M Djali : Indonesia Tidak Sedang Runtuh

0
14 views
M.Djali Aktivis Kawak dan pemerhati politik
Bagikan :

Indonesia Tidak Sedang Runtuh
Oleh: M Djali
Aktivis kawak dan pemerhati politik

TelusuR.ID – Dolar naik lagi. Orang-orang mulai gelisah. Grup WhatsApp mulai ramai. Ada yang membandingkan keadaan hari ini dengan 1998. Ada yang mulai bicara krisis. Ada yang kembali menebar ketakutan seolah Indonesia sedang berada di bibir jurang.

Saya justru melihatnya berbeda.

Saya teringat satu hal sederhana: bangsa ini sudah terlalu sering diuji. Dan berkali-kali pula berhasil bertahan.

Tahun 1998 memang pernah menjadi luka besar bangsa ini. Rupiah runtuh. Perbankan kolaps. Harga-harga melonjak liar. Rakyat kehilangan harapan. Negara seperti kehilangan pegangan.

Tetapi Indonesia hari ini bukan Indonesia tahun 1998.

Fondasinya berbeda. Struktur ekonominya berbeda. Ketahanan negaranya juga berbeda.

Hari ini cadangan devisa Indonesia jauh lebih kuat. Sistem perbankan diawasi jauh lebih ketat. Inflasi masih terkendali. Konsumsi masyarakat tetap bergerak. Aktivitas ekonomi masih hidup. Negara juga masih memiliki ruang fiskal untuk melakukan intervensi menjaga stabilitas.

Memang benar dunia sedang tidak baik-baik saja.

Suku bunga Amerika tinggi. Konflik geopolitik belum selesai. Jalur perdagangan dunia terganggu. Harga energi naik turun tidak menentu. Hampir semua negara berkembang mengalami tekanan mata uang.

Tetapi justru di tengah situasi global seperti itu, Indonesia masih bisa berdiri cukup tegak.

Mengapa?

Karena kekuatan ekonomi Indonesia hari ini tidak lagi sepenuhnya bergantung pada asing.

Kekuatan terbesar Indonesia justru ada di dalam negeri sendiri.

Pasar domestik kita besar. Konsumsi rakyat tetap hidup. UMKM bergerak di mana-mana. Anak-anak muda mulai membangun usaha. Hilirisasi mulai menciptakan nilai tambah. Industri nasional perlahan tumbuh. Dan bonus demografi sedang berada di depan mata.

Inilah kekuatan yang sering tidak terlihat oleh para penebar pesimisme.

Mereka terlalu sibuk melihat angka kurs di layar monitor, tetapi lupa melihat denyut ekonomi rakyat yang tetap berjalan setiap hari.

Warung tetap buka.

Pasar tetap ramai.

Pabrik tetap produksi.

Petani tetap menanam.

Nelayan tetap melaut.

Anak-anak muda tetap menciptakan peluang baru.

Itulah Indonesia sesungguhnya.

Karena itu masyarakat tidak perlu ikut panik berlebihan hanya karena dolar naik beberapa ratus rupiah.

Pelemahan rupiah memang harus diwaspadai. Pemerintah dan Bank Indonesia tentu harus bekerja ekstra keras menjaga stabilitas. Tetapi kepanikan massal justru bisa menjadi musuh yang lebih berbahaya daripada tekanan ekonomi itu sendiri.

Dalam ekonomi modern, persepsi publik sangat menentukan.

Jika rakyat percaya pada negaranya, badai sebesar apa pun bisa dilalui. Tetapi jika rakyat terus dicekoki rasa takut, maka tekanan kecil pun bisa berubah menjadi krisis besar.

Di titik inilah saya memahami pesan Prabowo Subianto.

Negara tidak boleh terlihat gentar menghadapi tekanan global.

Optimisme bukan berarti menutup mata terhadap masalah. Optimisme adalah keberanian menjaga harapan di tengah ketidakpastian. Optimisme adalah keyakinan bahwa bangsa ini memiliki kemampuan untuk berdiri di atas kaki sendiri.

Dan sesungguhnya arah menuju ke sana mulai terlihat.

Indonesia mulai berani mengurangi ketergantungan impor. Hilirisasi sumber daya alam terus didorong agar kekayaan negeri ini tidak lagi dijual murah ke luar negeri. Penggunaan mata uang lokal dalam transaksi internasional mulai diperluas. Industri strategis nasional mulai diperkuat.

Ini bukan pekerjaan sehari dua hari.

Tetapi bangsa besar memang dibangun melalui ketahanan menghadapi tekanan panjang.

Kita tidak mungkin menjadi negara maju jika setiap gejolak dolar langsung membuat kita kehilangan kepercayaan diri.

Karena sesungguhnya ukuran kekuatan sebuah bangsa bukan pada seberapa tenang dunia memperlakukannya, melainkan seberapa kokoh ia bertahan ketika dunia sedang bergejolak.

Dan Indonesia sudah berkali-kali membuktikan satu hal penting:

Negeri ini mungkin sering diragukan.

Tetapi selalu berhasil bertahan.

Hari ini Indonesia tidak sedang runtuh.

Indonesia sedang ditempa.

Sedang diuji mentalnya.

Sedang dipaksa naik kelas menjadi bangsa yang lebih mandiri, lebih kuat, dan lebih percaya pada kemampuannya sendiri.

Dan bangsa yang mampu melewati ujian seperti itulah yang pada akhirnya akan memimpin masa depan.

Nganjuk,18/05/2026

Tinggalkan Balasan