kesadaran bahwa segala tindakan diawasi oleh Tuhan, sehingga mampu mencegah praktik suap maupun penyalahgunaan wewenang.
Selanjutnya, nilai ini akan mendorong terciptanya keadilan sosial, di mana para pejabat dituntut untuk senantiasa berlaku adil dan tidak diskriminatif, baik dalam merumuskan kebijakan maupun mendistribusikan anggaran.
Sementara itu, nilai keikhlasan akan memunculkan jiwa pengabdian tanpa pamrih di kalangan birokrasi. Pejabat akan bekerja semata-mata demi kemaslahatan rakyat, bukan untuk memburu pujian, popularitas, atau sekadar meraup keuntungan pribadi.
Keikhlasan juga membuat pejabat menyadari bahwa jabatan bergengsi hanyalah titipan sementara yang kelak harus dipertanggungjawabkan, sehingga menjauhkan mereka dari sifat arogan dan membuat mereka tetap tegar saat menghadapi kritik publik.
“Jika pejabat negara mampu menggabungkan ketakwaan dan keikhlasan secara utuh, hal ini akan bermuara pada terwujudnya tata kelola pemerintahan yang bersih (good governance) serta menghadirkan pelayanan publik yang prima,” ujar Gus Faiz dalam keterangan tertulisnya diterima Telusur.id, Rabu (27/5/2026).
Oleh karena itu, Gus Faiz menaruh harapan besar kepada para pejabat negara, mulai dari tingkatan presiden, hingga wabil khusus Bupati Jombang beserta seluruh jajaran Organisasi Perangkat Daerah (OPD), untuk merenungkan pesan moral Iduladha ini.
Dalam menjalankan amanah kepemimpinan, seorang pemimpin harus mampu memberikan petunjuk dan arahan yang benar kepada rakyatnya, bukan melulu mementingkan agenda politik atau ambisi pribadi semata.
Tanggung jawab besar seorang pemimpin mencakup penegakan ibadah, mendorong zakat sebagai kepedulian sosial, melahirkan kebijakan yang menyejahterakan, serta wajib melindungi rakyat dari segala bentuk kedzaliman dan tindakan yang merugikan.
Makna penting lainnya dari Iduladha adalah kepedulian sosial. Bagi pejabat pemerintah, hal ini merupakan komitmen moral dan tanggung jawab mutlak untuk senantiasa memprioritaskan hajat hidup masyarakat luas.
Kepedulian ini harus diwujudkan secara nyata melalui kebijakan pro-rakyat seperti pengentasan kemiskinan dan layanan kesehatan bersubsidi, serta pemangkasan birokrasi untuk memberikan pelayanan publik yang setara bagi seluruh warga tanpa diskriminasi.
Pejabat publik juga dituntut memberikan keteladanan hidup dengan menjaga integritas, menghindari perilaku pamer kekayaan (flexing), memastikan APBD/APBN tepat sasaran, serta sigap terjun langsung dalam aksi kemanusiaan saat terjadi krisis atau bencana alam.
Sebagai penutup, Gus Faiz menegaskan bahwa pemimpin yang ideal harus memiliki sifat akomodatif dan kolaboratif, di mana mereka menjadikan kritik sebagai bahan evaluasi serta rajin bergotong royong dengan berbagai elemen masyarakat untuk menyelesaikan ragam persoalan sosial.



