Jacob Ereste : Cinta, Kesetiaan dan Nasionalisme Kita Yang Tak Perlu Disesumbarkan, Tapi Cukup Diwujudkan Dalam Kehidupan

0
5 views
Bagikan :

Jacob Ereste : Cinta, Kesetiaan dan Nasionalisme Kita Yang Tak Perlu Disesumbarkan, Tapi Cukup Diwujudkan Dalam Kehidupan

TelusuR.ID – Kesetiaan dalam perkawanan acap kali menjelma menjadi persaudaraan yang panjang usianya, sebab telah ditempa oleh perjalanan waktu yang tidak sebentar. Namun waktu pula yang kelak akan menguji, apakah keabadian itu masih sanggup bertahan, atau justru harus berhenti di sebuah tikungan nasib yang tak pernah disangka. Dan ketika perpisahan itu datang, manusia hanya mampu menyimpan serpihan nostalgia — bukan sekadar untuk dikenang, melainkan untuk direnungi kembali, mengapa jalan yang dahulu dibangun bersama akhirnya harus berakhir dalam diam yang panjang.

Perpisahan yang sesungguhnya memang selalu menyisakan luka. Bahkan pada hubungan yang paling akrab sekalipun, takdir tetap memiliki hak mutlak yang tidak bisa digugat manusia. Sebab manusia hanyalah pelakon kecil di atas panggung kehidupan yang skenarionya telah lebih dahulu ditulis oleh Sang Maha Sutradara. Kita hanya menjalani bagian demi bagian dari kisah yang kerap bertukar arah tanpa aba-aba, kadang membahagiakan, kadang pula menyesakkan dada. Dan manusia, betapa pun merasa kuat dan berkuasa, tetap hanya sekadar berusaha memainkan perannya sebaik mungkin.

Karena itu, sesal dan kecewa adalah bagian yang wajar dari sebuah perpisahan yang tak pernah dikehendaki. Tetapi hidup tidak pernah memberi kesempatan untuk memutar ulang kejadian. Nasi yang telah menjadi bubur tidak mungkin kembali menjadi padi. Maka yang lebih penting adalah bagaimana menjadikan bubur itu tetap layak disantap, tetap memiliki rasa, meski hanya mampu dinikmati dalam pengertian batin yang paling sunyi. Sebab kehidupan, seperti pertunjukan sandiwara, tidak pernah berhenti hanya karena satu adegan berakhir. Tirai akan tetap terbuka untuk babak berikutnya, entah lebih memilukan atau justru lebih megah dari kisah sebelumnya.

Ada kalanya hidup menyerupai kapal tua yang perlahan karam di tengah laut ganas. Penumpangnya berhamburan menyelamatkan diri, sementara sang nakhoda tetap berdiri di ruang kemudi. Bukan karena ia tak takut tenggelam, melainkan karena ia memahami tanggung jawab moral yang tidak boleh ditinggalkan. Di situlah sesungguhnya makna kesetiaan menemukan martabatnya. Kesetiaan bukan sekadar slogan yang diteriakkan, tetapi keteguhan menjaga amanah ketika keadaan paling sulit sedang berlangsung.

Maka ketangguhan seorang stir man atau stir girl di kapal yang hampir tenggelam bukanlah sekadar simbol keberanian, melainkan cermin dari etika profesi dan moralitas yang tidak rela berubah menjadi pengkhianatan. Sebab pengkhianatan lahir ketika seseorang hanya ingin selamat sendiri, lalu meninggalkan yang lain dalam keterpurukan. Padahal dalam perkawanan, dalam relasi kerja, dalam perjuangan bersama, yang dibutuhkan bukan sekadar kecerdasan, tetapi kesediaan untuk tetap berdiri bersama di saat keadaan tidak lagi menguntungkan.

Kesetiaan memang tidak pernah mudah. Ia kerap menuntut pengorbanan, menagih tenggang rasa, bahkan menguji batas kesabaran yang paling dalam. Namun justru di situlah kemuliaannya. Sebab tenggang rasa yang dipahami dengan baik akan melahirkan kesadaran untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama. Dan dari sanalah lahir penghormatan yang membuat sebuah hubungan mampu bertahan melampaui waktu.

Dalam perkawanan yang saling memahami, dalam kemitraan yang saling menjaga perasaan, kekecewaan tidak dijadikan alasan untuk saling menjatuhkan. Sebaliknya, masing-masing pihak berusaha menjadi penawar bagi luka yang ditimbulkan bersama. Karena itu banyak hubungan mampu bertahan hingga usia senja, seperti suami istri yang tetap mesra melewati pesta perak dan pesta emas perkawinan mereka.

Kesetiaan pada akhirnya bukan hanya syarat dalam hubungan cinta dan rumah tangga. Ia juga menjadi fondasi dalam perkawanan, dalam dunia kerja, bahkan dalam hubungan antara rakyat dengan bangsanya sendiri. Nasionalisme yang sejati bukan sekadar pekik upacara atau pidato penuh semangat, melainkan kesediaan menjaga negeri agar tidak dijual murah oleh mereka yang hanya mencari untung untuk dirinya sendiri.

Karena itu kebangkitan nasional tidak cukup hanya diperingati setiap tahun dengan seremoni dan spanduk-spanduk pujian. Kebangkitan nasional harus hidup dalam perilaku sehari-hari: dalam kejujuran, dalam kepedulian, dalam keberanian menjaga marwah bangsa dari kerakusan dan pengkhianatan. Sebab cinta, kesetiaan, dan nasionalisme sejatinya tidak memerlukan terlalu banyak sumpah atau semboyan. Ia cukup diwujudkan secara nyata dalam kehidupan.

Banten, 20 Mei 2026

Tinggalkan Balasan