Napak Tilas Sejarah Abad Kedua, Surabaya Dinilai Paling Layak Jadi Tuan Rumah Muktamar ke-35 NU

0
38 views
Bagikan :

SURABAYA, TELUSUR.ID – Gelaran Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35 yang dijadwalkan berlangsung pada Agustus tahun ini mulai memicu diskusi hangat terkait penentuan lokasi tuan rumah. Forum tertinggi organisasi yang akan diawali dengan Munas Alim Ulama dan Konbes NU pada April ini, dipandang sebagai momentum krusial bagi perjalanan awal abad kedua NU.

Struktur kepanitiaan pusat pun telah resmi terbentuk dengan Sekjen PBNU yang juga Menteri Sosial, Saifullah Yusuf (Gus Ipul), didapuk sebagai Ketua Panitia Pelaksana (OC). Sementara itu, posisi Panitia Pengarah (SC) dipercayakan kepada KH Ahmad Said Asrori bersama Prof. Mohammad Nuh untuk mengawal substansi agenda besar tersebut.

Meski kepanitiaan sudah bekerja, lokasi pasti Muktamar ke-35 hingga kini belum diputuskan secara resmi oleh PBNU. Sejumlah daerah mulai menawarkan diri, mulai dari usulan Bupati Mas Rio untuk digelar di Situbondo, aspirasi dari Lirboyo Kediri, hingga surat resmi kesiapan yang dilayangkan oleh PWNU Nusa Tenggara Barat (NTB).

Namun, Ketua Umum Forkom Jurnalis Nahdliyin (FJN), Muhamad Didi Rosadi, menilai Kota Surabaya memiliki keunggulan komparatif yang sulit tertandingi. Menurutnya, Surabaya adalah pilihan paling rasional dan layak untuk menggelar Muktamar kali ini, didukung oleh jaminan kesuksesan dari pemerintah daerah setempat.

Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, tercatat telah berulang kali melontarkan kesiapannya sejak tahun 2021. Niat tersebut bahkan disampaikan langsung kepada Ketua Umum PBNU, KH Yahya Cholil Staquf, sebagai bentuk komitmen Kota Pahlawan dalam menyambut kembalinya ajang tertinggi warga Nahdliyin ke tanah kelahirannya.

Dukungan politik dan logistik di Jawa Timur juga diprediksi akan sangat solid di bawah kepemimpinan Gubernur Khofifah Indar Parawansa. Rekam jejak Khofifah dalam menyelenggarakan event kolosal seperti Satu Abad NU di Sidoarjo hingga Mujahadah Kubro di Malang yang dihadiri Presiden Prabowo Subianto, menjadi garansi nyata bagi keberhasilan acara.

Secara garis besar, terdapat dua variabel utama mengapa Surabaya layak menjadi tuan rumah, yakni faktor historis dan teknis. Dari sisi historis, Surabaya adalah “rahim” tempat NU dilahirkan dan dideklarasikan pada 31 Januari 1926 silam, sekaligus lokasi kantor PBNU pertama berdiri.

Muktamar NU ke-35 di Surabaya akan menjadi napak tilas sejarah yang emosional. Mengingat Muktamar NU pertama pun digelar di kota ini pada Oktober 1926, saat Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari terpilih sebagai Rais Akbar dan Haji Hasan Gipo dipercaya memimpin Tanfidziyah sebagai Ketua Umum pertama.

Selain itu, Surabaya menyimpan memori Resolusi Jihad yang dicetuskan di Jalan Bubutan pada 22 Oktober 1945, yang kini diperingati sebagai Hari Santri Nasional. Semangat inilah yang menjadi bahan bakar para pemuda dan santri dalam peristiwa heroik 10 November untuk mengusir tentara sekutu.

Secara teknis, sebagai kota metropolis dan ibu kota provinsi, Surabaya memiliki kesiapan infrastruktur yang sangat mumpuni. Akses transportasi bagi jutaan Nahdliyin yang akan datang—baik sebagai peserta (muktamirin) maupun penggembira—tersedia lengkap mulai dari jalur darat, laut, hingga udara.

Surabaya ditunjang oleh dua stasiun besar, Gubeng dan Pasar Turi, serta Terminal Purabaya yang melayani trayek antarprovinsi. Kehadiran Bandara Internasional Juanda dan Pelabuhan Tanjung Perak semakin memudahkan mobilisasi tamu VVIP maupun peserta dari luar pulau dan luar negeri.

Fasilitas akomodasi di Surabaya juga sangat melimpah, mulai dari hotel bintang lima hingga Asrama Haji yang representatif. Keberadaan jaringan jalan tol yang terintegrasi di Jawa Timur pun semakin mempermudah perjalanan darat bagi rombongan dari berbagai daerah di Pulau Jawa.

Untuk lokasi rangkaian acara, Surabaya menawarkan banyak pilihan tempat megah, seperti Stadion Gelora Bung Tomo (GBT) hingga Airlangga Convention Centre. Berbagai aula kampus ternama seperti Unair, ITS, Unesa, hingga UINSA siap menjadi venue yang mendukung jalannya sidang-sidang komisi Muktamar.

Dengan segala kesiapan tersebut, Kota Pahlawan dinilai memenuhi seluruh syarat sebagai tuan rumah yang mampu menampung antusiasme jutaan Nahdliyin. Kembalinya Muktamar ke Surabaya diharapkan tidak hanya menjadi ajang suksesi kepemimpinan, tetapi juga penguatan jati diri NU di awal abad kedua pengabdiannya.

Tinggalkan Balasan