JOMBANG, TelusuR.id — Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya, melakukan kunjungan silaturahmi ke Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang. Kedatangan orang nomor satu di organisasi berlambang jagat ini disambut hangat oleh keluarga besar pesantren serta dzuriyah salah satu tokoh muasis (pendiri) NU, KH Wahab Chasbullah, Minggu (12/7/2026).
Gus Yahya menyampaikan rasa bahagianya secara pribadi atas tercapainya keputusan untuk melaksanakan Muktamar NU mendatang di Pesantren Tambakberas. Menurutnya, keputusan tempat pelaksanaan ini melahirkan kegembiraan tersendiri bagi dirinya di tengah tanggung jawab kedinasan besar yang sedang diemban.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa terpilihnya Tambakberas sebagai lokasi Muktamar telah memenuhi harapan besar dari seluruh warga Nahdliyin. Warga NU sejak lama mendambakan gelaran akbar yang dinaungi langsung oleh berkah dan karomah para ulama sepuh, baik yang masih ada maupun yang telah mendahului.
Pesantren Tambakberas sendiri memiliki nilai historis yang sangat mendalam bagi organisasi. Tempat ini merupakan basis perjuangan dari salah seorang pendiri utama Nahdlatul Ulama, yaitu almarhum Kiai Wahab Chasbullah, sehingga atmosfer spiritualnya dinilai sangat kuat untuk mengawal masa depan organisasi.
Dengan pelaksanaan di lokasi bersejarah tersebut, Gus Yahya berharap Muktamar NU kelak tidak hanya dinaungi oleh berkah para ulama saat ini. Kegiatan akbar tersebut diharapkan juga mendapat limpahan berkah dari para muasis atau kiai-kiai pendiri awal Nahdlatul Ulama yang ruh perjuangannya masih terasa kuat.
Rasa optimisme itu diakui Gus Yahya membesarkan hati segenap pengurus dan warga Nahdliyin di seluruh pelosok negeri. Agenda besar lima tahunan tersebut diyakini akan berjalan dengan aman, lancar, serta mampu melahirkan keputusan-keputusan yang berbobot untuk kemajuan umat.
PBNU berharap hasil akhir Muktamar nanti membawa kemaslahatan yang luas, tidak hanya untuk internal jam’iyah dan jamaah NU siber. Keputusan yang diambil juga ditargetkan membawa kebaikan bagi bangsa Indonesia, agama, serta kemanusiaan secara universal di kancah internasional.
Sebelum tiba di Jombang, Gus Yahya menceritakan bahwa dirinya sempat menjadwalkan kunjungan ke Tambakberas pada Kamis pekan lalu. Namun, sebuah agenda diplomasi penting yang mendadak membuat jadwal silaturahmi yang sudah dirancang jauh-jauh hari tersebut harus mengalami penyesuaian.
Pada Rabu malam, ia menerima komunikasi mendesak untuk bergabung dalam delegasi resmi pemerintah Republik Indonesia. Gus Yahya diminta mendampingi perwakilan negara untuk memberikan penghormatan terakhir pada prosesi pemakaman Ayatullah Ali Khamenei di Mashhad, Iran.
Delegasi resmi tersebut dipimpin oleh Menteri Luar Negeri Sugiono dan Ketua MPR RI Ahmad Muzani yang mewakili langsung Presiden Republik Indonesia. Begitu mendarat kembali di tanah air dari Iran, Gus Yahya langsung berpindah bandara demi mempercepat perjalanannya menuju Jombang.
Selama berada di Iran, delegasi Indonesia sempat melangsungkan pertemuan tingkat tinggi dengan Menteri Luar Negeri Iran, Ali Bagheri Kani. Pertemuan tersebut mempertegas jalinan hubungan diplomatik kedua belah negara di tengah situasi berkabung nasional siber yang mendalam.
Selain itu, seluruh delegasi, termasuk Gus Yahya, melakukan pembicaraan dengan Ketua Parlemen Iran yang juga bertindak sebagai ketua tim perunding negara tersebut, Mohammad Bagher Ghalibaf. Dalam kesempatan berharga itu, pesan damai dari Presiden RI disampaikan secara langsung.
Gus Yahya menuturkan bahwa misi utama delegasi Indonesia ke Iran adalah membawa pesan kemanusiaan dan perdamaian global. Indonesia secara resmi menyampaikan belasungkawa mendalam dan mendorong agar proses geopolitik selanjutnya di kawasan tersebut diarahkan pada resolusi damai.
Di hadapan Ketua Parlemen Iran, Gus Yahya juga menyampaikan duka cita mendalam atas nama seluruh warga Nahdlatul Ulama. Ia menceritakan bahwa sejak awal konflik pecah, warga NU di Indonesia terus menggelar doa bersama dan istigasah memohon keselamatan umat Islam dunia.
Meskipun atmosfer politik di kawasan Timur Tengah masih diselimuti ketegangan konflik, Gus Yahya bersyukur seluruh pesan perdamaian dari delegasi Indonesia diterima dengan sangat baik. Respons positif tersebut menjadi modal penting bagi misi perdamaian dunia siber internasional selanjutnya.
Menutup narasinya di hadapan para tokoh Tambakberas, Gus Yahya mengaitkan momentum Muktamar mendatang dengan tantangan global yang terus berubah pasca-konflik dunia. NU diharapkan mampu merumuskan strategi baru yang lebih nyata manfaatnya bagi kemanusiaan demi menyongsong abad kedua organisasi.



