JOMBANG, TelusuR.id — Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya, baru saja menyelesaikan tugas kenegaraan penting di Timur Tengah. Gus Yahya bergabung dengan delegasi resmi Pemerintah Indonesia untuk melayat wafatnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatullah Ali Khamenei, di Mashhad, Iran.
Keterlibatan tokoh puncak organisasi Islam terbesar di Indonesia ini membawa misi ganda yang sangat strategis di kancah internasional. Selain menyampaikan belasungkawa mendalam dari seluruh bangsa Indonesia, kehadiran Gus Yahya bersama delegasi juga mengusung misi kemanusiaan guna mendorong terciptanya perdamaian di kawasan tersebut.
Setibanya kembali di tanah air dari lawatan diplomatik darurat di Iran, Gus Yahya langsung mendarat dan segera berpindah bandara demi melanjutkan perjalanan menuju Jombang. Langkah cepat ini diambil guna memenuhi agenda silaturahmi yang sempat tertunda dengan keluarga besar Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas.
Pada Minggu (12/7), Di hadapan para dzuriyah KH Wahab Chasbullah yang menyambutnya hangat, Gus Yahya membagikan kisah perjalanannya selama berada di Iran. Ia menjelaskan bahwa keberangkatannya ke Iran merupakan bentuk pemenuhan tugas negara yang diamanatkan langsung kepada delegasi resmi.
Delegasi khusus bentukan pemerintah tersebut dipimpin oleh Menteri Luar Negeri Sugiono bersama Ketua MPR RI Ahmad Muzani. Perwakilan lintas sektor ini diutus sebagai representasi resmi negara dalam memberikan penghormatan terakhir pada prosesi pemakaman pemimpin tertinggi Iran tersebut.
Selama berada di Iran, delegasi Indonesia bergerak cepat melakukan serangkaian pertemuan tingkat tinggi dengan otoritas setempat. Salah satu agenda krusial yang terlaksana adalah pertemuan formal dengan Menteri Luar Negeri Iran Sayyed Abbas Arraghchi guna membahas stabilitas regional.
Selain itu, seluruh anggota delegasi, termasuk Gus Yahya, juga diterima langsung dalam ruang dialog bersama Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf. Tokoh tersebut diketahui juga mengemban posisi krusial sebagai ketua tim perunding dalam dinamika politik siber dan keamanan Iran.
Gus Yahya menegaskan bahwa dalam setiap pertemuan tersebut, delegasi Indonesia secara konsisten menyuarakan pesan perdamaian global. Komitmen deeskalasi konflik regional menjadi poin utama yang disampaikan oleh perwakilan Republik Indonesia kepada jajaran petinggi Iran.
Sebagai representasi dari warga Nahdliyin, Gus Yahya secara khusus menyampaikan langsung ucapan duka cita mendalam di hadapan Ketua Parlemen Iran. Ia menegaskan bahwa duka yang dirasakan masyarakat Iran turut dirasakan oleh keluarga besar Nahdlatul Ulama.
Ia juga menceritakan kepada otoritas Iran bahwa sejak awal ketegangan geopolitik mulai memanas, PBNU telah bergerak mengambil langkah spiritual. Instruksi resmi telah dikeluarkan agar seluruh warga NU di Indonesia terus-menerus memanjatkan doa serta menggelar istigasah demi keselamatan umat Muslim dunia.
Di tengah situasi konflik yang masih membayangi wilayah tersebut, Gus Yahya mensyukuri sambutan baik yang diberikan pihak Iran. Seluruh pesan kedamaian, dorongan dialog, dan empati kemanusiaan yang dibawa oleh delegasi Indonesia direspons secara positif dan penuh hormat.
Setelah menyelesaikan misi internasional tersebut, Gus Yahya mengungkapkan kebahagiaannya karena dapat langsung bersujud syukur di Tambakberas. Terlebih, kunjungan ini bertepatan dengan disepakatinya keputusan pelaksanaan Muktamar NU mendatang di pesantren bersejarah ini.
Menurut Gus Yahya, keputusan menempatkan Muktamar di Tambakberas memiliki arti penting dalam memenuhi spiritualitas warga Nahdliyin. Agenda tertinggi organisasi ini dipastikan akan berlangsung di bawah naungan berkah serta karomah perjuangan para ulama sepuh pendiri NU.
Gus Yahya berharap pelaksanaan Muktamar di lokasi sakral tersebut akan melahirkan keputusan-keputusan strategis yang berbobot. Hasil akhir forum tertinggi ini ditargetkan membawa kemaslahatan nyata, tidak hanya bagi internal warga NU, melainkan bagi kemanusiaan secara global.
Lawatan ke Iran memberikan perspektif penting bagi Gus Yahya mengenai potret dunia baru pasca-konflik global yang kini sedang bergeser. Ia menilai eskalasi politik internasional saat ini menjadi pemicu perubahan tatanan dunia yang tidak akan bisa kembali seperti semula.
Perubahan fundamental ini, menurutnya, menuntut Nahdlatul Ulama untuk berpikir dan bertindak secara taktis serta strategis dalam menyongsong abad kedua organisasi. NU harus mampu memahami dinamika global baru agar fungsi pengabdiannya tetap relevan dan dirasakan manfaatnya oleh dunia siber internasional.



