JOMBANG, TELUSUR.ID – Pengasuh Pondok Pesantren Queen Darul Ulum, Peterongan, KH Zahrul Azhar Asumta atau yang akrab disapa Gus Hans, memberikan catatan penting menjelang perhelatan Muktamar Nahdlatul Ulama (NU).
Gus Hans menekankan bahwa momentum ini merupakan titik krusial bagi perjalanan organisasi di abad kedua.
Menurut Gus Hans, Muktamar kali ini bukan sekadar agenda rutin lima tahunan, melainkan penentu arah NU di masa depan.
Ia menilai arah gerak organisasi di awal abad kedua ini harus dipikirkan secara matang agar tetap relevan dengan tantangan zaman.
“Muktamar ini adalah penentu di abad kedua Nahdlatul Ulama mau diarahkan ke mana,” ujar Gus Hans dalam sebuah wawancara eksklusif yang dilansir Telusur.id, Selasa (5/5/2026).
Oleh karena itu, Gus Hans menekankan pentingnya kehadiran sosok pemimpin yang memiliki karakter kuat dan menyejukkan. Sosok yang dibutuhkan adalah mereka yang santun namun memiliki kedalaman ilmu yang mumpuni untuk mengayomi seluruh lapisan warga Nahdliyin.
Tidak hanya sekadar berilmu, Gus Hans juga menyoroti aspek spiritualitas dan integritas calon pemimpin PBNU. Ia menyebutkan bahwa kriteria pemimpin masa depan haruslah memiliki jiwa wira’i atau kehati-hatian yang tinggi dalam menjaga diri dari hal-hal syubhat.
Selain itu, ia berpendapat bahwa Muktamar ini harus menjadi momentum perubahan drastis dalam struktur kepengurusan. Ia menginginkan adanya transformasi dari pola kepengurusan sebelumnya menuju tata kelola yang jauh lebih profesional dan bermanfaat bagi umat.
“Ini adalah momentum kita untuk merubah drastis dari kepengurusan yang sebelumnya menjadi kepengurusan yang jauh lebih baik lagi,” tegasnya dengan penuh keyakinan.
Gus Hans menambahkan, orientasi kepengurusan ke depan harus fokus sepenuhnya pada kepentingan keummatan dan kebangsaan. Hal ini penting agar NU tidak lagi terjebak dalam kepentingan sempit yang merugikan nama besar organisasi.
Secara spesifik, ia menyoroti agar PBNU tidak lagi menjadi wadah bagi kepentingan pribadi atau kelompok tertentu. Fokus tunggal pada pengabdian kepada bangsa dinilai sebagai kunci utama kejayaan NU di abad kedua ini.
Sehubungan dengan hal tersebut, Gus Hans memberikan saran tegas mengenai komposisi kepengurusan dan panitia. Ia berharap individu-individu yang pernah terlibat dalam konflik kepentingan di masa lalu tidak lagi dimunculkan.
“Paling bagus adalah ketika di Muktamar ini sudah tidak lagi dimunculkan orang-orang yang pernah berkonflik di belakang hari,” lanjutnya memberikan masukan konstruktif.
Langkah ini dianggap krusial untuk melahirkan wajah NU yang baru dan lebih segar. Dengan meminimalisir figur-figur “lama” yang sarat konflik, diharapkan NU dapat memulai babak baru dengan energi yang lebih positif.
Berkenaan dengan hak suara, Gus Hans menitipkan pesan kepada para Muktamirin atau pemilik suara di Muktamar nanti. Ia meminta mereka untuk menggunakan hati nurani dalam menentukan pilihan calon pemimpin.
Ia berharap para pemilik suara benar-benar selektif dalam memilih Rais ‘Aam dan Ketua Umum. Kriteria utamanya tetaplah pada integritas, rekam jejak, serta kemampuan manajerial yang baik.
“Mudah-mudahan para pemilik suara di NU menggunakan hati nurani untuk memilih tokoh-tokoh tersebut, minimal bagi Rais ‘Aam adalah orang yang memiliki wira’i dan keilmuan yang tinggi,” tuturnya.
Gus Hans mendambakan sosok Rais ‘Aam yang setiap ucapan dan pidatonya dapat menjadi rujukan serta pegangan bagi warga NU. Sementara itu, untuk posisi Ketua Umum, ia berharap pada sosok organisatoris yang fokus pada pembinaan masyarakat.
Sejurus dengan itu, ia menekankan bahwa Ketua Umum terpilih nantinya tidak boleh lagi memikirkan kepentingan pribadi. Fokus pembinaan masyarakat Nahdliyin di seluruh pelosok harus menjadi prioritas utama kerja-kerja organisasi ke depan.
Sebagai penutup, Gus Hans mengingatkan seluruh elemen NU untuk kembali mengingat “ibu kandung” organisasi, yakni pesantren. Baginya, semangat pesantren harus tetap menjadi landasan utama dalam setiap pengambilan keputusan di Muktamar agar keberkahan organisasi tetap terjaga.



